Penyesalan (Refleksi Hari Ibu 2022)

Ku pandang nanar batu nisan di hadapanku. Rumput-rumput tumbuh lebat namun rapi di makam itu. Meski aku jarang menjenguk namun telah diperkerjakan seseorang untuk selalu membersihkan makamnya, dan menaruh bunga mawar merah segar setiap hari, seperti hari ini. Ialah makam sang ibunda yang telah menemaniku selama empatbelas tahun masa hidupku sebelum ia dipanggil Tuhan, menyusul ayahku. Ya, kini aku telah menjadi seorang yatim-piatu. Namun, bukan berarti aku sudah tak memiliki semangat hidup. Aku sungguh memilikinya sebelum sesuatu merebutnya.

Perkenalkan, diriku adalah seorang mahasisiwi yang telah menyandang gelar “sarjana”. Niatnya aku ingin lanjut S2, namun ternyata ada halangan yang menghadang. Orang kerap kali memanggilku Anum dengan nama lengkap Anum Dilara. Hhh … sebenarnya arti namaku itu bagus. Bukannya bermaksud sombong, tapi lihat! Hadiah dari Tuhan yang dicintai. Bukankah itu arti yang bagus?

Setelah setengah tahun tak kembali berkunjung ke “rumah”. Aku akhirnya kembali dengan membawa piagam penghargaan sebagai lulusan terbaik. Ah, Ibu! Lihatlah anakmu ini! Ia berhasil mencapai hal yang kau inginkan!

Sebenarnya aku sedikit ragu untuk datang kemari, namun orangtua angkatku menyuruhku. Ya, aku memilikinya. Mereka adalah sahabat lama dari kedua orangtua kandungku. Mereka jugalah yang memberiku tempat berlindung kala tiada sanak-saudara yang bisa menampung diriku.

Bacaan Lainnya

Ku usap pelan batu nisan itu. “Ibu, Anum memiliki kabar baik maupun kabar buruk. Anum minta izin untuk memberitahu Ibu kabar buruk dulu, ya?”

“Ibu, Anum meminta maaf pada Ibu karena tidak pernah mengunjungi makam milk Ibu selama setengah tahun terakhir ini.” Ku tarik napas pelan, membenarkan rambutku yang jatuh menutupi pandangan. Berusaha mati-matian menahan diriku untuk tidak menumpahkan air mata. “Jujur, Anum memiliki alasan tersendiri mengapa Anum tidak menjenguk pusara Ibu. Maafkan Anum, Ibu.”

Ku coba teguhkan hati yang mulai goyah ini. Apakah aku sungguh harus mengatakannya? “Ibu, alasan kenapa Anum tidak menjenguk Ibu karena dokter mendiagnosa bahwa Anum terkena kanker payudara dan sudah masuk stadium empat, stadium akhir. Anum harus melakukan banyak hal terkait penyaki ini. Bahkan Anum mengikuti acara kelulusan secara daring.”

“Anum terkejut saat mengetahuinya karena Anum sama sekali tidak menyadarinya. Kata Mama, Anum terkena penyakit ini karena faktor keturunan. Dan itu didapat darimu, Ibu. Apakah itu penyakit yang sama yang membunuhmu, Ibu?”

Aku tersenyum miris karena tentunya aku tahu pertanyaan itu tidak akan dijawab. Tapi, aku hanya ingin ada orang yang mendengarku. Meski aku tidak tahu apakah Ibu mendengarku atau tidak, tapi aku berharap agar Tuhan mengizinkan Ibu untuk mendengarku.

“Ibu, dokter berkata bahwa Anum sudah tak memiliki harapan untuk hidup lagi. Namun untung saja, gelar sarjana itu telah Anum sandang. ”

Ku teguhkan kembali hatiku yang terasa runtuh. Sungguh aku sebenarnya tak kuasa untuk memberitahu Ibu, namun aku juga butuh senderan—meski hanya dapat kudapatkan secara kasatmata—dari tatapan-tatapan kasihan orang-orang di sekitarku. Bahkan, Mama dan Papa juga ikut memberikannya padaku. Aku tak mau, aku tak mau dianggap sebagai manusia yang patut dikasihani meski keadaanku berkata demikian.

“Ibu, dokter juga berkata bahwa hidup Anum tinggal sebulan lagi. Sebulan lagi Bu, sebulan lagi.” Tak terasa air mata mengalir begitu deras tanpa aku sadari sedari tadi. Apakah aku masih bisa mengatakannya dengan jelas?

Aku tersenyum, mencoba menguatkan diriku sendiri. “Ibu, apa Ibu tahu apa yang terjadi saat Anum mengetahui itu? Anum berkata pada diri Anum sendiri untuk tak menangis, tak bersedih. Awalnya itu berhasil namun kini saat Anum benar-benar menyadari bahwa Anum hanya memiliki batas waktu sebuulan saja, Anum tak tahu lagi harus berbuat apa,” ku meremas pergelangan tanganku, kencang. “Anum berpikir tentang segalanya, tentang berbagai hal yang belum Anum lakukan. Salah satunya adalah menikah dengan terkasih dan memiliki anak. Tapi sepertinya itu tidak pernah dapat tercapai, Bu. Calonnya saja bahkan belum ada,” ujarku, berusaha menghibur diri.

Ku tarik napas segenap tenaga seakan ada kekuatan asing yang menahanku. “Ibu, sejujurnya Anum ingin menjadi ibu seperti Ibu dan Mama, namun harapan Anum bahkan telah mati sebelum mekar indah. Anum sungguh tak tahu harus berbuat apa lagi. Anum tak tahu.”

Entah sejak kapan diriku telah bersimpuh di makam ini. Entahlah, aku juga tak terlalu peduli. Pikiranku terlalu kalut akan hal yang terjadi secara mendadak kepada diri ini. Hati yang juga kian tak tenang kala matahari telah menyingsing dari timur sana. Raga yang kian lama kian melemah pula membuatku sebenarnya tak bisa ada di luar ruangan selama ini, namun aku tetap tak peduli. Lagipun orangtua angkatku tak melarangku untuk melakukannya.

“Ibu, andai Ibu ada di sini menemani Anum. Tapi itu hal yang mustahil, ya?” Aku terkekeh pelan. “Ibu, Anum sebenarnya tertarik kepada seseorang lelaki selama lima tahun. Tapi orang itu sepertinya tak akan tahu kan, Bu? Secara Anum kan bentar lagi nyusul Ibu dan Ayah.”

“Ibu, lelaki itu bernama Azam Dayyan. Ialah yang menolong Anum saat Anum kebingungan. Ia juga terkenal ramah, baik hati, dan pekerja keras di luar maupun dalam kampus. Ia lelaki yang baik bukan, Bu?” Aku tertawa malu saat mengatakannya. Bisa-bisanya aku berbicara seperti itu. Memalukan!

Tapi dengan cepat pula suasana hati ini berubah. “Namun sayang sekali, Bu. Karena ternyata, Azam telah memiliki tambatan hati sejak ia masih memakai seragam berwara putih-abu. Seseorang gadis cantik nan baik hati bernama Safira Setiana Balqish. Gadis yang juga adalah sahabat karib Anum sejak Anum masih berebut permen dengannya. Ia seorang gadis yang pastilah sama baiknya dengan Azam. Anum tak ingin bersaing dengannya.”

“Ibu, semoga pilihan Anum ini benar. Anum sebenarnya masih tetap ingin memilikinya sebagai pasangan, namun Anum juga yakin waktu tak berpihak pada Anum. Anum hanya dapat sebuah keajaiban terjadi. Kekanak-kanakan bukan, Bu? ” Aku tersenyum, meremehkan diriku sendiri. Hei, lihatlah diriku yang tampak seperti orang gila! Berbicara kepada seseorang yang sudah berbeda alam denganku. Benar-benar gila, bukan?

Kembali ku usap halus nisan makam itu. “Tapi Bu selain hal-hal tadi, Anum juga ingin berkata akan suatu hal di tanggal 22 Desember ini.” Kutarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, “Selamat Hari Ibu, Bu. Anum sangat sayang dengan Ibu. Anum rindu dengan Ibu pun sama ddengan ayah, tapi Anum juga tahu bahwa tak lama lagi Anum akan pergi menyusul Ibu dan Ayah di sana. Maaf ya Bu, Anum tak bisa bertahan lagi karena ternyata tubuh Anum sudah tak kuat menahannya.” Ku usap air mata ini kasar. Cih, lemah sekali diri ini. Tapi memang diri ini sudah melemah, bukan?

“Maaf ya, Bu. Anum sangat memohon maaf kepada Ibu akan sikap Anum yang rasanya tak baik di masa lalu. Anum sangat meminta maaf.” Langit menurunkan “anaknya” untuk meluncur turun dengan deras ke permukaan bumi saat aku selesai berkata seperti itu. Entah apa maksudnya, namun yang jelas adalah kini bulir-bulir dari mata ini tak lagi kelihatan karena tersamarkan oleh air ini.

Hhh … betapa segarnya air yang membasuh muka bumi ini. Namun jika sudah seperti ini, itu artinya aku harus segera pulang. Kalau tidak, ibu akan khawatir. Ku usap makam yang berbalut rumput hijau itu. “Maaf, Bu Anum harus pulang. Nanti jika masih sempat Anum akan berkunjung kembali. Ibu baik-baik ya, di sana. Anum akan menyusul.”

***

Tanpa Anum sadari, seseorang telah memperhatikannya sedari tadi dari sebuah pohon beringin besar yang tak jauh dari sana. Seseorang yang memakai baju serba putih. Kulitnya yang tampak sehat terawat, begitupun dengan rambut hitam itu. Tangannya meremas kencang sesuatu. Sebuah sisir.

Seseorang itu dapat dengan jelas mendengar dan melihat semua yang terjadi. Ia juga ikut sesak saat mendengar kata-kata anaknya itu. Ah, ia tak menyadari penyakit yang membuatnya pergi ini turu kepada anaknya. Ia tak mengetahui fakta itu.

Tepat seperti yang kalian tebak. Seseorang itu ialan Ibu Anum, Ibu Mira Safina. Seseorang yang sedari tadi diajak “bicara” oleh anaknya. Meski Anum tak bisa melihatnya, namun belum tentu Mira tak mengetahuinya. Ia tahu semua yang terjadi kepada anaknya. Ia mengetahui itu semua karena sebetulnya ia tak benar-benar pergi. Setengah dari jiwanya masih bersemayam di dunia ini, seelum menyusul ke alam baka.

Mira memeluk erat sisir itu. Sisir yang selalu ia gunakan sat menyisir ramput indah milik anaknya. “Kamu tak pernah salah, Anakku. Kamu tak pernah salah.” Mira sedih kala mengucapkannya. Anum tak pernah salah apa-apa kepadanya. Ia anak yang baik. “Ibu juga mencintaimu.” Lepas berkata begitu, Mira segera berbalik pergi karena sudah waktunya. Ia harus mempersiapakan segalanya.

Oleh: Putri Mahira S., Siswi Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Rembang, Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR) Planet Nufo

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *