Ini 8 Pintu Rezeki dalam al-Qur'an
Ilustrasi

Rezeki, menurut kebanyakan orang, sering sekali diartikan sebagai mendapatkan uang yang dihasilkan dari usaha atau bekerja secara maksimal. Padahal, yang demikian itu adalah salah satu diantara bentuk dan jalan mendapatkan rezeki. Terkadang, kita sebagai manusia sering khilaf dan marah pada Allah. Kita seringkali beranggapan bahwa doa dan ikhtiar sepanjang malam merupaka hal yang sia-sia, karena Allah tidak memberikan uang yang banyak pada kita.

Kesehatan yang Allah berikan kepada kita, kemampuan berjalan, menghirup udara sebebas-bebasnya, itu semua merupakan rezeki dari Allah. Allah anugerahkan semua itu kepada kita dan harus disyukuri. Memiliki keluarga yang sangat penyayang, memiliki istri atau suami yang baik, dan memiliki anak pun merupakan rezeki yang diberikan Allah pada hamba-Nya.

Rezeki yang Allah turunkan kepada kita bukan hanya berupa uang untuk kebutuhan hidup mewah. Allah telah memberikan banyak sekali rezeki yang tidak disadari oleh kita. Terkait rezeki, al-Qur’an dengan gamblang menjelaskan secara rinci, baik cara mendapatkannya hingga macamnya. Beberapa jalan rezeki yang Allah anugerahkan kepada hambanya, sudah diattur dalam al-Qur’an. Berikut penjelasannya.

Pertama, tentang rezeki yang telah dijamin. Dalam surat Hud ayat 6, Allah berfirman: “Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya.”

Menurut tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, diterangkan bahwa ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satu jenis binatang melata yang ada di bumi, di laut atau di udara kecuali semuanya dijamin oleh Allah. Rezekinya, kebutuhan kehidupannya, makanan yang sesuai dengannya.

Mungkin ada sebagian orang yang heran bahwa yatim piatu, yang ditinggal oleh Bapak dan Ibunya bisa bertahan hidup, bahkan sampai besar dan menghidupi keluarga dan anaknya. Panti Asuhan menjadi salah satu bukti bahwa Allah menjamin rezeki anak-anak yatim piatu tersebut melalui perantara orang lain.

Bahkan hewan seperti Laba-laba pun bisa hidup, padahal ia ‘hanya’ mengandalkan ada hewan lain masuk dalam perangkap jaring yang dibuatnya.

Kedua, Rezeki yang didapat karena usaha. Allah berfirman “Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.”(Qs. an-Najm ayat 39).

Baca Juga  QS. an-Nisa' ayat 66

Melalui ayat ini, Allah hendak menegaskan bahwa, jika manusia ingin mendapatkan  rezeki, maka berusahalah (berkerjalah) dengan penuh keuletan dan selalu mengawali seluruh aktivitas dengan niat karena Allah.

Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini bermaksud menjelaskan pahala amal-amal saleh dan ganjaran setiap bentuk amal yang dilakukan oleh hamba-Nya. Amal shaleh diberi pahala, dan amal buruk diberi hukuman.

Usaha maksimal dan penuh keseriusan merupakan jalan kedua memperoleh rezeki. Dengan demikian, jika Anda berusaha secara maksimal (bekerja keras) karena Allah, maka rezeki akan menyertai Anda.

Ketiga, Rezeki datang karena adanya rasa syukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”(Qs. Ibrahim ayat 7).

Barangkali ada sebagian dari kita yang tidak percaya atau enggan percaya bahwa syukur atau bersyukur akan menambah rezeki seseorang. Wahbah az-Zuhaili, ulama kenamaan dalam magnum opusnya menegaskan bahwa ayat ini menjelaskan bahwa syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat atau rezeki. Sedangkan kufur menjadi sebab berkurangnya nikmat atau rezeki.

Syukur adalah ungkapan pengapresiasian nikmat yang disertai dengan memuliakan pihak yang memberi nikmat serta bertindak yang sesuai dan mencerminkan hal tersebut. Misalnya, kita sudah bekerja keras dan mendapat upah, walaupun upah yang didapat tidak banyak, karena kita mensyukurinya, maka akan menambah keberkahan dan kemanfaatan.

Keempat, Rezeki yang tidak terduga. Allah berfirman “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Qs. at-Thalaq: 2-3).

Kandungan ayat ini adalah, bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah SWT, pada apa yang diperintahkan, meninggalkan apa yang Dia larang, menjunjung tinggi dan tidak melanggar batasan-batasan yang telah Allah gariskan, niscaya Dia akan berikan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Serta memberi rezeki dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Ini menjadi dalil bahwa ketakwaan adalah jalan keselamatan dan berbagai kebutuan, situasi kritis, kesempitan, kesulitan, himpitan, kesusahan, kesedihan, duniawi dan ukhrawi serta ketika mati. Ketakwaan juga menjadi sebab yang mendatangkan rezeki yang baik, halal, dan luas yang tidak disangka-sangka dan diprediksikan.

Baca Juga  10 Doa Orangtua untuk Anaknya Agar Menjadi Anak yang Sholeh dan Sholehah

Kelima, Rezeki datang karena istighfar. Firman Allah SWT dalam Qs. Nuh: 10-11, “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, Sesungguhnya Dia adalah maha pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”

Asbabun Nuzul ayat ini adalah saat Nabi Nuh memohon pada Allah agar turunkan hujan lebat karena sudah lama paceklik. Ayat ini memberi petunjuk bahwa istighar menyebabkan bertambahnya berkah dan pertumbuhan.

Ayat ini juga sebagai dalil bahwa istighfar adalah salah satu sebab turunnya hujan dan terjadinya berbagai macam rezeki. Oleh sebab itu, pada ayat ini istighfar diperintahkan pada shalat istisqa. Sebagaimana ayat ini, yang menunjukkan bahwa iman kepada Allah adalah menghimpun bagi mereka nikmat yang melimpah dan akhirat serta kesuburan dan kekayaan dunia.

Keenam, Rezeki datang karena menikah. Firman Allah SWT “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada dengan karunia-Nya.” (Qs. an-Nur: 32).

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai landasan dalil bahwa tidak boleh memutus ikatan pernikahan hanya karena alasan kesulitan ekonomi hingga menyebabkan tidak bisa memberikan nafkah.

Dalam ayat ini, Allah SWT tidak menjadikan kemiskinan sebagai penghalang untuk menikahkakan, maka secara prioritas kemiskinan juga tidak bisa menjadi penghalang keberlangsungan ikatan pernikahan yang telah ada. Ayat ini juga bisa dipahami bahwa dianjurkan kepada orang yang miskin agar tetap berani melangkah untu menikah walaupun ia belum memiliki biaya yang mencukupi dalam membangun rumah tangga. Karena dalam ayat ini juga Allah telah menjamin kekayaan padamu dari karunianya, jika Dia menghendaki.

Ketujuh, Rezeki karena anak. Firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu membunu anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (Qs. al-Isra’: 31).

Baca Juga  Doa Kecukupan Rezeki

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dibandinga seorang ayah kepada anaknya sendiri. Oleh karena itu, Allah melarang orang tua khawatir tidak bisa memberi nafkah pada anak karena semua di tanggung Allah, apalagi membunuh anaknya.

Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia bertanya tentang dosa apa yang paling besar, kemudian Rasulullah menjawab bahwa dosa yang paling besar adalah dosa orang yang menyekutukan Allah SWT. kemudian Ibnu Mas’ud mananyakan lagi selain menyekutukan Allah, kemudian dijawab bahwa dosa besar selain itu adalah membunuh anak sendiri karena takut ia akan ikut makan denganmu.

Kedelapan, Rezeki karena sedekah. Firman Allah dalam Qs. al-Baqarah ayat 245, “Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak dan sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” Contoh pada masa kenabian Infak di jalan Allah, ketika Allah memerintahkan jihad dan perang untuk menegakkan kebenaran, Dia pun menghimbau agar kita berinfak untuk hal itu. Karena menyiapkan pasukan membutuhkan biaya yang besar, dan infak di jalan Allah mendatangkan pahala yang besar, seperti yang dilakukan Utsman r.a dengan membiayai jaisyul-‘usrah (Pasukan Islam dalam perang Tabuk).

Oleh sebeb itu, berinfaklah tanpa banyak pertimbangan. Karena Allahlah yang akan memberi rezeki. Dia menyempitkan rezeki bagi hamba-hamba yag dikehendaki-Nya dan melapangkan bagi hamba-hamba yang lain. Yakinlah bahwa dengan bersedekah dan infak kekayaan yang kita milikisaat ini tidak akan habis, justru akan bertambah berlipat ganda.

Dialah Maha Pengasih dan Maha Adil pada seluruh makhlukn-Nya. Dia memberi rezeki tidak hanya berupa uang, akan tetepi lebih dari itu. Dengan cara-Nya dan tentu sesuai kebutuhan kita. Dia memberikan rezeki yang tidak dapat dinilai hanya dengan uang. Kepada-Nyalah tempat kembali, maka kerjakanlah amal yang saleh, niscaya kita semua akan mendapat ganjaran ketika kembali pada Allah SWT di akhirat.

Oleh: Nazil Mukhsinal Khikma, mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang.

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Ayah, Pahlawan Tanpa Gelar Tapi Berkontribusi Besar

Previous article

Menanti Realisasi Janji Jokowi

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Doa