Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang, Pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Sekitar pukul 01.15, Suudut “Suud” Tashdiq, salah seorang ustadz senior di Planet NUFO mengetuk rumah kayu yang saya meringkuk di dalamnya. Dengan wajah anehnya, dia mengatakan: “Abah Arif kapundut.”

Saya memang tidak pernah kaget dengan siapa pun yang meninggal dunia. Mungkin karena sering membaca istirjaa’ (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun) di juz 2, yang artinya sangat sederhana, kita ini milik Allah, dan kita akan kembali kepadaNya. Ditambah dengan contoh dalam pelajaran filsafat umum, tepatnya logika, ketika belajar menarik konklusi dari dua premis, mayor dan minor. Premis mayor: Setiap manusia akan mati. Premis minor: Fulan adalah manusia. Konklusi: Fulan akan mati. Dan itulah kini yang terjadi pada teman yang jauh melebihi saudara saya, Arif Budiman.

Banyak kenangan visioner bersama Ketua KAHMI Rembang Mas Arif,  termasuk di antaranya terwujud dalam bentuk Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) di Mlagen, desa kelahiran saya. Posisinya di luar pemukiman warga desa saya, tapi hanya seratusan langkah dari rumah tempat saya lahir. Ada banyak kontributor penting Planet NUFO, mulai dari tenaga pendidik sampai sumber pendanaan, dan di antara yang paling berpengaruh adalah dia. Bahkan, yang terakhir, dia menjual mobil Innovanya, karena harus beli keramik gedung baru yang kami bangun. Risikonya, dia hanya bisa naik mobil kijang LGX bekas, warisan bapak mertua saya yang harus dia perbaiki dulu agar layak. Sebab, kalau kijang LGX yang dijual tidak bisa, bukan milik saya, karena yang punya warisan adalah istri saya, dan duitnya pasti akan kurang banyak. Sejak awal memang kami bertekad untuk membangun NUFO tanpa proposal permohonan bantuan dana. Jika ada yang mau ikut, kami senang, dan memastikan tidak akan mengganggu independensi intelektual kami. Lebih dari ini, SDM apa yang bisa dihasilkan dari lembaga pendidikan yang untuk hidup saja harus menengadahkan tangan. Bantuan yang datang kami anggap sebagai bahan bakar yang akan membuat perjalanan kami mengalani percepatan. Dan itu sangat kami syukuri. Karena itu, jika ada yang kekurangan pembiayaan, kami jual yang bisa kami jual, dengan cara yang kami tidak membuat curiga siapa pun bahwa kami sedang kekurangan uang.

Baca Juga  Tujuh Alasan Memondokkan Anak

Dia memang melibatkan diri terlalu jauh dari yang awalnya saya bayangkan. Awalnya, Mas Ariflah yang mengajak membuat SMP. Kala itu, Aisya, putri bungsunya yang baru saja naik kelas VI SD, baru saja pulang mondok sepekan saat liburan di Monash Institute Semarang. Dia agak terheran-heran, karena anak kecilnya itu bisa menguasai sharaf dengan baik setelah mengikuti program Sancil (santri kecil) walaupun dalam hanya sepekan. Sebab, dulu kami belajar sharaf bertahun-tahun, dan setidaknya tak hafal-hafal. Dan dia bertanya, kenapa materi sharaf itu yang saya tekankan. Saya jawab bahwa sharaf itu akan menjadi modal utama belajar bahasa Arab al-Qur’an, agar anak-anak kita nanti mudah menghafalkan al-Qur’an. Jika pun nanti masuk di sekolah umum biasa, karena kurikulum yang tidak mendukung, akan tetap bisa hafal al-Qur’an, kalau mau sangat serius. Rupanya, dia ingin agar Aisya hafal al-Qur’an. Dia bilang, karena itu harus membuat lingkungan khusus untuk anaknya itu. Tumbu oleh tutup, begitu kata pepatah Jawa. Saya langsung menangkap ini karena saya punya anak-anak usia SD juga yang walaupun masih cukup lama, tapi tentu akan membutuhkan SMP dengan desain khusus itu. Maka kami dirikan Planet NUFO, dan separuh namanya pun dari nama yang sudah dia gunakan untuk SD Islam di Kota Rembang, al-Furqon. Hanya ditambahi Nurul saja di depannya.

Di luar dugaan saya, mungkin karena senang juga melihat perkembangan pesat Aisya, urusan logistik para santri di Planet NUFO, disuplay oleh Mbak Rita, istrinya yang juga adalah Ketua Forhati Rembang. Setiap akhir pekan ke Planet NUFO mobil Innova dan terakhir LGX penuh muatan bahan keperluan dapur. Bahkan pernah satu jerigen minyak goreng membuat genangan di mobil LGX yang sudah kinclong itu, karena roboh di dalam mobil saat perjalanan, dan tumpah.

Baca Juga  Memotong Waktu Dengan Al-Qur'an

Saya menjadi akrab dengan Mas Arif karena beberapa hal. Pertama, sangat egaliter, bahkan rendah hati. Bukan hanya kepada saya, tetapi bahkan guru-guru yang semuanya adalah “anak-anak” saya. Bererti mereka adalah anak dari yuniornya. Bagi orang lain, egaliter itu biasa saja. Tetapi, Arif Budiman ini, putra Kiai Masduqi Kasingan Rembang, punya pesantren, punya lembaga pendidikan SDI Al-Furqon yang kalau lomba di Jakarta selalu menang. Pesantren oleh sebagian orang dianggap berbudaya feudal. Tapi kalau melihat Mas Arif, pandangan itu akan hilang. Padahal, singkatnya, kalau dibuat organisasinya, dia termasuk elite IGGI (Ikatan Gus-Gus Indonesia) di Rembang, begitu dia sering bercanda menggunakan istilah itu pada saat menceritakan dia ada rapat dengan para gus dan harus menunda pertemuan yang saya acarakan. Dia juga adalah senior saya di HMI; dia HMI MPO Yogya, saya HMI Semarang. Tapi beda era. Usia kami terpaut belasan tahun. Sementara, di organisasi ini pun, bahkan ada semacam pameo: Pasal 1: Senior tak pernah salah. Pasal 2: Kalau senior salah, lihat pasal 1. Setelah saya pikir-pikir, inilah faktor utama saya akrab sekali dengan dia. Sebab, saya adalah tipe yunior yang tidak bisa didominasi apalagi dikooptasi. Bahkan saya merasa Mas Arif sering memberikan kepada saya kemuliaan di depan banyak orang. Sejak awal bertemu sampai dia meninggal, dia tidak pernah mau jadi imam shalat kalau ada saya. Sampai sini, mata saya berkaca-kaca.

Kedua, visioner. Bagi kami, tidak ada yang tidak mungkin selama kami masih hidup karena mencobanya. Kalau usaha kami gagal, kami kompak untuk berani mengulangi, setelah melakukan evaluasi. Kalau gagal lagi, ulangi lagi, sampai berhasil. Dan, tentu karena dia sarjana ekonomi dan sekaligus pengusaha betulan, visi kami yang kadang melambung dan orang lain hanya bisa merealisasikan dengan biaya besar dan sekaligus, kami bisa dengan biaya lebih rendah dan bahkan masih bertahap. Bahkan kami sedang membangun tahapan agar Planet NUFO bisa gratis untuk siapa pun, bukan saja yang miskin dan yatim, tetapi juga yang kaya. Agar proses pendidikan di dalamnya terbebas dari sebagian orang tua yang “manja” dan banyak permintaan yang mengganggu anak mereka sendiri.

Baca Juga  Kekuatan Susu Ibu

Ketiga, perhatian sampai detil. Di sini ada perbedaan yang besar antara saya dengan Mas Arif. Menurut sebagian orang, saya dinilai melompat-lompat. Mas Ariflah yang selalu menjaga agar pelaksana teknis di Planet NUFO menjalankan tugasnya secara rigid agar titik pijakan lompatan yang satu dengan yang lain terhubung. Dialah yang selalu mengecek secara detil jalannya usaha-usaha yang dilakukan oleh para guru dan santri/murid di Planet NUFO lalu membangun organisasinya agar semua berjalan sistematis. Karena dialah, saya yang sebelumnya sering terlihat melompat-lompat jadi terlihat sebagai orang yang berpikir integralistik, dan dalam konteks usaha harus integratif.

Keempat, sangat sederhana. Mas Arif adalah orang kaya sejak lahir. Masih muda juga punya jabatan, baik profesional maupun politik. Uangnya bisa dibilang sering lebih. Tapi kelebihan uangnya itu lebih banyak digunakan untuk perjuangan, bukan untuk mendapatkan kemewahan dan kenikmatan dirinya sendiri. Itu nampak sekali dari pakaian dan kendaraan yang digunakannya. Dan sebagai kiai, dia bisa dikatakan tidak pernah menggunakan simbol-simbol yang membuat dia dikesankan dari kalangan tertentu.

Semoga Mas Arif mendapat maghfirah dan rahmat Allah dan ditempatkan jannat al-firdaus. Dan sepeninggalnya kami lebih sadar untuk lebih sabar dalam menjaga segala usaha yang telah kami bangun bersama sebelumnya. Aamiin. Jika ada salah Mas Arif kepada pembaca, mohon maafkan. Jika punya tanggungan, bisa mengkomunikasikan dengan saya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

PAN Siapkan Calon Presiden 2024 Sendiri, Nama Soetrisno Bachir Disebut

Previous article

Mati Dua Kali

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi