Sebaris Angan

Pada sebaris angan yang melesat

Melewati lorong-lorong penuh sekat

Pada sebuah takdir yang menyamar

Menjadi sebuah kebetulan yang masuk akal

 

aku terduduk di tepi penantian

sambil menatap lamat-lamat sepercik cahaya bulan

aku berusaha menenangkan hatiku yang pecicilan

dia bersikeras menolak takdir Tuhan

pikiranku coba menenangkan dengan khas kebijaksanaan

namun apalah dikata

hatiku justru semakin pecicilan

memaksaku dan pikiran

menuruti kemauan yang tak berkesudahan

 

pada sebaris angan yang kini membabi buta

mendobrak pertahanan merangsak masuk

membunuh akal rasional

tidak semua hal itu baik atau buruk

keadaan dan suasana yang membuatnya baik atau buruk

malam kini semakin muram

langit dipenuhi gumpalan awan hitam

oksigen semesta serasa mau habis

paru-paru meringis menahan perih

hatiku terus memaksa untuk segera menemuimu

tak memandang bagaimanapun kondisi ku

pikiranku berusaha berbincang dengannya

memahamkannya tentang yang sebenarnya

 

aku terdiam

mencoba larut dalam alunan perjalanan angan

kini aku coba membujuk hati milik hatiku

dalam sebuah perbincangan singkat

dalam perjalanan menuju sebuah keikhlasan

memahamkannya kenapa aku tak segera menemuimu

 

pada sebaris angan yang mencoba menerima takdir Tuhan

hidup menuntun pada pilihan-pilihan

yang punya resiko untuk diterima dengan penuh keikhlasan

darah mengalir dari segores luka

benang-benang keikhlasan menjahit menutup luka

 

pada akhir dari perjalanan sebaris angan

menerima takdir tuhan dengan keikhlasan

mungkin cara terbaik menerima takdir Tuhan

 

Muhamad Faiz Mubarok

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar