Jepara merupakan sebuah kota yang memiliki kerajinan kayu ukir, sehingga dapat di sebut sebagai kota ukir. Di setiap kota, pasti memiliki seseorang yang terkenal dan di hargai. Pada tanggal 21 April 1879, lahir seorang wanita yang sangat menawan bermuka bulat, dia adalah Kartini. Kartini merupakan seorang putri dari RM Adipati Ario Sosroningrat dan Ngasirah. Dalam segi fisik, ibunya yang mewariskan bentuk wajahnya sedangkan dari segi pengetahuan, ayahnya yang lebih dominan mewariskan.

Seorang anak memiliki kewajiban untuk hormat dan sayang kepada orang tua, seperti mereka mengasihi sewaktu kecil. Ayahnya merupakan keturunan dari seorang bangsawan dan dulu menjabat sebagai asisten Wedana onderdistrik di Mayong, Jepara. Sedangkan ibunya hanya seorang selir, putri dari mandor pabrik gula. Ayahnya merupakan salah seorang yang pandai menulis dan berbahasa belanda, seperti kakek Kartini.

Istri RM Adipati Ario Sosroningrat bukan hanya Ngasirah, tetapi lebih dari itu. Hal tersebut mengakibatkan persaingan antara ibu muda dan tua di dalam rumah. Ibu tua Kartini merupakan seorang feodal keturunan Ratu Madura, sedangkan ibu kandungnya hanya rakyat jelata biasa.

Kartini sejak kecil tidak diasuh oleh ibunya sendiri, karena Ngasirah keluar dari gedung asistenwedaan untuk selama-lamanya, sehingga Kartini diasuh oleh Rami. Ibunya tidak memiliki anak lagi setelah Kartini, sehingga atas kewibaan ayahnya, dia juga diasuh oleh seorang ibu tiri yang menurutnya tidak ikhlas untuk merawatnya.

Kartini merupakan seorang wanita yang sangat menyayangi orang tuanya, terutama ayahnya. Dia tidak mau ayahnya sakit hati karena ucapan atau perbuatannya. Menurutnya, ayahnya merupakan segala-galanya yang dapat memberikan kebahagiaan di masa hidupnya. Kartini juga siap mengabdi untuk ayahnya dan memberikan apa yang dia memiliki karena sangat cinta kepada RM Adipati Ario Sosroningrat.

Baca Juga  Benarkah Perempuan Diciptakan dari Tulang Rusuk Laki-laki?

Menghormati dan menyayangi orang tua sangat penting, begitu pula yang dilakukan oleh Kartini. Jika Ayahnya melarang Kartini berbuat sesuatu dan memerintahkannya untuk mengerjakan sesuatu, maka dia akan menurutinya dengan sepenuh hati karena menurutnya dia hanya memiliki satu orang yang berharga dan menyayanginya, yaitu ayah. Kartini menyukai melukis, mengarang, dan membaca hanya untuk menyenangkan hati ayahnya. Dia juga mau bekerja keras untuk membanggakan seorang pria yang melahirkannya.

Yang dikhawatirkan Kartini adalah hilangnya kasih sayang RM Adipato Ario Sosroningrat terhadapnya, sehingga dia harus menjaganya dengan baik. Kewajiban seorang anak memang membaktikan diri kepada orang tuanya karena melalui susah payah dan pengorbananya seorang anak dapat tumbuh dan berkembang. Jika Kartini disuruh memprioritaskan di dalam keluarganya, dia akan memprioritaskan ayahnya di atas segala-galanya dan hal itu tidak dapat di kurangi darinya. Karena menurutnya, yang benar-benar memberikan kasih sayang adalah ayahnya.

Berjalan setahun umur Kartini, ayahnya juga bersuka cita karena di angkat sebagai bupati Jepara. Kebiasaan pribumi waktu itu adalah gadis feodal dan golongan menengah tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Sehingga Kartini setelah bersekolah rendah Belanda tidak bisa mengikuti jejak kakaknya yang bersekolah di HBS Semarang.

Kartini berkali-kali berbicara kepada ayahnya dan memintanya untuk menyetujui agar Kartini melanjutkan sekolahnya, tetapi ayahnya menolak. Penolakan dari ayahnya dilakukan secara lembut dengan menghelai rambut hitam Kartini. Ayahnya sangat menjunjung adat istiadat negeri, sehingga perjuangan Kartini untuk melanjutkan bersekolah dibuatnya sia-sia dan pupus.

Baca Juga  Kartini dan Spirit Kohati Mencerdaskan Generasi Bangsa

Kartini merasa hidup di dalam penjara, bukan dari sel tetapi gedung-gedung besar yang memiliki pekarangan. Di saat ayahnya menolak, dia tidak membantah keputusan dari ayahnya karena menurutnya hal itu merupakan mutlak dan tidak bisa terbantahkan. Pada dasarnya memang wanita pada masa itu harus hormat, berbicara pelan, dan tertawa tanpa terlihat giginya seperti luwak. Atas kurungan itu, Kartini mencoba membaca buku dan menulis sehingga dia dapat terbiasa dan menganggap buku sebagai seorang sahabat yang tidak pernah menyakiti.

Kartini merupakan sosok perempuan yang menyayangi ayahnya dengan segenap hatinya. Di era millennial sangat jarang orang dapat seperti Kartini yang mengabdikan diri kepada ayahnya serta menjunjung tinggi derajatnya. Oleh karena itu, penting kiranya membentuk karakter yang terdidik secara akhlak untuk menghormati satu sama lain. Jika di rumah, hormati orang tua dan ketika di luar lumah, hormati orang yang lebih tua.

Jika hal tersebut dilakukan, maka akan membuat hidup harmonis. Orang tua yang menyayangi anaknya dan sebaliknya akan menimbulkan kesejahteraan bersama di dalam keluarga. Tanpa itu, mungkin kehidupan rumah seperti neraka yang menyiksa. Oleh sebab itu, kesadaran dari masing-masing pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan kedamaian bersama.

Oleh: Muhamamd Fachrul Hudallah, Ketua Umum HMI Komisariat Hasyim Asy’ari Cabang Semarang.

 

Redaksi Baladena
Jalan Baru Membangun Bangsa Indonesia

Dewi… Aku Mengagumimu

Previous article

Jalan Panjang Menuju Pulang

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Perempuan