Cahaya . .
Bukan sesuatu yang gelap
Bukan pula sesuatu yang menetap
Benarkah dapat menerangi?
Perangai hamba-hamba yang masih lalai?
Hamba Tuhan yang buta tentang petunjuk-Nya
Menafikan karunia seakan sudah biasa
Kesombongan dibiarkan menguasai jiwa
Kalah oleh nafsu angkara
Hei, kamu mau jadi apa?
kamu biarkan hati tertutup noda
Keegoisan kamu jadikan niscaya
Logika kotor kamu gaungkan sebagai unjuk daya
Tanpa beban, tanpa pikir panjang
Menutup mata dari kebenaran sang Maha Kuasa
Perihal balasan, tidakkah ada rasa?
Takut misalnya
Mungkinkah terlalu kebal?
Atau memang otakmu yang terlampau bebal?
Kamu acuhkan petunjuk Tuhan
Kamu sepelekan seruan para utusan
Bertindak tidak memanusiakan
Tidak peduli ancaman kematian
Padahal, Ia selalu mengasihi
Tiap jiwa di penjuru bumi
Yang haus akan siraman rohani
Yang kering kerontang tidak beresensi
Hingga disapa oleh hidayah Illahi
Tiada yang tidak mengakui
Kekuasaan Tuhan tanpa tepi
Singgasa-Nya tanpa intervensi
Ketetapan-Nya menjadi hakiki
Ia Maha Pencipta segala yang ada
Tidak terkecuali kamu, wahai hamba yang sering alpa
Lantas, mau sampai kapan kamu bertahan?
Bertahan didalam kedzaliman
Terkungkung dalam jerat setan
Dimanakah letak logika hebatmu kawan?
Bila begitu saja malah kamu tumbuh kembangkan
Hei, , sudahilah
Aku tidak mau kamu berlama-lama dalam ketersesatan
Kembalillah, ,
Sebelum tiada lagi kesempatan
Sebelum malaikat kematian datang tanpa undangan
Segera rujuklah petunjuk Tuhan
Agar ampunan kamu dapatkan
Oleh: Yumna Myesha, Pelenyap lara, pecandu rindu







