Pada akhirnya aku melangkah pergi. Menyusun rencana pada hati yang hendak ditemui. Beranjak menuju Bumi Andalas, hendak menyapa harap yang tak kunjung berbalas.
Barangkali pertemuan kita adalah soal pergantian. Yang tadinya sendiri jadi berpasangan, yang awalnya ganjil akhirnya digenapkan.
Tibalah aku berhadapan dengan seseorang yang telah lama ku dambakan.
Langkahku mendekat pelan,
menemui gadis cantik dengan gigi kelinci nan menggemaskan.
Lantas aku bertanya, “Redam atau seru, hangat atau sendu, dingin atau pilu, jadi seperti apa rasanya merinduku?”
Senyum indahnya bermuara ke hati, menghangatkan kesedihan dari sepi yang ia rawat sendiri.
Saat bersamamu, mataku terus menatap, sebab hatimu adalah tempatku menetap.
Lalu kita berpisah kala malam kian gelap. Tawa itu lenyap, semua menjadi lelap, jalanan kembali lengang, dan pertemuan berakhir dengan kalimat “selamat istirahat, sayang.”
Bahkan kini kita masih terjaga menunggu saatnya, memejamkan mata dengan mimpi bahagia di dalamnya.
Di jauh pandangku kini, engkau masih tetap yang menghujani,
Di jauh jarakmu kini, engkau masih tetap hadir dalam mimpi.
Saatnya membasuh sisa kenangan sewaktu lalu, menyambut hari penuh harapan untuk bisa sama-sama bersatu.
Alweebee, 9 Maret 2024







