Al-Qur’an dan Problematika Sosial

“Al-Quran menjawab semuanya,” salah satu kalimat yang sudah sangat masyhur dikalangan umat Islam. Kalimat ini menggambarkan betapa agung nya kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Bukan saja permasalahan akidah, al-Quran juga menceritakan dan menjawab semua peristiwa kehidupan mulai dari kisah umat zaman dulu, fenomena alam, hukum-hukum dalam kehidupan, masalah akidah, dan menceritakan adanya surga dan neraka.

Al-Quran merupakan mukjizat teragung sepanjang masa. Dari 6236 ayat yang terdapat didalam Al-Quran ada sekitar 500 ayat berbicara tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu persatu dari 500 ayat tersebut sudah dibuktikan oleh ilmuan hingga saat ini dan masih terus berlanjut. Ini membuktikan bahwa Al-Quran yang di wahyukan kepada Rasulullah SAW bukanlah tulisan biasa yang dapat dikarang oleh manusia.

Banyak peristiwa dan fakta masa lalu yang bisa di-qiyas-kan ke peristiwa dan fakta pada masa sekarang. Dalam Surah ‘Abasa ayat 1-11, Allah Swt. memberitahukan bahwa:

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Ketika seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali dia datang untuk menyucikan diri, atau menerima peringatan (pelajaran) yang berguna baginya. Adapun orang yang memandang dirinya kaya, maka kamu (Muhammad) menghadapi(nya). Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.”

Bacaan Lainnya

Imam Malik meriwayatkan dalam kitabnya Al-Muwaththa’ bahwa surah ini tertuju  kepada seorang sahabat bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang pada saat itu mendatangi Rasulullah Saw. untuk meminta petunjuk terkait Islam dan hendak membacakan al-Quran dihadapan Rasulullah. Namun, saat itu, Rasulullah sedang bersama pembesar Quraisy, sehingga mengacuhkan Ibnu Ummi Maktum.

Acuhnya Nabi terhadap Abdullah bin Ummi Maktum kemudian mendapat teguran dari Allah Swt. pada ayat ke 3 dan 4 dalam Surah ‘Abasa. Maksud dari ayat 3 dan 4 ini menngambarkan bahwa tujuan dari Abdullah bin Ummi Maktum yang meminta diajarkan Islam dan didengarkan bacaan ayat al-Qur’an, ternyata itu lebih besar manfaat bagi dirinya dan lebih baik untuknya daripada mendakwahi kaum Quraisy yang ‘merasa cukup’, bukan dalam konteks harta tetapi dalam konteks tidak membutuhkan hidayah lagi.

Bentuk teguran Allah kepada Nabi merupakan bentuk Ta’limiyah yaitu bentuk ajaran pada Nabi dalam menghadapi dua situasi yakni orang kafir yang perlu di dakwahi dan dengan orang muslim yang lebih ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dalam situasi ini lebih baik mendahulukan orang muslim yang ingin mendalami Islam dari pada mendakwahi orang kafir yang ingkar terhadap Islam. Karena memberi pengajaran kepada orang Islam dapat memperkokoh ukhwah sedangkan mengajarkan Islam kepada orang kafir yang tidak peduli dengan Islam hanyalah hal yang sia-sia.

Peristiwa di atas sebagian menggambarkan perangai seseorang zaman sekarang yang menjadikan pekerjaannya hanya sebagai profesi bukan sebagai status. Apa bedanya? Tentu berbeda. Jika hanya sebagai profesi, maka pekerjaan yang kita lakukan akan terikat dengan masa tertentu saja. Jika menjadikan pekerjaan sebagai status, pastinya apa yang kita kerjakan akan melekat dalam diri menjadi suatu identitas bagi diri sendiri. Orang yang hanya menjadikan pekerjaanya sebagai profesi akan menjalankan perannya pada masa yang sudah ditentukan, tanpa kita tahu bahwa orang-orang di luar sana justru lebih membutuhkan dirinya.

