Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si., PB HMI 2003-2004
Tak ada, dan sepertinya, tak akan pernah ada cerita, aktivis dan senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi pembicara di forum-forum HMI diberi honor. Dalam budaya HMI, ini menjadi semacam dilemma. Menjadi pembicara di HMI tetapi tidak ditodong sumbangan, itu sebuah “keberuntungan”. Namun, jika senior tidak “ditodong”, itu bisa menyebabkan ketersinggungan, karena merasa dianggap tidak sukses secara finansial. Dengan kata lain undangan jadi pembicara di HMI sesungguhnya mengandung risiko berupa juga dimintai sumbangan untuk pembiayaan kegiatan. Sudah diminta menjadi pembicara, dimintai sumbangan pula. Begitu kira-kira ungkapannya. Namun, justru kadang yang demikian itulah yang mendatangkan kebahagiaan dan bahkan jika tidak benar mengelola niat bisa mendatangkan dosa karena merasa bangga. Sebab, undangan para kader HMI itu sesungguhnya menandakan pengakuan kepada setidaknya: kapasitas intelektual, kemampuan finansial, dan/atau kesuksesan struktural/jabatan.
Saya termasuk orang yang mendapatkan sangat banyak keuntungan dari HMI. Mungkin, sekilas kelihatannya keuntungan itu bersifat non-material. Namun, sesungguhnya kemudian bisa juga dilihat dalam konteks material, atau setidaknya bisa dimaterialisasikan, walaupun itu sama sekali bukan niat utama alias sekedar implikasi saja. Karena keuntungan itulah, saya ingin menuliskan sebagiannya, dengan tujuan agar terutama para kader yunior menempuh koridor jalan yang sama untuk juga mendapatkan banyak keuntungan dan keberuntungan besar itu, bahkan bisa lebih besar lagi. Di antaranya saya mendapatkan istri aktivis Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Semarang asal komisariat FK Undip Semarang, yang kemudian menjadi pendukung utama saya dalam aspek materi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam membangun Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang dan juga Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO di Rembang. 100 persen mahasantri di Monasmuda Institute Semarang wajib mengikuti LK I, LK II dan SC untuk menjadi instruktur HMI. Sebagian besar santri-murid di Planet NUFO adalah anak-anak mantan aktivis HMI, sehingga pesantren ini menjadi tak ubahnya rumah perkaderan untuk anak-anak belia yang nanti lebih siap menjadi aktivis HMI. Sebab, mereka diajar oleh guru-guru yang 100 persen adalah kader HMI dari Monasmuda Institute yang menempuh program studi pascasarjana.
Berbagai keberuntungan saya dimulai dengan menjadi instruktur perkaderan HMI. Karena menjadi instruktur ini, selama kuliah S1, waktu akhir pekan lebih banyak saya jalani di forum-forum LK I, yang seringkali diselenggarakan di desa terpencil, agar para peserta tidak bisa “melarikan diri”. Tentu saja semua tahu bahwa jangankan bayaran, bensin pun harus dari kantong sendiri. Lauk nasi bungkus yang disediakan panitia pun bisa digunakan candaan tebak-tebakan “tahu atau tempe”. Beruntung kalau panitia mengantarkan nasi bungkus dengan telur rebus. Itu adalah menu luar biasa yang keluar dari catatan dalam undian.
Awalnya, beberapa kakak angkatan di HMI menyebut saya terlalu prematur untuk menjadi instruktur di HMI, karena baru semester III. Saat itu, tahun 1998, HMI Cabang Semarang mengadakan training Senior Course (SC). Namun, ternyata tidak banyak yang berminat untuk menjadi peserta. Sampai hari H, walaupun panitia sudah mengerahkan segala tenaga untuk usaha, ternyata peserta tidak lebih dari lima orang saja. Karena itu, ketua umum cabang yang saat itu dijabat oleh Asep Aonillah, kemudian menghubungi siapa saja yang sudah lulus LK II untuk ikut SC. Dan saya yang baru beberapa bulan mengikuti LK II pun menjadi salah satunya. Dengan cara itu pun, jumlah peserta hanya belasan saja. Mungkin karena para kader HMI menganggap bahwa tidak ada korelasi antara training SC dengan perebutan struktur HMI. Sebab, biasanya yang menjadi syarat untuk menduduki posisi dalam struktur kepengurusan di atas komisariat hanya LK II dan LK III. Sedangkan mereka yang lulus SC hanya menjadi “penjaga” LK-LK. Mereka sekilas hanya menjadi pekerja organisasi yang dipandang tidak memiliki prestasi, karena tidak memiliki kewenangan untuk melakukan akses kepada pihak luar organisasi. Namun, sesungguhnya itu pandangan yang terlalu pendek dan biasanya menyebabkan pragmatisme yang lebih banyak “mencelakakan”.
Menjadi instruktur HMI sesungguhnya bukan berarti menghalangi untuk mendapatkan posisi dalam struktur inti HMI. Bahkan, keduanya mestinya bisa dijalani secara sinergis, karena bisa saling mendukung. Analognya adalah ber-HMI dan kuliah di kampus. Ber-HMI mestinya membuat kuliah menjadi berkualitas, ditunjukkan dengan di antaranya menjadi lulusan tercepat dan/atau terbaik atau setidaknya memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa kebanyakan, bukan karena ber-HMI malah di-DO atau terlambat lulus dengan prestasi yang biasa-biasa saja. Sebab, HMI membuat para aktivisnya memiliki kapasitas yang lebih, karena memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan mahasiswa biasa dan bahkan tantangan yang lebih berat dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain. Dinamika internalnya lebih sarat gelombang, karena anggota/aktivisnya berasal dari beragam latar belakang yang memiliki pemikiran atau pandangan dengan spektrum yang sangat luas, sehingga berpotensi sangat besar menimbulkan benturan-benturan dialektik. Namun, dari banyak benturan ini, mereka kemudian terlatih untuk saling asah menjadi lebih tajam berpikir dan berlogika, asih untuk saling mengenal, dan asuh dengan sabar membina, sehingga terbangun sikap saling memahami.
Jika pun instruktur tidak mendapatkan posisi dalam struktur, sesungguhnya mereka mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dan berperan dalam fungsi kaderisasi yang merupakan inti tujuan organisasi pengkaderan. Fungsi inilah yang sesungguhnya lebih penting dibandingkan sekedar struktur. Forum-forum LK di HMI sesungguhnya merupakan forum yang sangat bermanfaat untuk mengakselerasi kematangan seorang kader dengan status sebagai instruktur, baik kematangan intelektual maupun kematangan emosional. Di dalam forum LK, seorang instruktur akan bertemu dengan kader-kader dari berbagai latar belakang afiliasi ormas, orpol, dan yang pasti disiplin keilmuan. Sebab, HMI diikuti oleh mahasiswa dari seluruh jurusan dan perguruan tinggi. Perbedaan-perbedaan itu menyebabkan dialektika intelektual yang lebih keras. Instruktur yang menikmati perannya akan selalu belajar untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga mampu menjadi fasilitator dan juga pemateri yang cerdas dengan menampilkan cara-cara yang lebih bijaksana dalam mengelola pelatihan. Dengan kata lain, forum-forum LK HMI menjadi semacam fasilitas gratis untuk mengaktualisasikan diri di depan umum. Jika seorang instruktur menjalani fungsi dan peran sebagai instruktur secara serius selama tiga tahun saja, dengan jumlah komisariat belasan atau bahkan puluhan, maka ia akan pernah menghadapi puluhan bahkan ratusan forum, karena setelah LK, akan diiukuti dengan follow up yang juga melibatkan para instruktur. Forum-forum inilah yang membuat seorang kader sejati HMI memiliki kesiapan untuk menghadapi forum-forum selanjutnya, juga berinteraksi kepada banyak pihak.
Dari forum-forum “gratisan” itu kepercayaan terbangun, dan kemudian berlanjut di luar forum HMI yang di dalamnya terdapat alumni HMI yang berperan sebagai pemimpin. Saya telah mengisi banyak acara itu dan tetap merasa malu jika menerima “amplop”. Namun, ada banyak juga acara yang saya tidak bisa mengelak untuk menerima amplop, misalnya karena acara itu diselenggarakan oleh instansi pemerintahan yang memang sudah ada anggarannya. Uang dalam amplop-amplop atau bahkan dikirim melalui rekening itulah yang kemudian menjadi salah satu penopang di antara banyak penopang penyelenggaraan aktivitas kaderisasi di Monash Institute Semarang dan juga di Planet NUFO Rembang sampai saat ini. Bahkan beberapa teman yang dulu menjadi teman setia dalam proses kaderisasi ikut juga membantu secara material usaha kaderisasi yang kami lakukan tanpa proposal, bahkan tanpa mengucapkan permintaan sumbangan, sekali pun. Karena tekada kami mendirikan lembaga-lembaga itu sejak awal adalah ingin membangun kemandirian yang lebih baik lagi. Tentu semua itu terjadi karena kami sudah saling mengenal dengan baik, sehingga terbangung kepercayaan (trust). Saya lebih beruntung lagi karena istri saya adalah kohati puteri senior kohati dan sekaligus dosen saya saat kuliah S1 dulu, yang mengerti dengan baik segala aktivitas saya. Istri sayalah yang mencukupi kebutuhan keluarga dengan lima anak yang tentu saja terus meningkat. Bukan saya yang memberikan nafkah kepadanya, tetapi sebaliknya bahkan sayalah yang sering mendapatkan bantuan finansial darinya. Pernah juga mendapatkan uang tiket darinya untuk berangkat menjadi pemateri LK II, termasuk tiga kavling tanah seluas 3000 meter persegi yang dihibahkannya untuk Planet NUFO setelah dua tahun berjalan, sehingga menjadi lebih akseleratif. Satu gedung lantai 3 yang kami namai Darul Qalam III Monash Institute juga adalah wakaf dari mertua saya yang pada saat tulisan ini dibuat sedang digunakan untuk LKK Kohati dan sering digunakan untuk LK I dan LK II.
Mengurus kaderisasi benar-benar merupakan jalan dinamis dan penuh tantangan untuk membuktikan diri sebagai kader sejati dengan modal bersyukur dan ikhlas sebagaimana terdapat pada bait awal hymne HMI. Jika bersyukur, maka nikmat akan ditambah. Jika semuanya dilakukan dengan ikhlas, hanya karena Allah, lillaahi ta’aalaa, maka amal akan diterima olehNya, dan pahalanya akan dilipatgandakan. Selamat milad ke 75 HMI. Wallahu a’lam bi al-shawab.







ada benarnya….