Sejarah mencatat bahwa pendidikan merupakan tonggak utama dalam merumuskan problem dunia. Di awali oleh sekelompok ilmuwan Yunani kuno yang mencoba menyoalkan masalah  lingkungan sekitar pada ratusan tahun (sebelum masehi) silam. Kala itu, belum mengenal istilah disiplin ilmu. Namun, realita yang terjadi justru sebaliknya. Penelitian yang digarap fokus pada satu bidang tertentu.

Pengelasan ilmu memuncak pada era renasains  yang dipelopori oleh dunia barat. Hal tersebut, bepondasikan pada aturan gereja yang mengharuskan untuk memuai antara pendidikan agama dan umum. Hingga tidak terasa, pemuaian tersebut kekal hingga akhir dekade ini.

Dunia pendidikan kian marak seiring waktu berjalan. Hingga tidak terasa, gedung pendidikan terus mengadakan pembangunan guna menampung calon didikan yang kian membludak. Sebelumnya, pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa karena biaya yang dibutuhkan tidak tanggung-tanggung. Dengan begitu, dirasa pendidikan hanya diperkhususkan bagi kaum hartawan saja.

Detik kian berlalu menemani masa yang kian berlalu. Paradigma berpendidikan kian memudar. Dibarengi dengan peraturan pemerintah yang mewajibkan anak bangsa untuk mengenyam pendidikan, sekaligus mengiming-imingi dengan bos berupa peniadaan atau pengurangan biaya pendidikan. Tak ayal, hal tersebut menjadi abu-abu setelah dirasa lingkungan pendidikan ramai oleh anak-anak.

Reinkarnasi paradigma pendidikan mulai merasuk dalam pendidikan berjenjang. Dimulai dari program pendidikan baik formal maupun non formal (pesantren) yang mencoba untuk fokus dalam bidang-bidang tertentu. Misal dalam pendidikan pesantren yang dikenal dengan budaya kesantunan kepada seorang kiyai. Hingga, tidak memandang bulu asal, kemampuan, keluarga dan lain-lain dalam menerima santri.

Baca Juga  Pesantren NURUL FURQON Dibangun dengan Prinsip Kemandirian dan Anti Proposal

Lambat laun, pendidikan mulai bangkit. Pengelasan kelompok belajar disesuaikan dengan perbedaan usia, yang terus berlanjut pada aliran pendidikan (pendidikan umum dan pendidikan berbasis agama). Sejalan dengan itu, pengelasan prodi khusus pada jenjang pendidikan sma dan smk sederajat terjadi. Tentu, dengan ranah tujuan yang tidak sama.

Tidak cukup sampai di situ, dunia perkuliahan pun tidak jauh berbeda. Selaras dengan generasi z yang dominan akan dunia maya alias teknologi canggih, slogan pendidikan yang mendunia saat ini adalah unity of sciens. Tidak melulu hanya prodi sains saja, melainkan diterapkan dalam seluruh prodi yang dimiliki oleh segenap perguruan tinggi. Karena dirasa penting, sehingga slogan tersebut mengakar dalam semua prodi.

Pengelasan prodi dalam dunia perkuliahan bukan suatu yang baru. Hal tersebut sudah dilakukan jauh sebelum masa generasi z. Ketepatan waktunya tidak diketahui dengan jelas. Namun jika bercermin dengan sejarah, para ilmuan sebelum masehi seperti socrates, phutagoras, dan ilmuwan sezamannya sudah mulai menerapkan disiplin ilmu sesuai dengan problem yang dihadapi.

Al-qur’an menukilkan ayat yang berbunyi “fas aluu ahla adz-dikri” yang berarti “bertanyalah kepada ahli pengingat”. Maksudnya adalah jika ingin bertanya, maka hendaklah bertanya kepada ahli bidangnya. Dengan begitu, dirasa kecil prosentase kesalahannya. Berdasar pada tukilan ayat tersebut, wajib rasanya untuk mendalami ilmu pengetahuan. Dengan prosentase minimal, sekurang-kurangnya satu bidang khusus.

Pemaparkan akan pentingnya berilmu juga terdapat dalam surat al-alaq ayat 1 sampai 5 yang mewajibkan belajar dimulai dari yang terkecil yakni membaca. Dilanjut dengan surat al-mujadalah ayat 11 yang kelak akan mengangkat derajat orang yang berilmu. Oleh karena itu, penting sangat menjadi insan yang berpendidikan. Bahkan, dalam ayat lain dikatakan bahwa “jauhilah orang yang bodoh” Q.S. al-Nahl.

Baca Juga  HOTS dan Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh: Isnaini Mubarokah, Mahasiswa Pendidikan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Perempuan dalam Era Modern

Previous article

Menanti Semesta Mengeja Rasa

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Pendidikan