Hafal Saja Tidak Cukup

Baladena.ID/Istimewa

Al-Qur’an merupakan petunjuk, sumber ilmu, dan pedoman bagi orang yang beriman dan berakal. Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an dengan bahasa arab agar lebih mudah memaminya dan lebih mudah untuk menghafalkannya. Sebagaimana tertuang dalam firman Allah: “Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa arab agar kalian me-mahaminya.” (QS. Yusuf: 2) dan juga pada ayat: “Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Qamar: 17)

Pemaparan ayat di atas menunjukan keutamaan memahami al-Qur’an. Namun sebelum dipahami, ayat tersebut mesti dahulu di hafalkan. Atau bisa juga sebaliknya. Seperti yang dikatakan Abana Mohammad Nasih, memahami untuk menghafalkan dan menghafalkan untuk memahami. Barulah setelah itu dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi seorang hafidz/hafidzah (orang yang menjaga) adalah pilihan. Tidak semua umat muslim sanggup akan hal tersebut. Dari jutaan umat muslim di Indonesia, tidak lebih dari 0,3 persen saja yang hafal al-Qur’an dan paham isi kandungannya. Hal itu menjadi salah satu alasan Mohammad Nasih mendirikan rumah bagi para penghafal al-Qur’an, Monash Institute Semarang. Mohammad Nasih yang kerab dipanggil Abah Nasih itu, berharap banyak muslim yang hafal al-Qur’an dan mengerti artinya di rumah tahfidz tersebut.

Mencetak kader muda yang hafal al-Qur’an serta paham akan maknanya, adalah salah satu cita-cita Abah Nasih. Namun, Abah Nasih mencoba mengubah sistem menghafal al-Qur’an yang awalnya setoran dan muraja’ah (mengulang hafalan) saja menjadi memahami al-Qur’an menggunakan metode I’rab al-Qur’an, setoran lalu muraja’ah. Selain memudahkan untuk menghafal, I’rab al-Qur’an juga dapat membuat daya ingat kita lebih kuat karena paham alur ceritanya.

Fenomena yang terjadi di kalangan mayoritas santri di Indonesia banyak yang telah cakap membaca, fasih menulis, bahkan sebagian santri telah selesai menghafal al-Qur’an. Akan tetapi mereka tidak terbiasa meng-i’rab susunan kalimat sederhana. Khawatirnya, ia salah dalam memaknai ayat al-Qur’an dan mengajar dengan salah pula, disebabkan masih ada keragu-raguan akibat tidak paham makna al-Qur’an. Kelemahan ini mendesak untuk segera dibenahi dengan memberikan keterampilan “plus” selain keterampilan membaca, menulis dan menghafal, juga keterampilan mengupas “isi” al-Qur’an melalui pendekatan i‛rāb al-Qur’an.

Abah Nasih dan para mentor (istilah guru di Monash Institute) mencoba untuk memahamkan para disciple (bahkan yang belum pernah menyandang status santripun) agar mampu memahami al-Qur’an dalam waktu yang sangat singkat, yakni maksimal sebulan. Dari mulai paham dasar ilmu nahwu sampai benar-benar bisa meng-I’rab al-Qur’an dengan lancar.

Di Monash Institute, sering diadakan forum atau kajian yang dipimpin langsung oleh Abah. Disciples biasa menyebutnya dengan istilah “Kajian Abah”. Sistem kajian dalam forum tersebut ialah disciple putra dan putri maju kedepan untuk dicek perkembangan I’rab al-Qur’an-nya. Jika dirasa masih kurang atau ada sesuatu yang mesti di diskusikan, kajian akan dihentikan dan Disciples diminta untuk membuat kelompok-kelompok I’rab al-Qur’an untuk menindaklanjutinya.

Abah Nasih selalu menekankan bahwa di Monash Institute semua harus bisa menjadi pengajar (mentor). Sebab ia memiliki pandangan bahwa belajar terbaik adalah dengan mengajar. Jika hal tersebut dilakukan, maka akan semakin mempercepat proses pembelajaran. Hal tersebut juga dilakukan untuk mengurangi sifat individualistik disciples dalam menghafal al-Qur’an. Pada intinya, menghafal itu tidak cukup hanya dengan membaca perorangan. Selain harus memahami maknanya, diperlukan suatu lonjakan dengan cara membantu orang lain (mengajar) yang belum mampu memahami ayat al-Qur’an. Dengan demikian Allah akan memudahkan dirinya untuk menghafal al-Qur’an, insya Allah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Halimah Sa’diyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *