Ketika para ilmuwan muslim atau umat Islam mulai mengabaikan, meninggalkan serta menjauhkan kajian Al-Qur’an yang mendalam dari aktivitas keilmuan dan aktivitas kehidupan, maka di situlah titik awal kemunduran umat Islam. • Maka wajarlah apabila penemuan-penemuan ilmuwan muslim sekarang ini kurang begitu berarti dibanding ilmuwan barat dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tapi sekarang Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai rujukan atau pembanding ketika ada penemuan baru dari ilmuwan barat. Penemuan para ilmuwan dicocok-cocokan dengan Qur’an padahal penemuan itu sudah ada ribuan tahun dalam Qur’an. Dahulu Al-Qur’an Penelitian Sekarang Penelitian Al-Qur’an
Maka apabila para ilmuwan muslim atau Umat Islam ingin kembali menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam harus kembali menjadikan Qur’an sebagai kajian utama yang mendalam atau Re- paradigma atau kembali menjadikan Qur’an sebagai kerangka berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu putusannya masing- masing” (QS. Az- Zumar 68).
Pandangan Qur’an terhadap Ilmu Pengetahuan • Didalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan pentingnya ilmu. Sehingga ayat yang pertama turun juga menyataka iqra’ yang berarti bacalah. Membaca sangat penting agar mendapat ilmu pengetahuan.”Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”,(al-ankabut: 43).
Setelah kita paham mengenai definisi dari ‘paradigma”, maka yang menjadi pertanyaan saat ini adalah bagaimana seorang dapat menggembangkan suatu paradigma ilmu. Burrel & Morgan (1979) mengembangkan aspek paradigma tersebut dalam asumsi meta teoritikal yang mendasari kerangka referensi, model teori dan modus operandi dari ilmuwan yang berada dalam paradigma tersebut.
Semua definisi dari keempat paradigma tersebut tidak mengindikasikan kesamaan pandangan seutuhnya karena dalam setiap paradigma pasti terdapat ilmuwan yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.Kesamaan yang bisa ditunjukkan hanya dalam konteks dasar dan asumsi, hal inilah yang membedakan antara satu paradigma dengan paradigma yang lainnya.Sehingga Burrell & Morgan (1979) membagi paradigma tersebut sebagai a) paradigma fungsionalis ( The functionalist paradigm), b) paradigma interpretif (The Intrepretive Paradigm), c) paradigma radikal structuralis (The Radical Structuralist Paradigm) dan d) paradigma radikal humanis (The Radical Humanist Paradigma).
Sedangkan Chua (1986) membagi paradigma dalam ilmu social menjadi 3 paradigma yaitu a) The Functionalist (Mainstream) Paradigm, b) The Interpretive Paradigma dan c) The Critical Paradigm. Menurut Chua, pernyataan yang diungkapkan oleh Burrell & Morgan untuk paradigma radikal humanis denganparadigma radikal strukturalis dapat digabungkan menjadi satu paradigma yaituparadigma kritis (The Critical Paradigm). Sarantakos (1993) dalam Triyuwono(2006) membagi paradigma yang hampir sama dengan Chua (1986) yaitu 1) The Functionalist (Positivist) Paradigm, 2) The Interpretive Paradigm, 3) The Critical Paradigm.
Eichelberger (1989) dalam Miarso (2005) selanjutnya membedakan tiga paradigma filsafat yang melandasi metodologi pengetahuan, yaitu: positivistik,fenomenologik, dan hermeneutik. Sedangkan Bhaskar (1989) mengelompokkan paradigma dalam 3 kelompok yang didasarkan pada pengaruh individu dan masyarakat. Pengelompokkan tersebut meliputi paradigma positivisme (EmileDurkheim), paradigma conventionalisme (Max Weber), paradigma realisme (KarlMarx). Sedangkan Guba (1990) seperti yang dikutip oleh Salim (2006) membagi paradigma menjadi empat kelompok yaitu positivism, post-positivism, criticaltheory dan konstruktivisme.
- PARADIGMA FUNGSIONALIS/POSITIVIST
Paradigma positivisme/fungsionalis adalah paradigma yang muncul paling awal dalam dunia ilmu pengetahuan. Kepercayaan dalam pandangan ini berakar pada paham ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas berada dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam.
- PARADIGMA INTERPRETIF
Paradigma interpretif muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap pandangan yang dikemukakan oleh paradigma fungsionalist/positivist khususnya mengenai realitas. Paradigma interpretif lebih menekankan pada peranan bahasa, interpretasi dan pemahaman akan makna dari realitas (Chua 1969). Menurut Morgan (1979) paradigma ini menggunakan cara pandang para nominalis dari paham nominalisme yang melihat realitas sosial sebagai suatu yang tidak lain adalah label, nama, konsep yang digunakan untuk membangun realitas.
- PARADIGMA CRITICAL
Berpandangan bahwa unsur kebenaran adalah melekat pada keterpautan antara tindakan penelitian dengan situasi historis yang melingkupi. Penelitian tidak dapat terlepas dari konteks tertentu, misalnya situasipolitik, kebudayaan, ekonomi, etnis dan gender.
- PARADIGMA POSTMODERN
Paradigma ini muncul karena adanya kelemahan dari paradigma positivist,interpretif dan kritisme serta teknologi yang sangat canggih. Menurut Roslender (1995) dalam Indriantoro (1999) menjelaskan bahwa postmodern menolak pendapat modernisme yang meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untukmaju, untuk memperbaiki dirinya sendiri dan berpikir secara rasional. Bagi seorang postmodernis tidak ada keadaan yang lebih baik, tidak ada dunia yang lebih baik, tidak ada yang disebut kemajuan atau pengendalian alam.
Oleh: Syukur Abdilah, Bendahara Omah Tahfidz Community





