Jalan Panjang Menuju Pulang

Dalam sunyinya malam terdengar lirih suara sesenggukan seorang perempuan. Arini menenggelamkan mukanya dalam-dalam ke bantal. Matanya memanas dan ia tak bisa membendung air mata yang akhirnya keluar tumpah ruah. Bantal yang biasa ia jadikan tumpuan kepala kini basah kuyup berlinang air mata. Perasaannya carut marut tak karuan. Ia melewati malam yang terasa begitu panjang dengan kesedihan dan juga tangisan.

Sang fajar telah muncul ke permukaan. Arini bangun kesiangan. Sudah tidak ada siapa-siapa di ruangan itu kecuali Arini. Dengan bergegas ia berlari mengambil air wudhu dan segera melaksankan sholat subuh. Dengan kecepatan penuh Arini berlari menuju Aula. Kedatangan Arini mengalihkan perhatian semua santri yang sedang mengikuti kajian pagi hari bersama Abah. Wajah Arini seketika memerah karena menahan rasa malu. Ia segera mencari tempat duduk untuk mengikuti kajian pagi itu.

“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanya Arini pada salah satu teman sekamarnya selepas kajian selesai.

“Kamu yang kenapa! Aku sudah membangunkanmu berkali-kali. Kamu kenapa? Biasanya kamu bangun paling awal di antara kami.”

“Oalaah.. Maaf ya, Aku tidak sadar ketika tadi kamu membangunkanku. Aku baik-baik saja.” Jawab Arini dengan senyum manisnya.

Gedung sekolah dengan pesantren Arini berdekatan meskipun beda yayasan. Kajian bersama Abah biasanya selesai pukul 06.00 WIB. Setelah kajian para santri bergegas kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Jam ini merupakan salah satu jam tersibuk bagi para santri. Apalagi saat mengantri kamar mandi hingga menimbulkan polusi suara yang begitu gaduh.

Bagi Arini kehidupan di pesantren merupakan suatu hal yang baru. Sebelumnya ia tak pernah membayangkan akan menjadi santri bahkan hidup di lingkungan pesantren. Bagaimana ia harus bangun lebih awal, tidur bersama banyak orang, harus mengantri dalam segala hal, dan hidup dengan segudang peraturan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Arini bisa terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya menyembunyikan banyak hal yang membuat dirinya gelisah. Bahkan hampir tiap malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena hal itu, ia biasa bangun paling awal diantara teman sekamarnya. Ia pandai menyembunyikan hal yang menurutnya tak perlu orang lain ketahui.

Meskipun demikian, ia mencoba menjalani kisah baru dalam hidupnya dengan sebaik-baiknya. Tidak malah mengurung diri dalam keresahan yang sebenarnya membuat dirinya tak nyaman. Untungnya Arini mudah bergaul dan beradaptasi sehingga ia bisa menemukan banyak teman yang bisa menghilangkan sedikit ketidaknyamanan yang ia rasakan.

Lama-kelamaan Arini merasa nyaman dan menikmati kehidupan barunya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan disegani banyak teman. Lingkungan berhasil mengubah Arini menjadi gadis yang semakin baik. Ia menjadi siswa yang aktif di sekolah. Ia menjadi salah satu pengurus OSIS dan ikut dalam beberapa kegiatan ekstrakulikuler.

Ia berteman baik dengan semua orang di sekolah. SMA Negeri Bunga Bangsa merupakan sekolah umum sehingga Arini biasa berinteraksi dengan teman laki-laki. Berbeda dengan saat Arini berada di Pesantren. Pondok Putra dengan Pondok Putri dipisah. Intensitas interaksi antara santri putra dengan santri putri sangat sedikit.

Suatu hari Arini merasa ada yang berbeda saat bertemu dengan salah satu teman lelakinya. Arini bingung mengapa baru muncul perasaan aneh seperti ini? Padahal hampir tiap hari ia bertemu dengan lelaki itu. Lelaki itu teman sekelas dan juga salah satu santri putra di pesantrenya. Ia mengabaikan perasaan yang tidak jelas itu.

Semakin hari rasa itu semakin mengganggu  Arini. Tiap kali ia bertemu Arka Nandana rasa aneh itu muncul dari hati Arini. Arka Nandana, lelaki yang berhasil membuat hati Arini tak karuan. Arka Nandana sosok lelaki bertubuh tinggi, tegap, dengan sorot tatap mata yang tajam, dan rambut yang sedikit ikal. Arka Nandana seorang kapten Tim Bola Voly di SMA Negeri Tunas Bangsa. Tidak hanya itu, Arka merupakan salah satu santri kesayangan Abah.

Kini Arini benar-benar kagum pada sosok Arka Nandana. Pesonanya telah berhasil memikat hati seorang Arini. Arini hanya bisa mengagumi sosok Arka tanpa berani mengambil tindakan apapun. Rasa kagum itu semakin tumbuh subur dalam hati Arini. Bahkan kini rasa kagum itu berubah menjadi rasa suka.

Arini menyimpan rapat-rapat perasaan itu. Ia tak ingin ada yang tahu termasuk Arka. Arini lebih memilih menikmati rasa itu sendirian. Ia sadar saat ini belum masanya rasa itu diungkapkan. Arini berpikir bahwa perjalanan mereka masih begitu panjang membentang di depan. Meskipun sebenarnya ia sangat menginginkan sebuah balasan perasaan.

Namun, sangat disayangkan. Arini mendengar kabar burung tentang kedekatan Arka dengan Tasya. Tasya perempuan yang berhasil mengambil perhatian Arka. Tasya adalah salah satu gadis cantik dengan segudang kemampuan dan prestasi di SMA Negeri Tunas Bangsa. Ia menjadi wakil ketua OSIS di sekolahnya.

Usut demi usut, kabar burung itu bukanlah sekadar kabar burung. Kabar itu sudah terbukti benar dan nyata adanya. Mendengar hal tersebut hati Arini  hancur berkeping-keping. Perasaannya tak karuan. Lelaki yang selama ini ia idamkan ternyata sudah menentukan pilihan. Kekecewaan begitu mendalam ia rasakan. Apakah ini sebuah kesalahan karena ia hanya bisa menyimpan tanpa berani mengungkapkan?

Selama ini Arka begitu baik pada Arini. Ia selalu membantu Arini saat mengalami kesulitan. Arka yang selalu memberi semangat saat Arini berada dalam ambang keputusasaan. Kebaikan serta perhatian yang selama ini Arka berikan kepada Arini ternyata hanyalah sebatas rasa perhatian dari seorang teman, tidak lebih dari itu. Kini perlahan-lahan perhatian Arka pada Arini menghilang. Arka terlihat semakin dekat dengan Tasya sedangkan Arini kini bagaikan orang asing yang disapa seperlunya.

***

Kisah itu telah lama berlalu, selepas wisuda SMA dan wisuda pesantren, Arka dan Arini tak pernah berjumpa kembali. Jangankan berjumpa, sekadar berkomunikasi pun tak pernah. Mereka benar-benar telah kehilangan kontak. Arka mendapatkan beasiswa berprestasi untuk melanjutkan studi ke Cairo sedangkan Arini melanjutkan studi di salah satu Universitas ternama yang berada di Semarang.

Perpisahan itu tidak menyembuhkan malah membuka luka baru bagi Arini. Ia harus membawa perasaan yang terpendam sejak dulu sendirian dalam kehidupan barunya. Kini mereka tak lagi saling menyapa dan bertatap muka. Mungkin mereka tak akan bisa dipertemukan kembali dan wisuda SMA adalah momen pertemuan terakhir antara Arini dengan Arka.

Empat tahun telah berlalu dengan kisah masing-masing. Hingga datang pertemuan yang tak pernah terduga sebelumnya. Mereka dipertemukan kembali saat acara reuni di pesantren.

Benar-benar perasaan itu tidak akan pernah hilang. Lembaran-lembaran kenangan itu kembali terbuka. Baik Arini maupun Arka, keduanya memendam seribu kerinduan yang terdalam. Hingga saat berpapasan, jangankan menanyakan lebih jauh terkait hubungan yang selama ini kehilangan kontak, sekedar bertanya kabar saja terbata-bata.

“Eh Arini, apa kabar,” kata Arka dengan tersipu malu. Tak biasanya ia seperti itu. Mungkin karena telah lama tak berjumpa, hingga ia bingung ingin bertanya apa selain kabar.

“Baik, Arkan. Kamu bagaimana? Sepertinya kamu di sana sangat bahagia, sampai-sampai tidak pulang-pulang hehe,” Arini mencoba mencairkan kakunya suasana. Ia mengerti, perasaan itu muncul kembali.

“Enggak juga. Justru ada yang aku rindukan di Indonesia,” kata Arka memalingkan muka.

“Siapa?” tanya Arini sambil menunduk ke bawah.

“ee…ngomong-ngomong, kamu sudah menikah, Rin,?” tanya Arkan dengan terbata-bata.

“hehe, anakku sudah tiga, Arka,” kata Arini tersenyum.

Arka hening tak menjawab. Ia menjadi salah tingkah. Antara terkejut dan kenangan bercampur menjadi satu.

“hehe, enggak Arka. Aku belum menikah,” Arini tertawa melihat tingkah lucu Arka. Ia berubah sekali. Terlihat lebih kalem dan pemalu. Seperti yang tidak pernah melihat perempuan saja di Cairo sana.

“huhh, saya kira sudah menikah..hehe,”

“emangnya kenapa,” kali ini Arini yang memalingkan mukanya. Pipinya merah, jantungnya berdegup dengan kencangnya.

“aku juga belum, Arini,” kini malah keduanya saling memalingkan wajah. Pipi mereka berdua memerah seperti kulit bayi yang di cubit tantenya.

“lalu,?” Arini makin saja memancing suasana di pertemuan itu.

“lalu…bagaimana kalau kita nikah,” ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Arka. Seolah-olah itu sudah menjadi takdirnya. Ia langsung menutup mulutnya dan terkejut kaget.

“serius? Lalu Aku di tinggal di Semarang?,”

“ikut denganku kesana,?”

“tidak..aku disini saja, menemani Ibu,”

“lalu,?”

“lalu apa,?”

“artinya kamu menolak,?” jantung Arka berdegup kencang sekali. Tapi nasi sudah jadi bubur. Harus dituntaskan, apapun jawaban Arini.

“siapa bilang aku menolak,?” jawab Arini.

“Jadi kamu menerima,?” tanya Arka meyakinkan.

Arini tak menjawab. Dalam hal ini, teori kalau diam artinya adalah menerima itu berlaku. Arini tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan secarik kertas.

“Apa ini, Arini,?”

“itu alamat rumahku.”

Keduanya tersenyum kala itu. Langit menjadi saksi. Bumipun ikut merayakan. Pertemuan dua insan yang disatukan karena takdir sang Maha Kuasa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *