Al-Quran selalu memberikan wawasan baru bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Supaya seseorang bisa mempelajari Al-Qur’an, tentunya harus memiliki alat, seperti halnya memancing ikan yang harus memiliki jarring atau alat pancing. Alat untuk memahami Al-Qur’an adalah kemampuan menguasai bahasa Arab. Setelah menguasai bahasa Arab, barulah seseorang bias membaca, memahami, menghafal, sekaligus mempraktikkannya.

Dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110, memiliki terjemahan sebagai berikut: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Redaksi pada ayat ini menggunakan kalimat pernyataan, yang mengatakan bahwa umat Islam adalah umat yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Amar dalam kata amar ma’ruf, dalam kamus Almaany memiliki arti lain yaitu memerintah, mengutus, menginstruksikan, dan menetapkan. Sedangkan ma’ruf asal katanya ‘arafa yang berarti mengetahui, kenal, baik, kebiasaan, masyhur.

Kesimpulannya, amar ma’ruf  dapat diartikan sebagai perintah untuk mengajak orang lain melakukan sesuatu yang dikenal baik dan tidak nyeleneh. Meskipun takaran baik di tiap daerah berbeda-beda, Islam telah membuat aturan-aturan tertentu tentang mana saja yang bisa disebut baik dan mana saja yang buruk. Misal, di daerah Eropa, melakukan kegiatan minum-minum bersama merupakan hal yang lumrah dilakukan, dan telah dianggap baik. Tapi dalam Islam, melakukan hal tersebut jelas dilarang dan haram. Islam telah menetapkan bahwa tindakan seperti itu tidak boleh dilakukan. Namun berbeda lagi jika itu menyangkut hubungan antar manusia. Di Jawa, ketika seorang anak melakukan kesalahan dan kemudian orang tua memarahinya, si anak harus diam, dan menundukkan kepala, serta tidak boleh menyela ucapan orang tua. Anak juga tidak boleh menatap wajah orang tuanya karena dianggap tidak sopan dan seperti ingin melawan. Namun berbeda lagi jika itu di Gorontalo, Sulawesi. Anak yang kena marah orang tua harus mengangkat muka dan melihat dengan jelas wajah orang tuanya. Jika tidak melakukannya, makan akan dianggap melalaikan omongan orang tua.

Baca Juga  New Normal Pemulih Ekonomi?

Dalam Al-Qur’an, menyuruh kepada yang ma’ruf tidak hanya menggunakan redaksi amar ma’ruf. Diantaranya adaah dalam surat An-Nisa’ ayat 124 yang menggunakan kata wa man ya’mal min ash-sholaati yang artinya “dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuansedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak didzalimi sedikitpin.” Ayat lain yang mengandung makna serupa adalah QS An-Nahl: 97, QS. Al-Anbiya’: 94, dan QS Ghafir: 40. Semua ayat yang telah penulis sebutkan, setelah memerintahkan untuk berbuat kebajikan pasti diiringi dengan kata beriman. Tidak ada ayat yang menyuruh pada kebajikan saja. Itu artinya, berbuat kebajikan dan beriman adalah paket komplit. Beriman menjadi prasyarat untuk melakukan kebajikan. Ketiadaan beriman akan membuat nilai kebajikan tidak dihitung. Tidak boleh hanya melakukan salah satunya saja. Jika demikian, maka amalnya, atau imannya akan sia-sia.

Mengenai nahi munkar, nahi berasal dari kata nahaa, yanhaa yang berarti mencegah, melarang, mengharamkan, dan mengekang. Sedangkan munkar berasal dari kata Ankara, yunkiru yang berarti menyangkal, memungkiri, menyembunyikan, menyamarkan. Selama ini, yang kebanyakan orang pahami terkait nahi munkar adalah tindakan mencegah seseorang berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah atau durhaka. Kata munkar mengalami perkembangan arti dari yang artinya menyangkal menjadi durhaka. Perkembangan arti tersebut tidaklah menjadi masalah, karena orang yang menyangkal adanya perintah Allah sama dengan orang yang durhaka kepada Allah.

Perintah amar ma’ruf nahi munkar hanya ditujukan kepada umat nabi Muhammad yang beriman saja, seperti telah disebutkan dalam ayat. Umat terdahulu tidak mendapatkan perintah serupa seperti umat Islam. Karena itulah, mereka membiarkan kemungkaran terjadi disekitar mereka dan tidak ada orang yang mengajak kembali pada jalan yang benar, seperti telah tertulis pada surat Al-Maidah ayat 79 yang artinya “Mereka tidak saling mencegah perbuatan munkar yang selalu mereka buat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” Mereka yang dimaksud dalam ayat ini dalam tafsiran tafsir Kemenag adalah orang-orang Yahudi.

Baca Juga  Menakar Kefitrian Diri (Bagian ke-1)

Mengingat betapa pentingnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kita sebagai umat nabi Muhammad hendaknya bias mempraktekkan keduanya dalam kehidupan sehari-hari. Sebisa mungkin jangan sampai berat sebelah dengan mempraktekkan salah satunya saja. Berani mengajak kebaikan, juga berani mencegah kemunkaran. Dalam prakteknya, amar ma’ruf terlihat lebih mudah disbanding nahi munkar.  Karena nahi munkar melibatkan orang yang sedang melenceng dari jalan-Nya, dan kita harus berani mengingatkan. Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua. Untuk bias merealisasikan nahi munkar, kita harus menjadi orang yang memiliki kekuasaan terlebih dahulu, agar omongan dan nasihat kita didengarkan.

Oleh: Almas Fairuza Salsabila, Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang

Almas Fairuza Salsabila
Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang

    Allah Telah Menciptakan Manusia dan Memeliharanya, Mengapa Ada yang Dimasukkan ke dalam Neraka?

    Previous article

    Pilkada Langsung Sebagai Cermin Demokrasi Lokal?

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan