Ambisi Baru untuk Tahun 2023

Sebuah kisah yang terbesit dalam jelmaan kehidupan. Menerobos sebuah ‘waktu’, yang membuat hati sang perempuan ini berbalik menjejal pada semua alur yang kian arkais. Di atas lapisan-lapisan bumi ini, ia merekam berbagai hal yang dialami. Saat itu, ia sedang mengakal sebuah imaji yang berujung mungil dalam sejarahnya. Perjalanan yang akan terus berkecipung dalam derap langkah arah selanjutnya. Tentang apakah itu? Mengendap beberapa waktu yang perlu diceritakan dalam sejarahnya. Mengingat akan banyak hal yang telah terjadi. Meski hanya dengan bernostalgia.

***

Selama kurang lebih 14 tahun aku diberi ni’mat oleh Sang Pencipta untuk hidup di dunia, tentu untuk mencari amal kebaikan. Tiga tahun, aku hidup jauh dari keluarga, tak tersebab karena ‘nyantre’. Tahun 2022, berlalu begitu cepat bak rayuan roda yang mengayuh tanpa lelah. Lamat-lamat netraku menatap sesuatu yang terkesiap. Tersadar akan apa saja kekurangan yang belum ternetralkan. Saat ini, aku sedang terenyuah. Di dalam kesunyian sekaligus rasa hampa yang bercampur aduk dalam diri ini. Desau angin sore yang menjadi saksi bisu atas rengekanku dengan jelmaan sesuatu di dalamnya. Nampaknya, aku sedang terbesit oleh ingatan yang kian berlalu. Saat semua yang kurasakan, hanya bisa tertuang dalam lembaran-lembaran kertas putih nan kian berdebu.

Aku terdiam. Kupenjamkan kedua mataku, sejenak. Kutarik panjang nafasku, lalu kuhembuskan. Kubuka kembali kedua mataku. Sesekali netraku membersit pada sinar senja yang masuk celah-celah gorong-gorong. Raut mukaku, sepertinya sedang mengekspresikan sesuatu yang belum bisa dideskripsikan lebih jelasnya. Entahlah. Entah apa yang dapat diteroka dari masa laluku yang banyak melahap impianku. Yeah, tak untuk kusesali. Cukup untuk pelajaran di detik yang akan datang. Bagiku, masa lalu itu bukan untuk dibuang jauh-jauh, melainkan akan kujadikan teman dekat agar kesalahan yang sama tak terulang lagi seperti dulu kalanya.

Bacaan Lainnya

Aku masih bergeming. Riuhnya hanya dalam akalan yang sedang berimaji. Netraku tak kubiarkan hanya dengan tatapan kosong. Netraku terus bersitatap pada album yang telah kucetak sekitar setahun lalu. Tampak wajah polos yang terpajang dalam foto itu. Mengenakan warna baju seragam sekolah kebanggaannya, baju OSIS. Hmmm…berpose dengan gaya dua jari, sembari tersenyum bersama dengan rasa bangga dan syukurnya atas prestasi yang ia dapatkan saat Lomba Mapsi. Yha..aku mengenalinya. Hmmm…itu adalah cerminan dari diriku.

Dari arah Luar gorong-gorong, suara angin sepoi masih berdesing di telinga kanan dan kiriku. Netraku, mengarah pada langit terang yang kian menjamah menjadi langit petang. Sesekali, dengan cepat kilat membuat langit berwarna orence dan biru. Gemuruhnya, terlintas pada gendang telinga kanan dan kiriku. Tak hanya itu, rintihan satu demi satu tetes membumi basahkan lapisan bumi teratas. Entahlah, mungkin hingga lapisan atmosfer terdalam. Bulu kuduku berdiri dengan penuh percaya diri. Kipas gantung di sampingku, sesegera mungkin aku padamkan. Yeah, tak tersebab karena aku sudah meresa kedinginan.

Senyap sore ini, hanya ada lantunan yang menyerbu diriku. Sengaja aku tak beranjak dari tempatku berteduh. Sengaja aku termenung di antara waktu ini. Aku menghabiskan waktu senjaku ini demi sebuah resolusi dalam diriku sendiri. Banyak. Tentang banyak hal. Tak hanya satu atau dua harapan. Namun, seribu impian dan harapan yang harus kutemukan caranya agar bisa kuwujudkan hingga menjadi kenyataan. Jelas, tujuan pertamanya adalah menjadikan aku dan waktuku menjadi lebih baik lagi.  Sedang manusia lain? Mereka sedang sibuk dengan urusan pribadinya. Yeah, meski kondisi cuaca yang tak mendukung aktivitas mereka.

Aku. Aku sedari termenung dan mengakal hal yang tak pernah akan kupikirkan sedikit pun. Mendengarkan perkataan manusia, itu hanya akan kuanggap seperti kata pepatah “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”. Kalimat mereka, hanya membuatku tak berdaya dengan perkataan yang dilantunkan. Hanya membuatku rendah diri, dan seolah jatuh dari seribu tangga yang kubuat. Iyha, tak apa, jika kalimat yang mereka ucapkan dapat memberiku sebuah ambisi tinggi. Sudahlah, no problem, setidaknya lembaran tadi sudah terhias oleh barisan huruf yang terangkai menggunakan tinta hitam dengan sempurna.

Entah kenapa. Seketika, rasioku sedang bersabda untuk diriku sendiri. Padahal, aku sedang tidak melamun, mungkin ini yang dinamakan dengan arti ‘terpikirkan tanpa stagnasi’.

“Mengapa kau seperti ini? Tak mampukah dirimu berpikir yang positif, bahwa kau bisa. Yha, bisa. Mengapa kau membuang-buang nafas selama hidup ini, dengan cara tidak mau menapakan jejak yang berarti? Lantas, Apakah kau tak mengerti? Apakah kau ingin hidup tanpa arti? Apakah kau tak malu dengan seribu impianmu itu yang belum dapat tercapai dan terlampaui? Siapa yang mungkin harus disalahkan untuk hal ini? Mungkin kah kamu? Dia? Atau takdir? Tau bahkan semesta?  Tapi jelas, semua karena kamu. Yha, benar, itu salah diriku”

Aku tersenyum. Kali ini aku berbeda dengan kondisiku yang tadi. Kalimat itu menyadarkanku tentang banyak hal. Sedikit pun, rasa kesedihan itu hilang. Seketika menjelma dalam sebuah Ambisi Baru. Aku kembali merasakan gema damai berdengung dalam hati dan pikiran. Jemariku mulai menari-nari lagi di atas lembaran polos putih ini-seolah sedang mengartikan sesuatu yang berarti. Bagiku, tak salah jika mencoba ambisi baru. Menapaki alur baru. Memulai semuanya dari angka nol alias dari titik terbawah. Berusaha, berjuang, dan berdoa.

Terima kasih 2022, karenamu aku tahu apa yang belum pernah kumengerti selama ini. Terima kasih 2023, karena kehadiranmu dalam hidupku yang memberiku ambisi baru. Sekarang aku juga paham. Tentang makna sesuatu yang akan selalu memiliki arti dan tetap berarti.

Oleh: Putri Aisyah Nurul Iman (PAN-1), Wakil Ketua OSIS 2021/2022, Sekretaris Umum PR IPM Planet Nufo, Pimpinan Redaksi Majalah Pers Siswa SMP Planet Nufo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *