Semenjak virus corona menyerang dunia ini, para pakar kesehatan berlomba-lomba mencari vaksin untuk mematikanya. Tidak kalah dengan isu vaksin dan kontroversi corona, aktifitas ekonomi juga mendapat perhatian lebih. Mobilitas aktifitas manusia sangat mempengaruhi kesehatan ekonomi. Dengan Ketersediaan barang dan konsumen yang stabil ekonomi akan stabil. Namun, jika mobilitas tersendat seperti saat ini, artinya ekonomi sedang “sakit”. Sakit dalam arti penurunan kegiatan ekonomi secara drastis dan berlangsung setidaknya dalam dua kuartal beruntun atau yang kita kenal dengan resesi.
Suatu negara dikatakan resesi jika produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus sekitar 2 kuartal beruntun setiap tahunya. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang terancam resesi kembali. Sebelumnya pada kisaran tahun 1997-1998 Rupiah terjun bebas dari kisaran Rp 3000,00 per dolar AS pada agustus 1997, menjadi Rp. 16,000,00 per satu dolar AS pada januari 1998. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dilaporkan minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Hal ini jauh lebih buruk dari tahun 1998. Belum cukup sampai disitu, pakar ekonomi memperkirakan kuartal ekonomi Indonesia akan terus menurun bahkan minus di kuartal II.
Menurut penuturan Sri Mulyani, titik balik ekonomi indonesia berada di kuartal III. Indonesia harus mampu mengembalikan kondisi ekonominya agar tidak terjadi resesi kembali. Meskipun peluangnya sangat sedikit. Beliau menyinggung kebijakan bantuan pemulihan ekonomi melalui bantuan sosial, terutama bagi kalangan menengah kebawah. Menurutnya, bantuan ini efektif dalam menyelamatkan perekonomian Indonesia dari curamnya jurang resesi.
Untuk itu, pemerintah juga memberi jalan dalam memperbaiki program bantuan yang disesuaikan dengan dinamika di lapangan. Mulai dari bantuan presiden kepada 9 juta UMKM hingga bantuan melalui skema BPJS Ketenagakerjaan, “Bagi pekerja yang pendapatannya di bawah Rp 5 juta,” tuturnya.
Langkah itu mungkin efektif jika dialokasikan dengan benar. Namun, banyak tumpang tindih aparat abdi negara dalam menjalankanya. Skema bantuan BPJS akan diterima oleh pekerja yang sudah terdaftar pada lisensi ternama, karena harus mencantumkan kartu pekerja. Padahal kita ketahui sendiri akibat pandemi ini terjadi PHK massal terutama sektor buruh. Belum lagi nasib petani yang tidak memiliki jaminan apapun.
Bantuan PKH yang selama ini digencarkan pemerintah ternyata masih salah sasaran. Dibuktikan dengan laporan lapangan, juga terjadinya demo masyarakat yang seharusnya mendapatkan. Kebanyakan jatuh pada keluarga kelas menengah keatas, tidak jarang dijumpai rumah yang sudah bertembok dan berpagar masih tercatat sebagai anggota keluarga penerima bantuan PKH. Ini dikarnakan salah pendataan diawal juga nepoteisme dari perangkat desa setempat. Seperti bantuan corona yang tidak merata.
Selain membengkaknya hutang negara, bantuan yang tidak tepat sasaran akan menimbulkan perpecahan diantara rakyat Indonesia sendiri. Karena kondisi ekonomi yang semakin sulit dan rupiah semakin menggigit. Semua harga pokok naik imbas dari kenaikan dan ketidakstabilan rupiah.
Beban yang ditimpakan untuk rakyat semakin menumpuk, terutama untuk generasi milenial. Selain menanggung beban hidup sendiri, istri, anak, juga dibebani hutang negara. Jika kondisi ini berlanjut tidak menutup kemungkinan krisis akan berlangsung lama. Harga properti akhirnya naik drastis.
Masihkah kita berpangku tangan kepada pemerintah. Setelah Rezim mereka kuasai, kebijakan dipermainkan, ekonomi dipoligami?. Apalagi yang kalian harapkan dari Rezim seperti ini. Cukup penglaman lampau saja yang sulit. Setelah isu kembalinya Dwi fungsi abri era jokowi. Mungkinkah rezim kembali? Siapkah kalian mereformasi kembali?
Saatnya milenial bangkit
Bukankah lebih baik jika anggaran yang dialokasikan untuk bantuan sosial disisipkan juga untuk mensubsidi harga bahan pokok agar tetap stabil. Dan mudah dijangkau rakyat terutama kelas menengah kebawah. Menggiatkan sektor pertanian juga sangat penting untuk menjaga kelangkaan bahan pokok. Sehingga kebutuhan dalam negri bisa dicukupi. Petani dapat tidur tenang tanpa memikirkan harga jual yang terlalu rendah. Selain perekonomian akan tetap jalan, kesehatan juga tetap diperhatikan.
Tunjukan inovasi-inovasi anak bangsa dalam menghadapi masa sulit ini. Dengan media gadget memutarkan roda ekonomi tanpa harus tatap muka dan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Belajar dari krisis moneter 1997-1998. Kesiapan perencanaan ekonomi harus dilakukan. Masing-masing dari kita harus berperan menyelamatkan ekonomi negara. Paling tidak mencegah angka kurva agar tidak menurun drastis. Memperbaiki kembali Usaha Kelas Menengah, membeli produk dalam negri agar roda perekonomian tetap berjalan ditengah situasi sulit ini. Saatnya milenial menyiapkan diri untuk dirinya dan negeri kita.
Oleh: Shofi Malia





