Sebelum adanya era Renaissance, Eropa mengalami periode yang sangat tragis. Periode ini terjadi pada abad pertengahan yaitu abad ke 5 sampai abad ke 15, peristiwa ini disebut sebagai abad kegelapan atau Dark Ages. Peristiwa ini disebabkan oleh kuatnya posisi gereja di segala aspek kehidupan masyarakat Eropa. Masyarakat tidak memiliki hak dalam menyebarkan pengaruhnya di negara itu. Artinya, semua ketentuan-ketuantuan yang akan atau sudah dibuat oleh masyarakat tidak boleh melebihi pengaruh dari pihak gereja. Oleh karena itu, pada periode ini tidak banyak melahirkan tokoh-tokoh elite dalam bidang ilmu pengetahuan, terkhusus pada ilmu pengetahuan modern. Abad ini sering diartikan sebagai abad kekuasaan agama. Segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan agama dicap sebagai pelanggar hukum, yang berakibat pada tidak berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat empiris dan tidak ditemukannya teori-teori baru. Seluruh masyarakat hanya boleh mengandalkan teori-teori lama yang ada di gereja. Pada saat itu, sering juga terjadi peperangan, tingkat kelaparan tinggi yang disebabkan oleh tertutupnya sistem perekonomian yang dikuasai oleh penguasa, dan pandemi yang mengakibatkan hancurnya populasi di Eropa.
Saat ini, Indonesia sedang menghadapi hal yang sama. Pertama mengenai peperangan. Tanpa kita sadari Indonesia sering terjadi peperangan antar bangsa itu sendiri. Contohnya dalam hal keimanan, banyak sekali oknum-oknum yang terlalu fanatik kepada kelompoknya, sehingga menimbulkan sikap saling menjelek-jelekkan. Padahal, negara Indonesia mempunyai semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda namun tetap satu jua. Semboyan ini memiliki makna yang sangat dalam apabila kita benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah sifat kekeluargaan. Dalam pikiran kita, keluarga merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan tanpa adanya rasa pamrih ataupun yang lainnya. Jika negara ini mengimplementasikan nilai-nilai kekeluargaan, maka negara ini akan aman dari peperangan yang hanya mempertahankan kelompoknya. Negara ini bisa kuat jika masyarakatnya saling terikat. Negara ini bisa hancur jika masyarakatnya kufur. Sebagai warga negara yang bijak, sudah seharusnya bisa bersikap toleran kepada seluruh elemen yang ada di negara ini. Selain itu, hal yang sering terjadi di negara ini yaitu berperang menggunakan media sosial. Banyak sekali orang-orang yang menggunakan media sosialnya untuk hal-hal yang tidak baik. Misalnya mencemarkan nama baik yang menimbulkan terjadinya perang antar saudara. Hal ini juga disebabkan karena bedanya persepsi pada tiap-tiap orang yang sering menimbulkan perpecahan berkelanjutan.
Kedua, tingkat kelaparan yang sangat tinggi. Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Akan tetapi, sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam yang ada di negara ini belum dikelola secara baik. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kapitalis-kapitalis yang mempermainkan dan memanfaatkan sumber daya alam ini. Pada tahun 2021, Global Hunger Index (GHI) menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke 3 di Asia Tenggara dengan skor indeks sebesar 18 poin. Skor ini sudah berada di atas rata-rata global sebesar 17,9 poin. Indonesia termasuk dalam level moderat. Sedangkan negara dengan tingkat kelaparan terendah yaitu Thailand. Skor indeksnya hanya 11,7 poin. Faktor lain yang dapat menyebabkan tingkat kelaparan tinggi adalah kurangnya kesiapan dalam menghadapi perubahan iklim. Joe Mzinga, juru bicara ESAFF di Afrika mengatakan bahwa apabila dalam suatu negara itu ketergantungannya hanya dengan satu bidang saja, maka akan sulit untuk mendapatkan sumber penghasilan. Menurut Dr. Moh. Nasih M.Si, direktur peternakan dan perkebunan mengatakan bahwa setiap individu harus memiliki minimal tujuh atau lebih sumber penghasilan. Jika satu sumber penghasilan mengalami penurunan, maka masih ada sumber penghasilan lainnya yang dapat menopang roda kehidupan.
Ketiga,pandemi yang menghancurkan sumber daya manusia di muka bumi. Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia digegerkan dengan pandemi Covid 19 yang banyak mematikan manusia. Covid adalah jenis penyakit menular yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, infeksi paru-paru dan berujung pada kematian. Penyakit ini pertama kali terjadi di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019 kemudian menyebar dengan sangat cepat ke beberapa negara termasuk Indonesia. Menurut data yang dirilis oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, jumlah kasus yang tercatat positif terjangkit penyakit hingga 21 Juni 2022 ada 6.069.255 orang dengan jumlah kematian mencapai 156.695 jiwa.
Wallahu a’lam bi al-shawab





