Sampai saat ini, penyebaran Covid-19 semakin meningkat dan meluas hingga ke penjuru Negeri. Kurang lebih dua tahun lamanya, Indonesia menjalani kehidupannya di tengah pandemi. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, tidak akan berhasil suatu upaya pencegahan Covid-19, apabila tidak saling mendukung antara pemerintah dan juga masyarakat.
Satgas Penanganan Covid-19 meminta kepada siapapun itu, baik pejabat, tokoh masyarakat, maupun tokoh agama, agar mendukung upaya pemerintah dalam memberantas Covid-19. Tercatat, di Indonesia, per-tanggal 12 Juli 2021, korban meninggal sebab Covid-19 adalah sebanyak 66,464 kasus.
Untuk itu, beberapa waktu lalu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak masyarakat untuk menggelar ‘Hening Cipta Indonesia’ pada Sabtu 10 Juli 2021 pagi. Gerakan tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Tiada lain ialah untuk mendoakan para korban yang terkena Covid-19. Gerakan ini ditujukan kepada seluruh elemen masyarakat. Mengingat, banyaknya korban seperti tim medis, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat lainnya. Karena Covid sejatinya tidak mengenal status korban, siapa saja bisa terkena.
Menteri agama, Yaqut mengimbau kepada masyarakat untuk turut berduka, menghentikan sebentar aktivitasnnya, untuk mengheningkan cipta. Dalam ‘Hening Cipta’ ini, Yakut meminta kepada warga untuk melakukan perenungan dan doa bagi mereka yang telah gugur terlebih dahulu. Tapi jangan hanya puas dengan berdoa, gerakan ‘Hening Cipta’ ini harus benar-benar diresapi agar kita bisa berbenah. Agar kita bisa belajar dari hal-hal yang kiranya menjadi penyebab semakin ganasnya penyebaran Covid-19.
Sudah seharusnya masyarakat membuang sikap egois dan tidak berdisiplin. Karena ini semua ada tujuannya, yakni meminimalisir jumlah korban. Sikap disiplin tinggi merupakan jalan yang mesti ditempuh, tentu, ini berawal dari kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Jadikan momen-momen ‘Hening Cipta’ sebagai ajang untuk tetap menumbuhkan solidaritas bangsa untuk bersama menghadapi pandemi. Dan yang selalu diingat juga bahwa nikmat kesehatan harus dijaga dengan baik.
Hingga saat ini, berbagai kebijakan telah diberlakukan oleh pemerintah. Yang terbaru ialah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 20 Juli nanti. Bahkan Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi menyatakan bahwa apabila belum juga terjadi penurunan kasus positif, maka PPKM Darurat ini kemungkinan besar akan diperpanjang. Toko-toko, kantor, sekolah, bahkan rumah ibadah pun dibatasi kegiatan di dalamnya. Sebab, Covid merupakan ujian yang harus kita hadapi. Nah, seperti yang telah dipaparkan di awal, bahwa perlu usaha bersama untuk memutus rantai penyebarannya.
PPKM harus dipatuhi, ini bertujuan agar kerumunan warga khususnya di tempat umum dapat berkurang. Dengan pembatasan yang super ketat, PPKM Mikro Darurat sudah berjalan di perkantoran dengan WFH 75 persen dan WFO 25 persen. Sebab, PPKM sejatinya merujuk pada WHO yang menyatakan bahwa untuk mengurangi penyebaran virus, maka langkah yang ditempuh ialah dengan menghindari kerumunan.
Dalam hal medis, pemerintah terus berupaya memaksimalkan layanan kesehatan. Seperti pendistribusian pasien sesuai gejalanya masing-masing. Sehingga, diharapkan makin membaik pelayanan pada pasien dengan memisahkan pasien di rumah sakit dan di rumah. Kementerian Kesehatan(Kemenkes) juga mengintruksikan kepada rumah sakit untuk menambah tempat tidur dan ruang isolasi. Selain itu, penambahan tenaga kesehatan terus dilakukan disaat melonjaknya kasus Covid-19 saat ini.
Namun apakah cukup dengan usaha? Tidakkah kita menyadari bahwa keberhasilan juga perlu disertai dengan doa dan tawakkal? Dalam Gerakan ‘Hening Cipta’ misalnya, atau seperti yang dilakukan oleh jamaah di salah satu masjid di China, mereka mendoakan agar virus corona di Indonesia segera berakhir.
Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan nyata. Begitupun sebaliknya, doa tanpa usaha hanyalah menghasilkan kesia-siaan. Disini, perlu digarisbawahi pula tentang seberapa kuat usaha yang kita lakukan. Apakah sudah mencapai titik puncak? Karena terkadang ketika telah berusaha pun bisa saja gagal, apalagi tidak sama sekali.
Maka, usaha kita ialah apabila ada gejala mirip Covid, maka segera lapor ke puskemas atau rumah sakit terdekat sebagai penanganan agar tidak semakin parah. Jangan sampai keadaan seseorang memburuk hanya karena keterlambatan penanganan.
Sebagaimana Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, ia menyatakan bahwa penyebab meningkatnya kematian korban ialah keterlambatan penanganan atau makin memburuknya kondisi pasien dan tidak terpantau saat isolasi. (nasional.kompas.com,9/7/21). Bahwa pemerintah saat ini berupaya menanggulangi kenaikan kasus yang dibilang cukup tinggi sehingga diikuti dengan tingginya angka kematian.
Meskipun terlihat ringan, namun 3 M (Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) masih saja sering diabaikan. Padahal, melihat begitu cepat penularan varian baru dari Covid-19, seharusnya membuat kita lebih berdisiplin lagi, bukan malah mengabaikan. Sebab itu hanya akan merugikan.
Sangat diperlukan kontribusi dari kita semua dalam memberantas Covid-19 di Indonesia. Upaya penanganan Covid-19 dapat berjalan baik ketika seluruh pihak saling mendukung. Yakinlah bahwa Indonesia bisa, dengan tetap memperkuat usaha dan doa agar negeri kita tercinta ini dapat terbebas dari virus Covid-19. Aamiin.