Perkataan K.H Baha’uddin Nursalim atau yang sering dikenal dengan sapaan Gus Baha cocok untuk dilogikan dalam permasalahan ini. Gus Baha pernah melemparkan pertanyaan sperti ini, “Bagaimana mengerikanya jika seorang pemadam kebakaran mendapatkan panggilan di luar jam operasionalnya? Jika seorang pemadam itu memposisikan pekerjaanya hanya sebagai provesi maka dia tidak akan memperdulikan panggilan tersebut padahal orang yang mengalami musibah tersebut sangat membutuhkan bantuanya.”

Ada kisah nyata dari teman penulis yang menceritakan bahwa dia mengalami kecelakaan sepeda motor dan menderita luka parah di bagian telapak tanganya. Singkatnya, saat ia dibawa ke Puskesmas, pegawai puskesmas tidak bisa melayani kareana jam operasional sudah tutup. Kakak korban sudah menjelaskan bahwa ini darurat karena kecelekan, tetapi pegawai puskesmas tetap bersikeras dengan pendiriannya. Untuk saja, disela perdebatan itu ada perawat yang datang dan mengenali korban, sehingga korban bisadiobati di tempat tersebut.

Atas kisah di atas, dapat kita pahami betapa bahayanya jika seseorang kehilangan rasa empati terhadap sesama hanya karena mematuhi SOP yang berlaku. Mematuhi prosedur memanglah penting, tetapi menolong orang jauh lebih penting. Bagaimana jadinya jika tak ada satupun orang yang mengenalinya mungkin dia tidak bisa ditolong dan pergi dengan fisik dan hati yang terluka karena penolakan yang tidak masuk akal.

Dari sini, kita bisa mengambil pembelajaran bahwa apabila sudah mengemban amanah, hendaknya kita menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya dan selalu membantu mereka yang membutuhkan.

Kita juga bisa mengambil poin penting dari kesadaran seorang Abdullah ibnu Ummi Maktum sebagai muslim yang menyadari bahwa dirinya merasa kurang akan ilmu dan ingin menambah pengetahuanya tentang Islam. Sikap tersebut juga mengajarkan kita untuk bertanggung jawab pada diri sendiri atas pilihan yang kita pilih. Sebagai contoh, sikap tanggung jawab wajib dimiliki oleh mahasiswa sebagai agen of change khususnya bidang pendidikan.

Dewasa ini, banyak mahasiswa yang menjadikan kuliah sebagai formalitas belaka Rendahnya tingkat literasi di kalangan mahasiswa dapat menjadi buktinya. Mayoritas dari mereka akan membaca ketika ada tugas. Padahal seharusnya mahasiswa sadar bahwa membaca itu bukan hanya dijadikan sebagai tugas yang memiliki kesan dipaksakan. Namun, mahasiswa harus menjadikan membaca sebagai tanggung jawab dan kewajiban.

Salah satu faktor kurangnya minat baca di kalangan mahasiswa adalah kurangnya kesadaran dan rasa butuh akan pengetahuan, hal ini dikarenakan sistem pembelajaran yang hanya menstranfer cipta yaitu intelektual. Namun sedikit sekali metode pembelajaran yang mengantarkan rasa. Disini peran seorang guru khususnya guru agama harus berusaha bagaimana caranya dapat pula mentrasfer rasa pada siswanya supaya dalam kegiatan pembelajaran siswa merasa lebih antusias.

Contohnya melakukan diskusi diluar ruangan, mendengarkan pendapat siswa dan sebisa mungkin memberi solusi dan motivasi kepada siswa. Selain melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas bisa juga guru ikut aktif sebagai pembimbing dalam kegiatan keagamaan seperti rohis dan lainya. Maka dengan begitu siswa akan lebih merasa butuh akan ilmu pengetahuan dan ingin terus belajar sedari dini. Karena cipta tanpa dorongan rasa tidak akan memaksimalkan karsa.

Dari semua yang sudah dijelaskan kita bisa melihat betapa banyaknya pengajaran yang kita dapatkan dari al-Quran sebagai pedoman hidup manusia. Semoga kita semua tak lupa untuk memperbaiki diri dan selalu mencintai al-Quran. Sebab, mempelajari al-Quran tanpa mengamalkanya merupakan orang yang fasik, sedangkan mengamalkan al-Quran tanpa mempelajarinya dapat menyesatkan diri sendiri dan orang lain.

Oleh: Fatimah Azahro, Mahasiswi Prodi Pendidikan Agama Islam IAIN Pekalongan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *