Pekan ini anak-anak usia “wajib belajar” memasuki tahun ajaran baru. Banyak orang tua yang sudah berusaha mencari dan memilih tempat pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya, mulai dari tingkat Sekolah Dasar, SLTP, SLTA hingga Perguruan Tinggi.

Tahun ajaran baru bersamaan dengan situasi pandemi Covid-19 yang semakin mengganas. Dampaknya pembelajaran tatap muka di sekolah masih belum bisa dibuka. Pembelajaran masih dilakukan secara daring.

Padahal, tahun ajaran baru merupakan hal yang ditunggu oleh siswa-siswi untuk masuk ke sekolah baru maupun ke kelas baru. Tahun ajaran baru full semangat baru. Namun, sudah dua kali tahun ajaran baru memiliki cerita yang berbeda. Menyambut tahun ajaran baru di tengah pandemi Covid19 bukanlah hal yang menggemberikan. Apalagi bagi siswa-siswi dan guru yang tinggal di daerah sulit mengakses internet.

Kebijakan Pembelajaran Daring Berlanjut

Belum bisa diprediksi kapan pembelajaran tatap muka dapat dibuka, apalagi dalam situasi penerapan PPKM Darurat yang potensial juga diperpanjang. Besar kemungkinan pembelajaran daring akan menjadi kebijakan utama. Bahkan apabila pandemi terus berlanjut, pembelajaran daring bukan lagi sebagai kebijakan “situasi darurat”. Karena terus berlanjut, pemebelajaran daring tidak boleh hanya dilaksana asal “jalan”.

Pemerintah harus mengenali tantangan kebijakan secara komprehensif dilihat dari unsur-unsur yang terlibat dalam proses pembelajaran daring. Aabila kapabilitas unsur-unsur yang ada di dalamnya tidak dipetakan secara baik dengan berbagai kesiapan dan kapasitas, maka pembelajaran daring hanya menjadi euforia, jauh dari cita-cita pendidikan.

Baca Juga  Deradikalisasi dan Islamophobia

Sudah lebih dari satu tahun menjadi kebijakan, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pemebalajran daring. Pertama, persoalan akses dan budaya siswa. Sebagian besar siswa tidak memiliki kemampuan ekonomi memiliki telepon pintar ataupun Laptop yang compatible. Kedua, untuk akses internet yang belum merata. Apalagi di daerah 3T, akses internet sangat sulit bahkan tidak terjangkau.

Ketiga, aspek budaya siswa dalam mengikuti pembelajaran daring. Tidak ada jaminan guru dapat mengontrol agar siswa fokus pada pelajaran, tidak sambil nge-game selama propses bembelajaran daring. Keempat, interkoneksi antara guru dan siswa selama jam pembelajaran. Tidak ada jaminan serta-merta siswa dan guru langsung click laptop atau telepon pintarnya, lalu terjadi kegiatan pembelajaran daring dengan otomatis dan sesuai dengan prinsip pembelajaran jarak jauh.

Mencermati kendala-kendala tersebut, Pemerintah harus segera membuat peta akses internet para siswa di seluruh peolosok negeri. Harus ada proses peningkatan kapasitas guru dan siswa untuk mengenali budaya daring agar bisa memaanfaatkan berbagai aplikasi yang dapat digunakan. Tidak kalah pentingnya, agar pembelajaran daring efektif, orang tua juga harus belajar mengembangkan growth indset dalam new normal pembelajaran bagi putra-putrinya. Orang tua harus bisa mendengarkan anaknya ketika dia menghadapi kesulitan belajar, bisa bertindak sebagai shadow teacher, bisa menjadi model bagi habituasi karakter yang dikhawatirkan akan terabaikan dalam pembelajaran daring. Harapannya, meskipun tidak terjadi interaksi langsung guru atau sekolah dengan siswa, penanaman karakter tetap bisa terjadi secara koheren.

Baca Juga  Teologi Resistensi

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

 

Beternak untuk Membiayai Planet NUFO

Previous article

Pendemi terus Belanjut, Indonesia menghadapi Dilema antara Kesehatan dengan Ekonomi

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan