Secara fitrah, Pendidikan dalam kaca mata Islam menganut paradigma integralistik, dalam makna keterpaduan antara aspek keilmuan serta keagamaan. Tertuang dalam Alquran dan Assunnah. Bahkan para ulama menyatakan, apabila kata ilmu disebutkan secara mutlak tanpa embel-embel, berarti ilmu syari (agama).
Apabila kata ilmu dan ulama dikaitkan suatu bidang tertentu, maka dia merupakan disiplin ilmu tertentu. Misalnya ilmu hitung (matematika), ilmu hayat (biologi), ilmu bumi (geografi), dan sebagainya. Namun, semua cabang ilmu tersebut memiliki pijakan dasar, baik dalam Alquran maupun Assunnah.
Fitrah keterpaduan antara ilmu dan agama, tertuang dalam ayat-ayat yang pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalamDia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq (96: 1-5).
Dengan lima ayat Alquran yang pertama turun itulah, Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabiyullah. Diutus untuk segala manusia di seluruh belahan bumi (kaffatan linnas, rahmatan lil alamin). Menariknya, bekal pertama yang diberikan Allah SWT kepada Muhammad SAW yang akan menjadi pembawa Risalah Islamiyah akhir zaman dan disempurnakan, adalah ajaran yang memadukan antara perintah membaca dengan landasannya, yakni menyebut asma Allah Ta’ala.
Perintah membaca yang tidak disertai objek baca tertentu, menunjukkan makna membaca dalam arti luas. Termasuk proses mendalami dan analisis atas apa yang dibaca. Sekaligus bagaimana implementasi dari bacaan tersebut dalam kegiatan kehidupan sehari-hari. Aktivitas membaca demikian adalah aktivitas keilmuan dan kecendekiawanan.
Lebih menarik lagi adalah perintah membaca, diiringi penyebutan asma Allah Ta’ala yang dapat dimaknai sebagai pengakuan akan keagungan Allah sang pencipta. Serta penyadaran diri akan siapa manusia dan siapa penciptanya. Selanjutnya diikuti ketundukan dan ketaatan terhadap Allah Ta’ala.
Ayat ketiga, keempat, dan kelima Surat Al-Alaq memberi penegasan bahwa, segala aktivitas keilmuan, mulai pandangan mengenai hakekat sesuatu (ontologi), pandangan mengenai sumber kebenaran dan metodologi dalam mendapatkan kebenaran ilmu (epistemologi), hingga pandangan mengenai mengapa dan untuk apa aktivitas keilmuan itu dalam kehidupan manusia (aksiologi) dan seterusnya, harus diiringi sikap tunduk dan taat kepada Allah Tuhan Sang Pemilik segala ilmu (al-‘Alim).
Epistemologi Integralistik
Tauhid adalah puncak ontologi Islam yang memadukan realitas gaib, empiris, dan rasional dengan perangkat keimanan, akal rasio, serta indrawi. Adapun epistemologi dalam Islam. memadukan sumber-sumber kebenaran dan metodologi keilmuan. Terdiri atas wahyu, akal. dan intuisi.
Adapun aksiologi dalam Islam, adalah berkembangnya ilmu dan riset keilmuan. Memberikan manfaat dan maslahat bagi kehidupan manusia, serta membentuk pribadi manusia yang semakin berilmu, tunduk, dan taat kepada Allah Ta’ala. Karena aktivitas berilmu adalah bagian integral dari ibadah kepada Allah Ta’ala sekaligus manifestasi dari khalifatullah fi al-ardh.
Artinya, Islam melalui Alquran mengajarkan keterpaduan wacana keilmuan dan keislaman. Mewujudkan pribadi manusia muslim yang utuh, serta memainkan peran sebagai hamba Allah (abdullah) dan petugas Allah untuk memimpin dan memakmurkan bumi dan seirinya (khalifah fil ardh).
Integrasi ilmu dam agama dalam Islam, merupakan keniscayaan. Karena Alquran diturunkan Allah ke bumi, sebagai pedoman hidup bagi semua manusia (hudan lin nas). Sekaligus mengandung petujuk pelaksanaannya (bayyinaatin min al-huda), serta menerangi manusia. Sehingga mampu memilah dan membedakan (al-furqan) mana yang baik dan benar (haq), yang buruk dan salah (batil). Sehingga keilmuan dan kecendekiawanan dapat melahirkan karya-karya yang membawa rahmat dan maslahat bagi kehidupan manusia seluruhnya. Sekaligus pengejawantahan dari tauhid dan ibadah kepada Allah.
Pengembangan Paradigma Integralistik
Para ilmuwan muslim memiliki cara dan metode tersendiri dalam mewujudkan integrasi wacana keilmuan dan keislaman ini. Ismail Raji al-Faruqi menggagas model Islamisasi Ilmu Pengetahuan modern. Karena menurutnya, ilmu pengetahuan era modern banyak dikembangkan oleh kalangan barat sekuler, yang tidak mengenal nilai-nilai ajaran Islam. Sehingga ilmu pengetahuan kehilangan ruhnya dalam memberikan maslahat dan kemanfaatan bagi umat manusia.
Syed Naquib Al-Attas menguatkan pandangan Al-Faruqi. Namun menekankan perlunya memasukkan celupan Islam dalam seluruh bangunan keilmuan. Dan celupan itulah yang disebutnya sebagai Islamic Worldview.
Cendekiawan muslim Indonesia Koentowidjojo menawarkan model integrasi ilmu dan agama. Menggagas paradigma Islam, yang kurang lebih memiliki kesamaan dengan Islamic Worldview-nya Al-Attas. Namun implementasi yang ditawarkan bukan Islamisasi ilmu pengetahuan. Namun pengilmuan Islam atau saintifikasi Islam.
Yakni menurunkan konsep-konsep yang terdapat dalam teks-teks ajaran Islam. Baik Alquran dan Assunnah dalam bangunan dan metodologi keilmuan meskipun tidak harus membawa label Islam. Sehingga konsep-konsep ajaran Islam diobjektivikasi. Serta mudah dicerna oleh semua pihak, baik muslim maupun nonmuslim.
Dua model integrasi ilmu dan agama tidak perlu dipertentangkan. Justru harus dipadukan lagi. Sehingga wacana keilmuan dan keislaman akan memperoleh bentuk yang optimal. Serta Menghasilkan kemaslahatan dan rahmah yang lebih luas untuk seluruh umat manusia, bahkan seluruh semesta alam (rahmatan lil alamin).
Ilmu integralistik yang dikembangkan oleh sumber daya insani memadukan nilai-nilai khilafah (kompetensi memimpin, mengolah, dan mengelola dunia), ibadah (semua aktivitas ditujukan untuk mengabdi kepada Allah), amanah (berilmu, mengembangkan, dan menerapkannya dengan penuh tanggung jawab).
Juga istislah wa maslahah (mencari kebaikan, manfaat, dan menghasilkan ilmu dan peradaban yang membawa maslahat dan manfaat), ‘adl (ilmu yang menghasilkan sikap adil dan menjauhi sikap zalim), ihsan (dengan berilmu semakin dekat dan tunduk taat kepada Allah, berbuat baik kepada kemanusiaan), serta fastabiqul khairat (kompetisi dan komptetitif dalam kebaikan).
Nilai-nilai di atas jika diintegrasikan dengan wawasan Indonesia, akan menjadi motor peradaban utama. Menuju peradaban Indonesia yang berkemajuan, dalam bingkai iman dan taqwa kepada Allah SWT.







