Refleksi Hari Tani: Menjadi Petani Sejati

Salah satu sifat manusia adalah tidak pernah merasa puas. Cara untuk mencari rasa kepuasan itu ialah dengan beragam kegiatan yang dapat dilakukan. Bisa dengan pergi memancing, berolahraga ataupun hanya sekedar bermain ke tempat rekreasi. Semua itu merupakan bentuk upaya manusia untuk mengusir kejenuhan yang sering  datang secara tiba-tiba. Sama halnya dengan penulis, sering melakukan hal-hal yang dapat mengusir perasaan tersebut. Setidaknya tidak disiksa dengan perasaan bosan.

Sebagian mempunyai prinsip bahwa, bertani dan berkebun adalah profesi yang paling bisa menjadikan seseorang menjadi orang yang baik secara agama. Karena orang yang sering berkebun tentu jauh dari penglihatan yang dilarang. Begitu juga anggota tubuh lainnya. Bahkan apa yang dimakan sangat halal, disebabkan dari hasil pertanian disebabkan oleh tidak memakan hak orang lainnya.

Berkebun merupakan salah satu pekerjaan yang bukan sekadar hobi bagi penulis, tetapi mengandung sesuatu yang sangat bermakna. Disebabkan orang tua penulis adalah petani padi dan memiliki kebun mangga. Sehingga, pengalaman-pengalaman masa kecl yang dibesarkan dan bergaul dalam lingkungan perkebunan tersebut seakan tergambar dalam benak dan pikiran.

Nabi Adam misalnya, sebagai manusia pertama yang mempunyai banyak anak memulai bercocok tanam ketika itu. Sudah dimaklumi karena pada saat itu Nabi Adam dan keluarganya  adalah manusia yang pertama dipermukaan bumi. Sedangkan kebutuhan manusia perlu melaksanakan perkawinan untuk melanjutankan keturunan. Konon anak Nabi Adam ada yang lahir kembar laki-laki dan perempuan. Begitu juga seterusnya sehingga pada suatu ketika Nabi Adam meminta untuk kedua anak berqurban dan salah satu yang diqurbankan adalah anaknya sendiri yang merupakan hasil pertanian.

Bacaan Lainnya

Sebagai seorang muslim sejati berpedoman kepada kitab suci al-Quran yang  banyak menjelaskan segala sesuatu. Salah satunya kisah-kisah orang berkebun, bertani dan berhubungan dengan pertanian. Pertama dalam Q.S.Al-kahfi ayat 32-44. Cerita-cerita yang menggugah. Seperti cerita Ashabul kahfi, kisah nabi Musa, Zulkarnain, dan yang sesuai dengan tulisan kali ini adalah cerita pemilik dua kebun.

Cerita tersebut menjelaskan tentang dua laki-laki yang bersahabat. Sebut saja si Iman dan si Ingkar. al-Qur’an tidak menjelaskan siapa mereka, kapan dimana kejadian peristiwa itu. Sebenarnya, hikmah apa yang ingin al-Quran sampaikan?

Pemilik kebun yang beriman kepada Allah SWT diberi cobaan hidup dengan sedikit harta dan kesulitan hidup kepadanya. Tetapi Allah memberikan nikmat iman, kerihoan, serta mengharapkan kehidupan yang abadi kelak di hari akhirat. Sedangkan temannya yang ingkar, Allah justru memberi keluasan rezeki dengan dua kebun. Pohon anggur dan kurma, diantara kebun tersebut juga Allah mengalirkan sungai. Sehingga dengan limpahan nikmat tersebut, si Ingkar mampu mengelola dan mengatur kebunnya sampai menghasilkan.

Dengan pengelolaan tanah yang baik, pertanian yang dimilikinya begitu melimpah. Ia pun bangga atas apa yang telah didapat. Sehingga ketika dia memasuki kebunnya seraya berlaku congkak dan membanggakan hal tersebut kepada kawannya. Bahkan dengan sombongnya Ia mengatakan bahwa,”Harta dan pengikutku lebih banyak daripada harta dan pengikutmu”. Keingkaran pemilik kebun terus berlanjut bahkan dengan angkuhnya mengatakan,”Kebun ini tidak akan hancur selamanya dan Aku menduga kuat bahwasanya hari kiamat itu tidak ada, dan seandainya aku kembali kepada tuhanku maka aku akan mendapatkan lebih bagus dari kebun-kebun ini”.

Sebagai seorang teman yang beriman, berusaha menyelamatkan dengan menasehatinya agar mengingat Allah dengan mengatakan, “Apakah kamu kafir kepada Allah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudiaan menjadikan kamu sebagai seorang laki-laki yang sempurna, dan kenapa kamu tidak mengatakan setiap kamu memasuki kebun kamu dengan mengucapkan ‘Dengan kehendak Allah ini terwujud, tidak ada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah’, sekiranya kamu menganggap aku lebih sedikit harta dan keturunan, mudah-mudahan tuhanku akan memberi kepadaku kebun yang lebih baik dari kebunmu ini, dan mudah-mudahan Dia mengirim petir dari langit untuk kebunmu, sehingga menjadi tanah yang licin, dan airnya surut kedalam tanah”.

Apa yang dikatakan sahabat  pemilik kebun tersebut menjadi kenyataan. Harta kekayaannya dibinasakan lalu dia membolak-balikan kedua tangannya sebagai tanda menyesal terhadap kehilangan modal besar yang sudah dibelanjakan untuk perkebunan tersebut. Dengan penuh penyesalan dia mengucapkan ‘Aduh seandainya dahulu saya beriman kepada tuhanku’.

Contoh lain, dalam QS.al-Qalam:33. Seorang ayah yang memiliki kebun. Setiap panen, ayah selalu membagikan hasil kebun kepada yang membutuhkan. Pemilik kebun tersebut memiliki tiga orang anak. ketika sang ayah wafat, kebun tersebut diwariskan kepada anaknya, sehingga menjadi kaya raya. Sangat disayangkan ketiga anaknya adalah orang yang sangat kikir, tidak mau memberikan hak-hak fakir miskin, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh orang tua mereka dulu.

Oleh karena itu, mereka mengusulkan agar memetik hasilnya pada malam hari. Supaya tidak diketahui orang miskin disekitar. Namun ketika mereka sampai pada kebun tersebut, mereka sudah menemukan kebun telah hancur seraya berkata. “Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang sesat, bahkan kita dihalangi untuk memperoleh hasilnya, dan salah seorang yang paling baik pikirannya diantara mereka mengatakan, ‘Bukankankah aku telah mengatakan kepada mu, hendaklah kamu bertasbih kepada tuhanmu’. Mereka mengucapkan, ”Maha suci tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim”.

Mereka saling berhadapan sambil mencela dan menyalahkan satu sama lain. Mereka mengatakan, “Aduhai celakalah kita, sesungguhnya kita adalah orang yang yang melampaui batas. Mudah-mudahan tuhan kita memberikan ganti dengan kebun yang lebih baik dari kebun itu. Sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari tuhan kita”. Seperti itulah azab dunia, dan sesungguhnya azab akhirat itu lebih besar seandainya mereka mengetahui.

Dalam QS.Saba’:15-16 juga. Allah menceritakan tentang bangsa Saba’ di Yaman yang mempunyai kebun begitu luas dan subur. Disebabkan ada satu bendungan sangat besar yang mampu mencukupi kebutuhan pertanian mereka. Lalu mereka mengalami kemakmuran. Tetapi mereka mengingkari dan tidak mau bersyukur terhadap nikmat yang telah diberi. Sehingga menyebabkan hancurnya bendungan dan kebun yang megah tersebut.

Pada dasarnya, ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang pertanian sangat banyak. Namun cerita tersebut merupakan riwayat orang yang bertani dan berkebun dalam perspektif al-Quran.  Terdapat pula pelajaran yang dapat dipetik dari kisah-kisah yang diabadikan oleh kitab suci al-Quran.

Pada dasarnya, tidak ada jaminan bahwa profesi yang dimiliki apapun jenisnya. Profesi yang halal menjadikan lebih dekat kepada kebaikan, seperti bertani. Dikarenakan yang kita peroleh halal. Akan tetapi  hal  tersebut tergantung bagaimana upaya dan usaha kita untuk memperoleh hidayah dengan segala kemampuan yang kita miliki.

Contoh diatas sangat jelas bahwa hakikat bertani jika memang tidak didasari dengan rasa syukur dan juga tidak mempunyai keimanan. Seseorang bisa menjaga panca inderanya dari maksiat. Tetapi jika hati dan syahwatnya tidak dapat dikontrol, maka segala nikmat yang diberikan Allah didepan matanya akan lenyap dan hangus. Selain itu perlu mempehatikan hak-hak orang yang membutuhkan dalam harta pertaniannya, baik berupa zakat (5% ataupun 10% tergantung kepada modalnya), infaq, dan shadaqah adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Wa allahu a’lam bi al-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *