Sinar matahari membelai dengan suam lewat jendela kamar yang terbuka. Suasana sore begitu damai untuk sekedar melihatnya tenggelam bersama mentari. Terlihat seorang gadis cantik sedang duduk sambil membaca novel karya Tere Liye, bertemankan secangkir kopi hangat, menatap keluar jendela. Kamar yang lengang menjadi tempat favorit untuk me time.
Gadis itu menghentikan bacaannya, lalu mengambil sebuah amplop yang terikat oleh sebuah pita biru dari dalam tasnya. Di pojok kanan bawah amplop, tertulis tiga buah kata.
Untukmu, Wanita Cerdas.
Secarik surat bersama goresan tinta ada di dalamnya. Bertemankan angin sore, gadis itu mulai membaca untaian kalimat yang tertulis di sana.
Venice van Java, 1 September 2020
Assalamu’alaikum, Lail.
Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja. Agustus telah berlalu. September pun bertamu. Sebelum kamu melakukannya, kutebak kamu akan menulis untaian kata untuk menyambut september. Entah itu berupa goresan kenangan, curhatan ataupun harapan. Kamu pasti akan mencatatnya sebagai arsipmu terhadap kehidupan. Kenapa aku tahu? Aku sering melihatnya melalui postinganmu. Aku heran dengan kebiasaanmu. Tapi, aku lebih heran lagi kenapa aku menulis rangkaian kalimat ini, padahal tak ada yang begitu spesial bagiku di bulan ini—mungkin juga bagimu.
Tapi, tak mengapa. Ada beberapa hal yang hendak aku sampaikan padamu lewat catatan sederhana ini. Kuharap kau membacanya dengan seksama. Ada beberapa pertanyaan retoris yang pastinya tak perlu kamu jawab. Juga ada beberapa pernyataan kategoris yang tak perlu kamu balas.
***
“Lail? Sejak kapan ada yang memanggilku seperti itu?” gumam gadis cantik itu.
Ia kemudian berdiri, berjalan ke arah jendela, mencoba merasakan angin di sore hari yang semakin larut. Sambil bersandar di tepi jendela, ia berpikir, sebenarnya siapa penulis surat ini.
Surat yang tak tahu siapa pemiliknya itu sudah ada dalam tasnya sejak ia pulang kuliah, entah siapa yang menyimpannya. Matanya kembali terpaku pada coretan sederhana itu, mencoba menerka melalui barisan kata yang tertulis.
Lail, Bagaimana kabar harmoni? Sudahkah kau memeluknya? Maaf jika aku kembali bertanya tentang itu. Kamu tahu? Aku selalu khawatir bila kau belum memeluknya. Aku merasa terus berada dalam genangan kesalahan, takut kau belum juga mengampuniku sejak peristiwa pilu kala itu. Meski senyum ceriamu selalu terlihat kala kita bersama, tapi aku gelisah, barangkali itu adalah senyum palsu. Mudah-mudahan itu hanya firasatku, tak nyata.
Aku minta maaf jika tugasku untuk membersamaimu malah membosankan. Aku tahu kamu adalah orang yang suka bosan. Buktinya, foto profil WA-mu yang sering berganti. Tapi, satu hal yang kamu tak kunjung bosan sampai-sampai aku bertanya-tanya keheranan. Kenapa kamu selalu cantik? Apa kamu tidak bosan?—hehe juts kidding.
***
Setelah membaca dua bait di atas, gadis itu mulai menebak orang yang menulis surat yang sedang ia pegang. Namun, ia masih butuh bukti lebih. Dan tak ada petunjuk selain kembali membaca deretan huruf yang tersusun membentuk tulisan di kertas itu.
Lail, masihkah kau ingat kita pernah bertemu di persimpangan jalan, sedang aku tak menyapamu sama sekali, berlalu begitu saja seolah tak mengenalmu? atau tentang janji berangkat bersama, tapi tak pernah terwujud karena aku sibuk dengan tugas-tugasku? atau tentang aku yang tak bisa mengeja namamu, sampai pada suatu kesempatan aku bisa mengucapkannya dengan lengkap bahkan tahu tanggal lahirmu?
Kala itu, aku adalah orang yang tertutup, cuek dengan orang-orang yang berada di sekitarku, tak acuh dengan semua kejadian yang ada. Tapi, aku heran dengan dirimu. Mengapa kau seolah mendekat padaku, seolah mencari tahu sisi lain dari diriku. Rasanya, diamku membuatmu penasaran. Apa benar begitu?
***
Gadis itu sedikit tersenyum. Pasalnya, ia sudah tahu siapa penulis surat ini. Ia yakin setelah membaca dua bait diatas.
Saat itu, aku belum menaruh rasa padamu. Diriku sedang ingin melupakan segala hal yang mereka sebut dengan cinta. Aku takut, jika kembali berkenalan dengannya, akan berakhir dengan kata pisah. Sejak awal, aku telah bertekad. Untuk menjalin hubungan dengan makhluk bernama wanita, aku tak akan bermain-main. Tapi, tekadku itu diruntuhkan oleh sebuah senda yang tak lucu bahkan menciptakan awan kelabu.
Sampai pada suatu ketika, aku mulai tertarik padamu. Memang benar, kebanyakan laki-laki itu akan jatuh cinta pada pandangan pertama karena melihat fisik perempuan. Namun, bagiku itu hanyalah sebatas suka yang nantinya hanya berlandaskan nafsu.
Ya, ketika melihatmu, aku suka padamu. Namun, cintaku tidak tumbuh hanya dengan melihat cantiknya parasmu. Lebih dari itu, aku menemukan sisi lain dari dirimu yang tak dimiliki oleh dia yang telah sempat meruntuhkan tekadku.
Maafkan aku bila sempat membuatmu seakan berada ditepian pantai, menikmati nyanyian ombak dan belaian anginnya. Namun, suatu ketika aku seakan mendorongmu ke lautan, membiarkanmu tenggelam dalam gulungan ombak disertai badai yang menerjang.
Kini, aku ada untuk membersamaimu. Seperti seorang Bapak kepada anak gadisnya, aku akan menjagamu, menyemangatimu ketika jatuh, menjadi teman dikala jenuh, mengukir ria dikala pilu. Maafkan aku jika masih jika masih juga membuatmu cemburu. Namun, inilah darmaku untukmu saat ini. Berharap dengan itu aku bisa berdamai dengan masa lalu, mengobati luka yang pernah kuukir dulu.
Lail, Agustus telah berakhir. September pun hadir. Jika kau tak menemukan harmoni bersama agustus, kuharap kau akan memeluk symphony bersama september. Salam dariku.
Lelaki sederhana yang mengagumimu.
Syauqi An-Najmi
***
Gadis itu termenung, mencoba memahami rangkaian kalimat panjang yang baru saja ia baca. Surat itu membuatnya bingung juga bimbang. Apakah ia harus senang atau sedih dengan harapan yang ada di akhir surat itu. Ia menatap senja yang mulai redup.
“Akankah penulis surat ini berakhir seperti senja? atau berawal seperti malam dengan hiasan bintang lalu menghiasi insan dengan mimpi-mimpi indah?” tanyanya kepada petang yang mulai menghilang.
Oleh: Rasha Akhtar, Pengagum cinta dalam pena







