ramadhan dan helm

Bagi sebagian kita, helm adalah salah satu alat kelengkapan kendaraan yang harus dipakai oleh siapa saja yang mengendarai kendaraan. Dipakai di kepala. Bertujuan melindungi kepala kita agar tidak terkena bahaya saat berkendara.

Namun ternyata, helm tidak hanya digunakan oleh mereka yang berkendara. Helm juga digunakan untuk aktifitas lainnya. Selama ini yang kita ketahui helm hanya untuk kendaraan bermotor. Di beberapa negara Eropa, helm wajib dipakai bagi mereka yang naik sepeda. Helm juga dianjurkan bagi mereka yang suka kegiatan outbond, mountain biker, skateboarder, inline skater dan juga para pengguna sepeda BMX. Helm juga dipakai oleh para pekerja proyek pembangunan rumah, gedung, jalan dan juga di pertambangan. Dan helm juga dipakai untuk para tentara. Sebagai atribut perang. Bahkan awal mula adanya helm adalah helm perang.

Helm yang baik adalah helm yang tidak hanya menutupi kepala. Tapi juga benar-benar ada standarnya. SNI bahasa lainnya. Seperti bagian lapisan luar helm yang harus keras, bagian lapisan dalam helm yang tebal dan bagian lapisan dalam helm yang lunak. Semua itu harus dipenuhi.

Ingat. Helm ini tidak cukup hanya dipakai saja seperti topi atau peci. Ada perlengkapan helm yang harus kita perhatikan. Yaitu ketika memakai helm perlu kita pastikan “klik” pada bagian tali pengikatnya untuk kepastian kegunaan dari helm ini. Agar kepala kita benar-benar aman. Tali pengikat helm ini sangat penting.

Intinya, helm berfungsi untuk menjaga dan melindungi kepala kita.  Helm tidak hanya digunakan oleh seseorang yang cidera kepala, tapi juga untuk kepala sehat. Karena helm akan meminimalisis segala hal buruk yang akan menimpa kepala kita. Kepala kita adalah salah satu organ penting. Harus dilindungi. Helm adalah pelindung, penutup kepala kita. Dalam Kamus Bahasa Arab Modern, bahasa Arab helm adalah migfarun (مِغْفَرٌ), terambil dari kata gafara (غَفَرَ) yang berari menutup. Kata gafara ini sering kali diartikan oleh sebagain masyarakat muslim Indonesia dengan makna mengampuni.

Kata gafara dengan makna mengampuni ini bisa kita temukan pada salah satu dalil puasa yang bersumber dari hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Siapa saja puasa Ramadlan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka bagi yang melaksanakannnya akan diampuni atas dosa yang telah lampau.

Tujuan Puasa itu Menjaga dan Melindungi

Mungkin para pembaca masih pensaran, apa hubungan helm dengan puasa? Agar tidak penasaran, mari kita analisa hadits di atas. Hadits di atas berbicara tentang tujuan puasa. Berdasarkan hadits di atas tujuan puasa adalah agar kita mendapatkan magfirah Allah Swt. Kata magfirah seringkali diartikan ampunan. Kata magfirah terambil dari kata gafara yang memiliki banyak makna.

Baca Juga  Simbiolisme Simbol Tak Bersimbol

Ada yang menerangkan bahwa gafara adalah sejenis tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai obat dari suatu penyakit. Jika menggunakan pendekatan arti ini, maka berarti Allah mengobati penyakit-penyakit kejiwaan manusia.

Dosa itu adalah kegelapan. Dosa itu kerisauan di dalam hati. Dosa itu adalah sesuatu yang mengganggu pikiran dan hati. Nah, kalau dosa “diobati” maka hati menjadi tenang dan pikiran menjadi terang, ketika itulah Allah berarti telah mengobati seseorang yang sedang risau hatinya karena dosa-dosa yang dilakukannya.

Ada juga yang mengatakan bahwa gafara berarti menutup. Magfirah Allah berarti Allah menutupi dosa hamba-hambanya. Lalu, apa maksud dari menutup?

Perlu kita ketahui, bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Perbuatan baik dalam hal ini amal shalih ada konsekuensinya. Seperti: siapa yang shalat, maka konsekuensinya dia akan mendapatkan ketenangan hati; siapa yang shalat konsekuensinya dia akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar;  siapa yang shadaqah, maka konsekuensinya akan dijauhkan dari marabahaya; siapa yang silaturrahim, konsekuensinya akan dipanjangkan umur. Dan konsekuensi bagi mereka yang beramal shalih yang paling sangat diharapkan adalah mendapatkan nikmat surga.

Begitu pula perbuatan maksiat. Juga ada konsekuensinya. Ibnu Qayyim pernah berkata, bahwa banyak sekali konsekunsi yang didapatkan bagi mereka yang maksiat, antara lain: doa tidak diijabah, tidak mendapatkan ketenangan dalam beribadah kepada Allah, dan konsekuensi yang paling berat adalah masuk neraka. Ibnu Qayyim juga menambahan bahwa konsekuensi dari orang yang maksiat adalah hati yang sakit. Dari hati yang sakit ini menimbulkan jiwa yang sakit dan berakibat pada badan yang sakit.

Kita adalah manusia. Bukan Nabi dan Rasul. Maka tentu kita tidak luput dari melakukan kesalahan dan maksiat. Maka agar kita tidak terkena konsekuensi dari maksiat kita, kita perlu meminta magfirah Allah Swt. Maksud dari kita meminta magfirah Allah adalah kita memohon kepada Allah Swt supaya dampak negatif dari maksiat yang kita lakukan, baik dampak negatif yang ada di dunia dan terutama dampak yang ada di akhirat, Allah menutupinya. Sehingga kita selamat. Layaknya helm yang menyelamatkan dari marabahaya.

Puasa ibarat helm kita, namun sebenarnya lebih agung puasa daripada helm. Karena puasa dengan magfirah Allah bisa menutup kita dari konsekuensi maksiat yang kita lakukan. dengan puasa kita terlindungi dari konsekuensi maksiat di dunia dan akhirat. Adapun helm hanya menutupi kita dari bahaya dunia saja. Dengan magfirah puasa kita juga dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang terhindar dari siksa Allah di dunia dan akhirat, yang dalam bahasa al-Qur’an menggunakan redaksi muttaqin. Kata muttaqin seringkali diartikan dengan orang yang bertakwa. Takwa secara bahasa berarti menghindar. Maksudnya menghindarkan diri kita dari segala macam sanksi dan dampak buruk, baik duniawi maupun ukhrawi. Maka tepatlah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 183, Allah Swt berfirman tentang tujuan dari puasa yaitu menjadikan kita insan yang bertakwa.

Baca Juga  Berjuanglah di 10 Terakhir Bulan Ramadhan

Iman dan Ihtisab

Helm yang boleh dipakai tentu ada ketentuannya. Agar mendapat magfirah Allah di bulan puasa ini, juga ada ketentuannya. Ketentuannya adalah menjalankan puasa dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah).

Menjalankan ibadah puasa dengan iman. Menurut hemat penulis, caranya adalah berpuasa dengan pengamalan enam rukun iman.

Pertama, iman kepada Allah. Dengan penuh kesadaran, kita katakan kepada diri kita bahwa puasa ini adalah perintah Allah, kewajiban dari Allah. Kita harus lakukan ibadah puasa ini hanya untuk Allah dan kita sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah ini terkhusus bagi Allah.

Perlu diketahui bahwa amal ibadah selain puasa, terdapat unsur pengaruh pihak lain ketika kita melakukannya. Seperti shalat, zakat (termasu juga shadaqah dan infaq), dan ibadah haji (juga umrah). Ibadah ini bisa dilihat oleh manusia. Hanya puasa yang tidak terlihat dan hanya kita (pelaku) dan Allah yang tahu. Maka harus ada kesadaran utuh bahwa ibadah puasa yang kita lakukan hanya untuk Allah. Jika kita mampu melakukannya, maka sempurnalah iman kita kepada Allah Swt. Karena ketika seseorang berpuasa hanya untuk Allah, dia akan mengalahkan semua keinginan yang ada dalam dirinya. Saat kita sedang berpuasa lalu ada yang membangkitkan amarah kita, dan kita sadar bahwa kita puasa karena Allah, maka kita tidak akan mudah tersulut emosi, bahkan akan berkata “saya sedang berpuasa”. Orang yang berpuasa akan lebih mementingkan Allah Swt.

Kedua, iman kepada Malaikat. Kita harus menubuhkan kesadaran kita adanya malaikat. Di bulan Ramadlan malaikat banyak turun ke bumi. Malaikat turun ke bumi untuk mendoakan manusia. Jika kita ingin mendapatkan doa-doa malaikat tersebut, maka kualitas dan kuantitas ibadah puasa kita harus kita sempurnakan. Inilah wujud kesadaran iman kepada malaikat. Malaikat ada yang bertugas mencatat amal ibadah kita. Ketika kita memiliki kesadaran iman kepada malaikat, tentu ibadah puasa yang kita lakukan akan terus naik kualitasnya. Kita tidak ingin dilaporkan oleh malaikat, bahwa amal kita tidak semakin baik. Ini juga sebagai wujud kesadaran perlunya penanaman iman kepada malaikat.

Baca Juga  Surat Al-Kāfirūn Menolak Toleransi

Ketiga, iman kepada kitab-kitab. Al-Qur’an turun di bulan Ramadlan. Rasulullah Saw. selama hidupnya selalu mengkhatamkan bacaan al-Qur’an di bulan Ramadlan. Rasullah Muhammad Saw. adalah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sangat memberi apresiasi yang laur biasa kepada al-Qur’an. Kalau kita ingin benar-benar sempurna iman kita kepada kitab-kitab Allah khususnya al-Qur’an, maka kita pun harus memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya, minimal membaca al-Qur’an, bagus lagi kita bisa mengkajinya dan luar biasa lagi jika kita mampu mengamalkannya.

Keempat, iman kepada para Nabi dan Rasul. Terutama kepada Nabi Muhammad Saw. Caranya adalah berpuasa semirip mungkin dengan Nabi Muhammad Saw. Apa saja yang dilakukan Nabi Muhammad selama beliau menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlann agar kita bisa mengikuti semuanya. Sebagai bukti kita, cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Salah satu hal amal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. melebihi kualitasnya di luar bulan Ramdlan adalah bersedekah.

Kelima, iman kepada hari Kiamat. Orang yang iman dengan hari Kiamat berarti iman akan adanya hari pembalasan. Iman adanya balasan berupa surga bagi yang melaksanakan perintah Allah dan balasan neraka bagi mereka yang melanggar perintah Allah. Jika kita ingin mendapatkan surga, di bulan Ramadlan ini, kita sempurnakan ibadah puasa kita.

Keenam, iman kepada Qadha dan Qadar. Pada bulan ramadlan ada satu malam yang disebut Lailah al-Qadr. Sebagaian ulama’ menyebut bahwa pada malam ini ditentukan takdir manusia. Jika kita ingin mendapatkan takdir yang baik, maka kita pun harus dengan kesadaran agar bisa mengisi kegiatan pada bulan Ramadlan dengan ibadah yang berkualitas.

Dan setelah enam rukun iman bisa kita amalkan, lalu kita sempurnakan dengan ihtisaban. Maksudnya adalah upaya untuk mengharap pahala dari Allah Swt. Motif kita dalam berpuasan hanyalah untuk mencari ridla Allah Swt. Orang yang ihtisaban selalu berpikir, bagaimana caranya selalu mendapatkan pahala Allah. Dia tidak ingin waktunya sia-sia. Saat dia sedang nganggur, ada al-Qur’an disampingnya, lalu dia pun membaca al-Qur’an. Jangan sampai tidak dapat pahala. Apalagi pahala di bulan Ramadlan melebihi di bulan lainnya. Ibadah sunnah menjadi bernilai wajib, ibadah wajib dikalikan berkali-kali lipat pahala wajibnya.

Maka laksanakanlah puasa ini dengan iman dan mengharap pahala dari Allah. Dua-duanya harus dilaksanakan dengan kesempurnaan dari kekuatan dan kemampuan kita, sehingga kita berharap semoga Allah Swt benar-benar mendapatkan magfirah Allah Swt dan kita termasuk kategori muttaqiin. Aaamiin.

Muhammad Abu Nadlir
Direktur Monash Institute Semarang

    Kekasih Impian

    Previous article

    Membangun Negeri dengan Keadilan

    Next article

    You may also like

    1 Comment

    1. Selamat pagi kawan…

    Ruang Diskusi