Pagi ini mendung, rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Membuat memori tempo dulu terputar kembali di pelupuk mata. Tentang pertemuan awal yang hangat dan menyenangkan. Sungguh, saat itu kau begitu bahagia, begitu juga aku.

Selepas pertemuan itu, aku dan kamu kerap kali bertemu. Di setiap pertemuan kau selalu membuatku tak kuasa menahan senyum dan tawaku hingga tulang pipiku terasa kebas. Setiap pertemuan ibarat tempat untuk aku dan kamu berdiskusi ringan tentang apa saja.

Kau yang selalu bersemangat mengutarakan apa saja yang ada di kepalamu, sementara aku hanya bisa menjadi pendengar setia untukmu. Tentu saja dengan tatap dan senyum kagum akan dirimu selalu tersungging di wajahku. Aku selalu siap menemanimu tiap kali kau minta. Langkahku ada mengiringi langkahmu, hingga orang lain mengira aku dan kamu adalah sepasang. Akupun setuju, bahwa aku ibarat bayangmu.

Sampai pada suatu Malam saat kita bertemu, kau bercerita tentang seseorang yang telah membuatmu jatuh dalam naungan cintanya. Sungguh, matamu sangat berbinar saat itu dan aku tak kuasa menahan agar setitik air bening yang jatuh dari mataku.

Setelah Malam itu, kau tak pernah lagi menghubungiku. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa. Pikiran-pikiran aneh muncul. Bagaimana jika ternyata kau hanya menganggapku sebagai bayangan yang selalu mengganggu kamu? Bagaimana jika ternyata memang bukan aku yang kau inginkan?.

Setiap saat aku selalu menunggu ponselku mengedipkan namamu. Aku benar-benar ingin mendengar dering ponsel yang sengaja aku khususkan untukmu. Kau menghilang, tak bersisa layaknya kabut yang diterpa kencangnya angin.

Baca Juga  Sejenak Menepi

Akhirnya, di suatu Pagi yang mendung, saat aku berpikir untuk menyudahi ini semua, mengakhiri semua harap yang tak kunjung berbalas. Ponselku berdering menampilkan selarik nomor asing. Dengan malas aku mengangkat ponsel dan orang di seberang sana berbicara padaku. Saat itu juga, aku tak ingin menunggu orang itu menutup telfon aku segera berlari. Berlari mencari apa saja yang bisa membawaku pergi dari sini.

Sebuah tatapan haru perempuan paruh baya menyambut kedatanganku. Semakin aku datang mendekat dan semakin dekat, lutut ini seakan tak mampu lagi menopang tubuh mungilku. Ya.. Aku lihat senyummu dan aku tak kuasa menelan kenyataan bahwa badan kaku yang tertutup kain putih itu adalah kamu..

“Tuhan.. kenapa secepat ini Kau ambil dia? Inikah jawaban-Mu atas doa-doaku?” tanyaku tak terima.

Perempuan paruh baya itu, masih dengan tatapan sendu menghampiriku. Ia menyerahkan sebuah kotak berwarna pastel, warna kesukaanku dengan anggukan kepala. Menegaskan bahwa ini memang untukku.

Kotak beludru merah terlihat di mataku, di sampingnya ada selembar kertas berisi coretan tanganmu. Aku pun meraih kertas itu, di dalamnya hanya tertulis satu kalimat

“Will you marry me?

Tak kuasa aku meremas jemariku. Perempuan paruh baya yang kau panggil Ibu pun tak kuasa melihatku yang semakin deras mengeluarkan darah bening dari mataku. Ia memelukku erat, erat sekali. Di situ untuk pertama kalinya aku merasakan dekapan tubuh orang di mana kau pernah tinggal dalam rahimnya.

Baca Juga  Kekasih Impian

Kau tau? aku membenci kata pisah. Bagiku kata itu sangat menyakitkan, melukai hati yang akan sukar untuk disembuhkan. Aku tak ingin kau pergi dengan cara seperti ini. Karena, sebesar apapun rinduku padamu tak akan berujung temu. Rindu ini hanya akan terus menambah dan takakan berkurang. Aku hanya bisa merapalkan genggaman rinduku sebagai untaian doaku untukmu.

Oleh: Eine Kluge Frau

KESALEHAN SPIRITUAL DAN SOSIAL

Previous article

Merujuk Cahaya Petunjuk

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Cerpen