SURAT KEPADA ORTU YANG INGIN ANAK HAFAL AL-QUR’AN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yth. Bapak/Ibu yang beriman kepada al-Qur’an. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan makin bersemangat.

Hafal al-Qur’an adalah salah satu anak tangga penting untuk bisa memahami Islam. Sebab, al-Qur’an adalah sumber utama dan pertama ajaran Islam. Jika diurutkan tujuh kewajiban kita kepada al-Qur’an, akan terangkai menjadi: membaca, mengartikan, menghafalkan, merenungkan, mengerjakan, mengajarkan, dan memperjuangkannya.

Hafal al-Qur’an dengan catatan disertai arti adalah di antara prasyarat bisa merenungkan al-Qur’an secara utuh, bukan perenungan yang parsial, walaupun dengan spesialisasi ilmu dan sarana riset yang ada sekarang bisa jadi sangat mendalam. Al-Qur’an ibarat samudera yang sangat luas yang perlu dijelajahi keluasannya, lalu juga kedalamannya. Kalau hanya menjelajahi keluasannya, maka yang akan diketahui dan dikuasai adalah permukaannya. Namun, jika hanya mendalaminya, kita mungkin hanya akan tahu kedalaman satu titik saja walaupun akan menemukan palungnya. Yang mesti kita lakukan, terutama sekarang ini, dengan makin pesatnya perkembangan teknologi, adalah keduanya. Setelah berlayar untuk mengetahui keseluruhan permukaannya yang luas, lalu juga mendalaminya dari satu titik ke titik lainnya, untuk mengetahui apa sesungguhnya yang ada di dalam banyak titik terdalam palungnya.

Untuk melakukan itu, anak-anak kita tak cukup dengan setelah membaca langsung menghafal. Ingat, bahwa ayat-ayat al-Qur’an bukan mantra-mantra. Kenapa rangkaian-rangkaian kata indah di dalamnya disebut sebagai ayat? Sebab, ia adalah tanda yang bisa menunjukkan kepada kebenaran. Sebagiannya adalah tanda yang kebenarannya bisa dibuktikan pada fenomena alam. Dan yang kita mesti catat dengan baik adalah kata “ayat” dan “alam” sesungguhnya adalah sinonim. Keduanya bermakna “tanda”. Maka dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata alam dan alamat. Ya, keduanya adalah tanda-tanda dari Allah, ibarat buku panduan dengan alat elektroniknya. Kecocokan antara keduanya adalah bukti bahwa keduanya memang berasal dari Allah. Yang satu adalah firmanNya, dan yang satunya lagi adalah ciptaanNya. Dengan firman, kita mengetahui hakikat segala sesuatu yang diciptakanNya. Dan berdasar kebenaran pernyataan ayat-ayat al-Qur’an tentang segala sesuatu yang bisa diverifikasi dalam alam semesta ini, kita mesti mempercayai segala sesuatu yang tidak bisa diverifikasi, di antaranya kiamat, akhirat, surga, neraka, dan lain sebagainya. Sebab, pernyataan yang selalu benar tentang segala sesuatu yang bersifat verifikatif, sesungguhnya merupakan tanda dalam arti bukti, bahwa pernyataannya tentang segala sesuatu yang tak terverifikasi juga adalah kebenaran. Dalam konteks inilah, iman Islam sesungguhnya bukan sesuatu yang tidak rasional. Iman Islam menjadi sama-sama rasionalnya.

Karena itu, kita mesti mengambil sikap yang tepat. Jangan sampai al-Qur’an hanya meluncur saja dari mulut anak-anak kita, tetapi mereka tak mengetahui maknanya. Bahwa itu adalah sesuatu yang baik, tentu iya. Tapi, apakah kita akan menjadikan anak-anak kita seperti burung beo yang bisa dilatih dan hanya sekedar bisa mengikuti perkataan tuannya, tetapi tidak pernah tahu apa maksudnya? Tentu tidak bukan? Saya sengaja menggunakan ibarat “burung beo” karena kata ini pernah saya dengar dari pengkritik penghafal al-Qur’an tanpa tahu artinya yang awalnya membuat saya sangat kaget, karena terasa sangat kasar dan merendahkan, agar kita siap dengan kritikan tajam. Apakah kita akan menjadikan anak-anak kita sebagai, ibarat al-Qur’an sendiri, keledai yang mengangkut tumpukan buku, tetapi tidak tahu apa isi buku-buku yang ada di punggungnya dan karena itu perilakunya tidak bisa sesuai dengan ajaran yang ada di dalamnya? Tentu saja juga tidak bukan?

Kita hendak melahirkan generasi yang lebih baik dibandingkan kita. Dengan kesadaran tentang tujuh kewajiban kita kepada al-Qur’an, maka mestinya anak-anak kita yang kita inginkan jadi pejuang Islam, benar-benar kita didik dengan peta jalan yang benar. Jika tidak, sekali lagi, niat kita yang baik memiliki anak-anak yang hafal al-Qur’an justru hanya menjadi penyebab mereka hanya memikul beban sepanjang kehidupan. Bayangkan, mereka harus mengulang-ulang bacaan yang mereka tidak mengerti maknanya dan karena itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Saya banyak mendapatkan keluhan dari tidak sedikit orang tua yang anak-anak mereka sedang dalam proses menghafalkan al-Qur’an, tetapi kemudian mengalami semacam kebosanan dan bahkan sebagiannya sudah benar-benar memilih berhenti di tengah perjalanan. Berdasarkan riset saya selama sewindu terakhir, hanya tidak lebih dari 10% saja penghafal al-Qur’an tanpa terlebih dahulu menguasai artinya, yang mampu mempertahankan hafalannya dengan baik. Itu pun dengan usaha super berat, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk melakukan aktivitas profesional untuk menopang kehidupan material mereka. Sebagian besar di antara mereka telah kehilangan hafalan mereka.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para orang tua muslim yang ingin anak-anak mereka menjadi pejuang al-Qur’an?

Pertama, biasakanlah anak-anak, terutama setelah mereka bisa berbicara, dengan pola kata bahasa Arab al-Qur’an. Membiasakan itu tidak mesti dengan menjadikannya sebagai pelajaran sekolah yang membuat anak merasa berat dan bosan. Sekarang sudah ada banyak cara yang di antaranya sangat menyenangkan, karena sudah dibuat dalam bentuk nyanyian. Mulai dari huwa, humaa, hum, sampai tashrif pola paling dasar yang bisa dilagukan. Dengan cara ini, anak-anak sebenarnya sedang belajar pola kata dalam bahasa Arab yang sebagiannya memang sangat teratur, tetapi mereka merasa bahwa mereka sedang bermain dan bernyanyi. Bahkan karena menyanyi, anak batita kita bisa bergoyang riang. Saya sudah melakukan uji coba ini, bukan hanya kepada anak-anak saya, tetapi juga murid PAUD Islam Mellatena Semarang. Usia 2 sampai 4 tahun mereka sudah menguasainya. Kalau kita bisa memanfaatkan tahun-tahun awal anak kita dengan membangun pola kata yang digunakan dalam bahasa Arab al-Qur’an dalam ingatan mereka, maka proses belajar al-Qur’an mereka dalam tahap berikutnya akan ringan dan juga menyenangkan. Al-Qur’an akan menjadi sangat menarik, karena isinya yang sangat informatif dan memberikan banyak sekali pengetahuan.

Kedua, jangan langsung meminta anak menghafalkan al-Qur’an. Bersabarlah! Tahan diri. Jangan terburu-buru. Jangan terpengaruh oleh iklan-iklan cepat hafal al-Qur’an yang sebagiannya sengaja disebarkan oleh mereka yang membisniskan belajar dan hafal al-Qur’an. Cukupkan dengan anak-anak kita menghafalkan surat al-Fatihah dan beberapa surat yang diperlukan untuk mereka berlatih dan membiasakan shalat lima waktu. Kecuali anak-anak kita memang memiliki daya ingat luar biasa dan memiliki ketertarikan untuk itu. Kalau anak-anak kita tidak termasuk yang demikian, lanjutkan dengan mengajak mereka untuk mengetahui arti per kata ayat-ayat al-Qur’an dengan berbagai cara. Kalau pola kata dalam bahasa Arab sudah dikuasai dengan cara yang sebagiannya dengan cara bernyanyi dan bermain, maka mempelajari makna kata-kata dalam al-Qur’an tidak akan membuat mereka mengalami kesulitan. Ajak mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an yang berisi kisah-kisah yang membuat mereka tahu bahwa isi bacaan yang mereka ulang-ulang adalah cerita terbaik yang diberikan oleh Tuhan. Surat Yusuf, al-Kahfi, dan al-Qashah bisa menjadi pilihan awal. Kata-kata dalam al-Qur’an secara keseluruhan adalah 77.439 kata yang sesungguhnya hanya terdiri atas 2728 saja kata dasar. Tak banyak bukan? Kalau anak-anak menguasai polanya, jika momentumnya sudah ditemukan, menguasai seluruh kosa kata dalam al-Qur’an tak perlu sampai 10 bulan. Terlebih hampir 1000 kata di antara 2728 kata dasar itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, sehingga anak-anak kita akan lebih mudah mengingatnya, seperti iman, kitab, shalat, zakat, dll..

Ketiga, setelah anak-anak relatif menguasai pola kata dalam bahasa Arab, logika mereka sudah mulai hidup, dan mereka sudah mulai bisa menangkap makna literal kalimat dalam ayat, maka mereka sudah bisa diajak untuk menghafalkan al-Qur’an. Saya ingin ulang dan tekankan lagi, bahwa menghafalkan al-Qur’an tanpa terlebih dahulu mengetahui maknanya, akan bisa menjadi beban sepanjang kehidupan. Sebaliknya, hafalan al-Qur’an dengan menguasai arti, akan menjadi inspirasi dan motivasi tiada henti. Menghafal dengan arti seluruh ayat al-Qur’an akan membuat anak-anak kita menjadi seorang generalis. Mereka akan mengetahui sedikit-sedikit tentang hubungan antara satu simpul pengetahuan dengan pengetahuan yang lain yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan pengetahuan yang sangat beragam. Setelah itu, yang mereka harus lakukan adalah melakukan pendalaman tentang satu atau beberapa simpul pengetahuan, sehingga menjadi seorang yang sangat ahli dalam satu atau beberapa disiplin keilmuan. Dengan begitu, anak-anak kita di masa depan akan menjadi spesialis-spesialis yang sebelumnya telah memiliki wawasan luas. Ingat, spesialis yang tidak memiliki wawasan luas, justru akan menjadi ibarat manusia yang berkacamata kuda. Itu bisa sangat berbahaya dan sudah sejak lama diperingatkan oleh para ilmuan-kritikus sosial.

Keempat, mengajak anak-anak kita untuk selalu bersikap kritis. Caranya bisa bermacam-macam sesuai dengan berbagai kejadian yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Dan jangan pernah tidak menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Misalnya, saya pernah ditanya oleh anak pertama saya tentang kenapa pada semua gerakan perubahan posisi dalam shalat kita mengucapkan Allahu Akbar, tetapi ada satu ketika bangun dari ruku’ mengucapkan sami’a Allahu liman hamidah? Kita tidak boleh hanya menjawab memang begitu adanya. Padahal kenyataannya memang ada sebuah kejadian yang bersifat historis yang membuat kalimat Allahu Akbar diubah menjadi sami’a Allahu liman hamidah. Bahkan kita perlu menstimulasi sikap kritis mereka, mengingat banyak konsep-konsep penting dalam Islam juga dipahami secara tidak benar. Dulu sudah dipahami dengan benar, tetapi disalahpahami oleh generasi ulama’ terkemudian. Merekalah yang bertugas untuk melakukan rekonstruksi di masa depan. Gunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk menstimulasi mereka dan tentu saja jadikan juga pemahaman dari ayat-ayat itu sebagai ukuran kebenaran yang harus kita kerjakan secara konsekuen. Setelah merenungkan secara mendalam, lalu mendapatkan pemahaman yang benar, kita ajak anak-anak kita mengerjakannya sampai menjadi kebiasaan.

Kelima, kondisikan anak-anak kita agar memiliki kebiasaan mengajarkan al-Qur’an. Yang paling sederhana adalah mengajarkan membacanya, kemudian juga mengajarkan pemahaman walaupun tentu saja yang level sederhana. Ini adalah kesempatan yang akan membuat anak-anak kita menjadi manusia kategori terbaik sebagaimana disabdakan Rasululullah. “Khairukum man ta’allama al-Qur’an wa ‘allamah, sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”. Di antara yang paling perlu mendapatkan perhatian adalah mempersiapkan dalam arti yang luas. Mengajarkan al-Qur’an yang paling ideal adalah yang tidak meminta bayaran. Karena itu, anak-anak kita harus kita ajari untuk memiliki kemandirian hidup, termasuk di dalamnya adalah kamandirian finansial. Jika mereka memiliki kemandirian finansial, mengajarkan al-Qur’an akan mereka lakukan tanpa harapan mendapatkan imbalan. Mereka akan menjadi generasi Rabbani yang mengajar benar-benar karena panggilan untuk menyampaikan ajaran Tuhan. Mereka akan menjadi figur-figur yang layak diikuti karena mereka membawa kebenaran dan tidak menjadikannya sebagai alat untuk mendapatkan bayaran sebagaimana berkali-kali ditegaskan oleh al-Qur’an sendiri.

Keenam, melatih anak-anak kita untuk memiliki kemampuan dalam memperjuangkan ide yang ada dalam al-Qur’an sampai terwujud dalam kehidupan keseharian. Membaca dan mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan pribadi, memang sudah bagus. Lebih bagus lagi jika ide-ide dalam al-Qur’an bisa diimpelementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bahkan juga bernegara. Tentu saja, agar ide itu benar-benar bisa terwujud, diperlukan seni tingkat tinggi. Untuk itu, mereka harus memiliki kemampuan khusus yang di antara jalannya membiasakan mereka berorganisasi agar mampu membangun kolaborasi, baik dalam bentuk kerjasama dan lebih bagus lagi sinergi. Jangan sampai hafalan al-Qur’an membuat mereka menjadi orang yang sibuk dengan diri sendiri, merasa shalih sendiri, tetapi tidak memiliki kepedulian tinggi kepada lingkungan sekitar yang memerlukan sentuhan bukan hanya kultural tetapi juga struktural.

Tentu saja ini tidak mudah. Dan tidak semua orang tua mampu melakukannya. Jika orang tua merasa dalam fase tertentu merasa tidak mampu melakukannya, maka carikanlah untuk anak-anak yang diharapkan menjadi pejuang al-Qur’an itu lembaga pendidikan Islam yang benar-benar memiliki kualifikasi yang sesuai. Perhatikan seluruh kebutuhan untuk berproses menjadi pribadi yang tidak hanya shalih (baik) tetapi juga mushlih (memperbaiki). Di antara ciri lembaga pendidikan yang akan membantu anak-anak kita belajar al-Qur’an dengan optimal adalah memiliki jumlah pendidik dengan rasio besar. Jangan sampai lebih dari 1:10. Sebab, anak-anak belia membutuhkan panduan privat, karena yang mereka perlukan adalah menguasai ilmu-ilmu dasar dan ilmu alat. Kalau anak-anak usia belia hanya diberi ceramah-ceramah umum, pasti mereka akan gagal. Perhatikan ini dengan baik, agar anak bisa meniti anak-anak tangga secara urut, sehingga memudahkan mereka dalam proses menjadi pejuang al-Qur’an.

Semoga surat ini bermanfaat untuk kita semua, dan di masa depan kita memiliki generasi muslim intelektual profesional dengan basis kuat al-Qur’an, dan tentu saja juga Sunnah Nabi Muhammad saw..

Wabillahit taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semarang; 03/03/2023

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.

Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon (PLANET NUFO), Rembang dan Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute, Semarang; Pengajar di Prodi Ilmu Politik FISIP UMJ.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *