Ceritaku dan Hari Ibu

“Be! Abe sayang, cepat, Nak! Busnya sebentar lagi datang!” teriak seorang wanita paruh baya dari lantai bawah.

“Iya, Ma. Sebentar, lagi beres-beres buku!” teriak seorang anak laki-laki dari lantai atas yang tak kalah keras dari mamanya.

Hari ini Abe kembali bersekolah setelah 2 hari libur karena sakit demam yang sangat tinggi. Akhir-akhir ini Abe disibukkan oleh buku pelajaran. Mengingat sebentar lagi akan diadakan ujian akhir semester. Abe menjadi lebih sering kelelahan dan terserang flu. Saat ini, Abe sedang menduduki bangku kelas 3 SMP, sebentar lagi pasti akan menjadi murid berseragam putih abu-abu.

Pagi ini cuacanya tak sebagus biasanya. Awan gelap menutupi sinar matahari. Udara terasa agak dingin. Hari ini mungkin akan sangat suram bagi Abe. Jadwal pelajaran hari ini tiba-tiba diubah. Satu hari full pelajaran biologi. Abe sangat tidak menyukai biologi. Bukan hanya karena pelajarannya yang tak menyenangkan, akan tetapi gurunya yang sangat menyebalkan.

Sepertinya bukan hanya Abe saja yang sebal, murid-murid lain bahkan juga sama sebalnya dengan Abe. Sikap guru biologinya itu bukan hanya bawel, tapi juga suka marah-marah, pelit, dan juga keras kepala. Apalagi saat mengomentari tentang kebersihan. Huh! Itu lebih dari kata menyebalkan.

Abe menuruni satu persatu anak tangga sembari melihat sekeliling mencari keberadaan orangtuanya. Abe berjalan menuju meja makan dan hanya mendapati mamanya duduk sendiri di meja makan. Sedari tadi dia tidak melihat sosok ayahnya. Wajah Abe terlihat kebingungan yang membuat mama bertanya-tanya.

“Kenapa, Be?” tanya mama.

“Ayah dimana, Ma? Semalam aku mendengar suara mobil masuk garasi.”

“Ayah mendadak mendapatkan telpon dari kantor. Jadi, pagi-pagi sekali ayah harus pergi. Mungkin nanti ayah akan pulang lebih cepat dari biasanya.”

“Huh! Ayah selalu saja sibuk,” ucap Abe dengan memasang wajah cemberut.

Abe tidak menanggapi perkataan mamanya. Mama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak semata wayangnya. Abe berpamitan dengan orang tuanya. Setelah berpamitan, dia langsung melangkah pergi tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Be!” Mama tiba-tiba memanggil dan membuat langkah Abe terhenti.

“Ya, Ma?” Abe menoleh ke belakang.

“Jangan lupa membawa jaketmu!” ucap mama sambil melempar sebuah jaket berwarna hijau tosca.

“Oke, Ma.”

Abe melangkah pergi. Mama menatap punggung Abe yang perlahan hilang ditelan oleh pintu.

***

“Bevi,” panggil seorang pria.

“Ya, Pak?”

“Tolong gantikan saya di pertemuan hari ini pukul 09.00 di gedung utara lantai dua. Saya harus menghadiri acara pertemuan keluarga,” pinta pria tersebut.

“Bai, Pak,” ucap Bevi, sambil membungkukkan badan empat puluh lima derajat.

Pria tersebut melangkah pergi meninggalkan Bevi. Sepertinya ia akan lembur hari ini. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat oleh perkataan Abe pagi tadi. Perkataan Abe ada benarnya juga. Suaminya sepertinya terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu luang untuk dihabiskan bersama anaknya.

Bevi meraih ponselnya dan menelpon seseorang. Dua kali panggilan tidak terjawab. Sepertinya dia memang benar-benar sibuk. Bevi meletakkan kembali ponselnya di atas meja lalu duduk di kursi kerja miliknya.

Tuuttt… Tuuttt… Tuuttt…

Ponsel Bevi berbunyi. Dengan sigap, Bevi menyambar ponselnya lalu menggeser tombol hijau di layar ponsel. Panggilan itu berasal dari orang yang sedari tadi Bevi coba hubungi namun gagal.

Ada apa, Ma?” tanya seorang pria di sebrang.

“Kamu pulang kapan?”

Mungkin siang ini aku pulang. Apakah terjadi sesuatu?

“Tidak. Aku hanya ingin memintamu pergi jalan-jalan bersama Abe. Tadi pagi dia cemberut karena kamu tidak pernah ada waktu untuknya. Mungkin dengan mengajaknya jalan-jalan sebentar bisa membuat perasaannya sedikit membaik. Aku tidak bisa ikut. Aku harus lembur malam ini.”

Baiklah kalau begitu. Jaga kesehatanmu. Kamu mau di belikan apa?

“Apa saja deh, terserah.”

Siap ibu negara.

Tuuuut…

Panggilan dimatikan secara sepihak oleh Bevi. Ia meletakkan kembali ponselnya lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Tak lama ponsel Bevi kembali berdering.

***

Bevi berlari di koridor rumah sakit saat mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit bahwa anak laki-lakinya, Abe, merupakan salah satu korban dari kecelakaan bus. Rumah sakit sangat sibuk. Banyak korban baru diturunkan dari mobil ambulan. Bevi bertanya di meja resepsionis.

“Pasien bernama Abelvan Reano ada dimana?” tanya Bevi dengan nada tergesa-gesa.

“Pasien berada di ruang ICU di lantai 5.”

“Terima kasih.”

Bevi melangkah dengan sangat cepat menuju lift yang kosong. Saat sudah masuk ia menekan tombol yang bertuliskan angka lima. Keringatnya berkecucuran, badannya panas dingin. Tak lama kemudian pintu lift perlahan terbuka.

Suasana koridor sangat sepi. Saat berbelok ke kiri, ia langsung mendapati ruang ICU. Bevi berdiri mematung di depan kaca ruang ICU dan memandangi tubuh putranya yang di kelilingi oleh alat-alat medis.

Tubuh Bevi bergetar. Ia sudah tidak kuasa lagi menahan air mata. Tetesan demi tetesan turun menghujani pipi Bevi. Matanya memerah, dan wajahnya perlahan berubah menjadi sangat pucat.

Di tengah isakan tangis Bevi. Ada yang memeluknya dari belakang tiba-tiba. Ia sangat mengenal aroma tubuh itu. Tak lain dan tak bukan itu pasti suaminya. Tangisan Bevi semakin pecah di dalam pelukan suaminya.

***

Saat itu jalanan tidak terlalu ramai. Bus melaju dengan sangat cepat. Abe duduk di bangku paling belakang. Ia bertemu dengan seorang murid baru. Abe mengajak berkenlan anak baru tersebut.

“Hei, apa kau anak baru? Kau kelas berapa?” tanya Abe.

“Ya, aku kelas 1 SMP.”

“Siapa namamu? Namaku Abelvan Reano kelas 3 SMP,” kata Abe sambil mengulurkan tangannya.

“Namaku Avie Banami,” ujar Avie sembari menerima uluran tangan dari Abe.

Brakkk!!!

Sebuah mobil yang tiba-tiba melaju kencang dari arah yang berlawanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Suara benturan terdengar sangat keras. Sebuah kecelakaan telah terjadi saat ini. Pecahan kaca berserakan di jalanan. Asap mengepul dari mesin bus dan mobil.

***

Satu bulan berlalu. Kondisi Abe sudah sangat membaik. Ia sudah dipindahkan diruang rawat inap beberapa hari yang lalu.

Saat Abe siuman, kaki kirinya didiagnosis lumpuh permanen. Dan itu membuatnya terpukul. Namun itu hanya untuk sesaat saja. Bevi berusaha dengan cara apapun membangkitkan suasana hati Abe yang sedang terpukul.

Sore ini cuaca sangat mendukung. Bevi memutuskan untuk membawa jalan-jalan Abe. Taman rumah sakit tidak terlalu ramai. Bevi mendorong kursi roda Abe menuju sebuah bangku di bawah pohon yang cukup luas untuk dua orang. Bevi membantu Abe untuk duduk di bangku tersebut.

Mereka menikmati pemandangan taman sembari makan roti isi buatan Bevi yang menjadi makanan kesukaan Abe sejak kecil. Sesekali mereka saling melontarkan canda tawa.  Gelak tawa Abe membuat hati Bevi menjadi tenang.

Drrrtt… Drrrtt… Drrrtt…

Ponsel Bevi bergetar. Bevi memandang sejenak ponselnya lalu mengalihkan pandangannya kepada Abe.

“Mama mau angkat telpon dulu ya sayang,” kata Bevi yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Abe. Bevi berjalan menjau ke tempat yang sepi.

Abe melihat sekeliling. Sorot matanya tak sengaja melihat seorang anak kecil yang sedang menangis di pelukan ayahnya. Anak itu menangis sangat keras sampai membuat ayahnya kebingungan harus melakukan apa. Ibunya lalu datang membawa sebuah balon. Anak kecil itu langsung menghentikan tangisannya dan berlari memeluk ibunya.

Hal itu mengingat kan Abe pada masa kecilnya dulu. Kemana-mana harus ada mama. Jika tiba-tiba mama pergi, Abe pasti akan menagis sekencang-kencangnya. Ayah akan bagaikan nyamuk saat mereka bertiga sedang bermain bersama. Masa-masa yang sangat menyenangkan bagi Abe.

Abe membuka buku yang ia bawa dari kamar. Ia teringat akan suatu hal. Lusa, adalah hari ibu. Abe ingin memberikan sebuah surat sebagai hadiah. Dulu, dia selalu bekerjasama dengan ayahnya untuk memberi kejutan untuk Bevi. Namun, karena sekarang dia tidak bisa kemana-mana, dia hanya membuat surat saja.

Bevi sudah kembali lalu mengajak Abe untuk kembali ke kamar. Matahari perlahan tenggelam dari ufuk barat. Langit berwarna jingga kemerah-merahan. Udara berhembus menerpa lembut wajah Abe. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

Malamnya Abe demam yang disertai batuk berlendir dan pilek. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Bukan hanya itu saja, Abe juga mengalami suara bernada tinggi yang keluar saat bernafas. Bevi sangat khawatir dengan kondisi Abe saat ini.

Dokter bilang, kondisi sangat buruk. Dokter juga belum mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dokter menyuruh Bevi saat terjadi gejala-gejala kecil pada Abe langsung menghubungi dokter. Bevi mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih kepada dokter. Setelah dokter keluar dari ruangan tersebut, Bevi berjalan mendekati Abe. Ia mengelus lembut surai hitam Abe.

Pada saat tengah malam, Abe terbangun karena merasakan nyeri didadanya, yang disusul oleh rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Nafasnya terasa sangat sesak. Dia ingin berteriak memangil orangtuanya yang sedang tertidur pulas di sofa besar di kamarnya. Suasana sangat hening, namun karena suara Abe serak, jadi tidak bisa terdengar sampai sofa.

***

Paginya ayah Abe mendapati putranya yang pingsan di atas bangsal langsung berseru panik. Bevi yang terbangun dan segera menyadari apa yang sedang terjadi pun langsung berlari memanggil dokter. Mereka bergerak cepat membawa Abe ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan.

Di depan pintu IGD Bevi terlihat sangat cemas. Ia tidak bisa duduk diam. Pikirannya berkecambuk kemana-mana. Ia terus menggigiti kuku jarinya. Suaminya yang melihat tingkah istrinya berusaha menenangkan.

Tak lama kemudian, pintu ruang IGD terbuka. Menampakkan seorang wanita berkharisma mengenakan jas putih. Wajahnya kusut adalah pertanda yang tidak baik. Dan ternyata dugaan itu benar. Kabar buruk datang tiba-tiba. Abe terlambat mendapat penanganan. Sehingga nyawanya terenggut.

“Karena kecelakaan yang anak ibu alami, ia mengidap infeksi paru-paru. Pada saat kecelakaan itu terjadi, anak ibu menghirup asap yang berlebihan, sehingga menyebabkan infeksi pada paru-paru. Anak ibu diperkirakan pingsan sudah lebih dari 2 jam. Hal tersebut membuat kondisinya yang sangat buruk menjadi lebih buruk lagi.” Jelas dokter tersebut. Msetelah itu dokter berpamitan pergi meninggalkan mereka berdua.

Tangisan mereka meledak begitu saja saat melihat jasad Abe dibawa ke ruang jenazah. Hati mereka bagaikan ditusuk ribuan belati tajam. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Mulut mereka sangat kaku bagaikan mulut sebuah patung dari batu. Saat ini mereka benar-benar sangat terpukul. Tidak menyangka atas apa yang telah terjadi.

***

Siang ini mereka beresres barang mereka yang ada dirumah sakit lalu pulang. Namun saat Bevi membersihkan nakas, ia mendapati buku jurnal Abe. Ia membuka lembaran demi lembaran. Ia menemukan satu lembaran yang sangat menarik baginya.

 

To : Listia Beviar

 

        Ma, selamat hari ibu! Maafkan Abe yang hanya bisa memberikan surat ini saja. Mama, terima kasih atas semua pengorbanan mama. Terima kasih telah merawat dan membesarkan Abe dengan sepenuh hati. Ma…, Abe sayaaaaanggg banget sama mama. Maafin Abe yang punya banyak salah ya ma.

        Abe minta maaf tidak bisa membalas semua yang telah mama berikan kepada Abe. Mama adalah wanita terhebat dalam hidup Abe. Mama adalah ibu terbaik bagi Abe. Intinya Abe seneng banget bisa sama-sama terus sama mama.

Mama tau aku sangat senang memiliki ibu seperti mama. Terima kasih telah menjadi teman setia dalam hidupku. Maaf ya ma, Abe nggak bisa nulis banyak. Sekali lagi selamat hari ibu! I say good bye, thank you, and sorry for you mom.

 

Peluk sayang dari Abe untuk mama

 

From : Abelvan Reano

 

22 Desember 2022

 

 

Bevi menangis saat membaca surat dari mendiang anaknya. Ia membuka lembaran lain. Sebagian besar tulisannya menceritakan tentangnya saat hari itu juga dalam bentuk sajak. Bevi memeluk erat buku jurnal Abe.

Abe dimakamkan pukul 15.00 sore. Semua sanak saudara datang dari tempat yang jauh. Semua teman-teman Abe, guru-guru, bahkan sampai pedagang warteg langganan Abe ikut menghadiri upacara pemakaman. Rumah duka dibanjiri oleh kesedihan.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Akan tetapi, Bevi masih sering menangis sendiri ketika mengingat tentang Abe. setiap kali ia melihat anak kecil, ia selalu teringat Abe. Dulu di saat suaminya pergi ke luar kota, Bevi selalu berdua dengan Abe. Namun sekarang, dia sendiri yang ada di rumah. Suasana rumah menjadi sangat sedih.

Setelah satu tahun berlalu. Bevi sudah bisa menjalani kehidupan seperti biasanya lagi. Namun, suatu saat Bevi mengunjungi sebuah panti asuhan. Di sana banyak sekali anak-anak yangsedang bermain. Sebagian besar dari mereka memiliki sifat ceria dan sangat menghibur. Sorot mata Bevi mendapati seorang anak kecil sedang menangis. Ia mendekati anak tersebut lalu bertanya, “Hei nak, kamu kenapa?” ketika anak kecil itu mendongak dam membuat Bevi terkaget. Anak itu sangat mirip sekali dengan Abe.

“Mereka nakal. Lifie dipukul sama mereka,” kata anak kecil itu sambil menunjuk dua orang anak yang badannya lebih besar darinya. Bevi terhenyak sesaat. Bahkan suara Lifie sangat mirip dengan Abe. Gaya bicara mereka juga mirip. Bevi terdiam melihat hal ini.

 

Oleh : Raeesa Farras Fisabilillah, Sanja SMP Planet Nufo kelas 7, Sekretaris Umum Komisariat Pelajar Islam Indonesia (PII) Planet Nufo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *