Memasuki penghujung bulan Juli, curah hujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Rembang masih cukup tinggi. Akibatnya, banyak petani tembakau di Rembang yang mengalami kesusahan dalam proses pengolahan dan penanaman lahan tembakau. Hal ini diungkapkan oleh Eko Suwito (38) kepada Tim Baladena.id.
“Selain ketersediaan bibit potensial yang langka, sebagian besar lahan persawahan warga sini (red: Logung) tergolong masih gembel. Akibatnya lahan sulit diolah meskipun itu menggunakan alat bantu rotari atau traktor sekalipun”, katanya.
Eko Suwito juga menjelaskan bahwa mayoritas petani tembakau di Logung dan sekitarnya sudah melakukan upaya yang optimal. Selain dengan mencoba mengolah sawah dengan metode konvesional, yakni dengan mencangkul untuk membuat sebuah gundukan semacam galengan. Upaya lain yang sudah dilakukan oleh masyarakat adalah dengan penyulaman bibit tembakau yang mati karena terendam air.
“Sudah sering disulami, Mas. Tapi tetap saja mati karena faktor cuaca. Bahkan ada warga yang sudah melakukan penyulaman sampai empat kali. Itu pun sebagian bibitnya juga hasil minta ke petani yang lain atau bahkan ada yang membelinya”, ucap Eko Suwito.
Setelah berbagai upaya yang ditempuh namun tidak kunjung menai hasil, akhirnya mayoritas masyarakat Logung memutuskan untuk menanam komoditas pertanian lainnya, salah satunya jagung.
Salah satu petani muda asal Desa logung yang mulai mengolah lahannya untuk ditanami jagung adalah Bagus Sajiwo (23). Pihaknya mengaku sudah menghabiskan 5 kg bibit jagung bisi 18 siap tanam.
“Sudah pesimis saya dengan tembakau. Jadi saya mulai melirik jagung sebagai alternatif. Selain kemudahan dalam penanaman dan perawatan, harga jagung di pasaran juga tergolong stabil, pungkasnya kepada Tim Baladena.id







