Pantang Menyerah, Petani Tembakau Rembang Kembali Lakukan Penanaman Ulang

Ibarat terjatuh dan tertimpa tangga, itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan masyarakat Rembang saat ini. Ditengah isu harga tembakau yang turun, masyarakat petani tembakau Rembang kembali dilanda perubahan cuaca yang sangat ekstrim. Meskipun secara statistik saat ini adalah musim kemarau, namun nyatanya curah hujan justru semakin tinggi. Akibatnya banyak lahan tembakau petani yang terendam air dan menyebatkan bibit tembakau yang baru ditanam mennjadi layu.

“Ya mau bagaimana lagi, Mas. Kemarin hujan begitu lebat seharian penuh. Akibatnya tembakau yang sudah ditanam jadi layu semua”, ucap Imron Ruszadi (34) kepada Tim Baladena.id pada Minggu pagi (7/13).

Petani tembakau asal Logung ini juga menjelaskan bahwa tanaman tembakau yang terendam air kali ini adalah kali ketiga yang pihaknya tanam. “Ini sudah ketiga kalinya terendam, Mas. Padahal sudah dibuatkan selokan yang cukup dalam. Tapi intensitas curah hujan yang tinggi menjadikan lahan terendam air”, ucapnya.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Imron Ruszadi, Eko Suwito (37) juga mengatakan hal yang sama. Pria yang akrab disapa Eko ini mengatakan bahwa sulitnya menanam tembakau tahun ini membuat semangat beberapa petani jadi tergembosi.

Bacaan Lainnya

“Wes mbuh, Mas. Kemarau basah tahun ini memaksa sebagian petani untuk mengelus dada. Pasalnya petani dipaksa untuk melakukan penanaman terbakau beberapa kali. Tapi hasilnya juga nihil. Presentase tembakau yang hidup dan bisa bertahan ditengah cuaca ekstrem seperti ini sangat kecil”, ucap Eko sambil mengusap kepalanya beberapa kali.

Eko Suwito juga menambahkan bahwa adanya isu harga tembakau yang merosot drastis juga turut serta “menggembosi” semangat petani tembakau. Terlebih setelah adanya pemberitaan bahwa pabrik rokok Gudang Garam yang melakukan pemberhentian pembelian tembakau di wilayah tembakau dan sekitarnya.

“Sudah menanamnya sulit, nanti takutnya harga beli tembakau juga turun, Mas. Jadi tidak setimpal dengan jerih payah petani dalam proses penanaman dan penjemuran tembakau”, pungkasnya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *