Planet NUFO sejak awal didesain sebagai sebuah tempat yang unik. Kata planet dimaksudkan untuk menunjuk kepada sebuah tempat yang terisolasi dari tempat lainnya, sehingga warga yang ada di dalamnya bisa diajak untuk hanya fokus kepada nilai-nilai unggul. Pengaruh-pengaruh buruk, baik yang berupa ide maupun perilaku dihindarkan, sampai mereka kelak benar-benar mampu menangkalnya. Ini sesuai tempatnya di luar perkampungan, tepatnya di sebelah timur Desa Mlagen, Rembang. Sedangkan NUFO adalah singkatan dari Nurul Furqon (Cahaya Pembeda). Kata al-Furqon sesungguhnya sudah digunakan oleh sebuah yayasan di Kota Rembang yang dipimpin oleh Alm. Mas Arif Budiman, yang mengajak saya untuk mendirikan sekolah menengah untuk puteri bungsunya yang waktu itu hampir lulus SD Islam al-Furqon.
Dalam setiap acara, apabila dipekikkan “Planet NUFO”, maka semua santri akan menjawab serempak “Different and the Best; Cerdas, Kaya, Berkuasa”. Planet NUFO memang sebuah lembaga pendidikan, tepatnya dengan muatan yang tidak umumnya ada di dalam lembaga pendidikan. Di samping ada aktivitas pendidikan yang komprehensif, dimulai dengan membaca dan memahami teks al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, di dalamnya ada aktivitas wirausaha yang dilakukan secara langsung oleh para pendidik dan murid. Karena itulah, di kawasan Planet NUFO terdapat tumbuhan mulai dari sayur mayur kebutuhan makan sehari-hari, tebu, pisang, pohon buah, sampai pohon kayu. Ada juga binatang ternak, mulai dari ayam, kelinci, domba, sampai sapi, bahkan disusul kemudian dengan maggot yang dibudidayakan dengan menggunakan media kotoran hewan untuk menunjang pakan ikan dan unggas peliharaan. Semuanya diintegrasikan, sehingga bisa terbangun siklus yang saling memakan dan mengoptimalkan keuntungan. Yang kini masih dalam tahap pengupayaan adalah menjadikan kotoran santri juga sebagai media maggot. Dengan cara ini, tidak ada sesuatu yang dianggap tak berguna. Sesuatu yang biasanya dianggap sebagai sampah, justru bisa dimanfaatkan untuk menambah keuntungan.
Semua itu dijalankan secara integratif, karena Planet NUFO memiliki dua visi kemandirian dasar, yaitu: kemandirian intelektual dan kemandirian finansial. Intelektualitas akan terus berkembang apabila ditopang oleh finansial yang kuat. Sebaliknya, kekuatan finansial juga memerlukan kematangan intelektual untuk membangun konsepsi, persepsi, dan asosiasi tentang berbagai fenomena. Tujuannya adalah untuk melahirkan pribadi-pribadi dengan asosiasi paripurna, minimal benar. Asosiasi salah akan menyebabkan orang melakukan sesuatu yang mendatangkan kenikmatan jangka pendek, tetapi akan mengalami kesengsaraan dalam jangka panjang. Asosiasi benar akan membuat orang mau melakukan kesengsaraan jangka pendek untuk mendapatkan kenikmatan jangka panjang. Dan asosiasi sempurna akan mengarahkan kepada kenikmatan jangka pendek dan juga jangka panjang.
Intelektualitas di Planet NUFO dibangun dengan melakukan kajian al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.. Pembelajarannya diselenggarakan secara utuh dimulai dari membaca dengan tajwid sampai memahami tafsirnya. Para santri di Planet NUFO diperkenalkan dengan tujuh kewajiban kepada al-Qur’an, yaitu membaca, mengartikan, menghafalkan, merenungkan, mengerjakan, mengajarkan, dan memperjuangkannya. Ketujuh kewajiban itu laksana anak-anak tangga yang harus dijalankan secara bertahap, walaupun beberapa di antaranya secara praktik kemudian bisa dijalankan secara bersamaan.
Tahap pertama, membacanya dengan tajwid, harus diselesaikan dengan baik sebelum kedua, mengartikan. Setelah santri memiliki kemampuan mengartikan per kata, baru mendapatkan rekomendasi untuk menghafalkannya. Sebab, kemampuan mengartikan teks al-Qur’an sangat berkorelasi dengan keberhasilan menghafalkan al-Qur’an secara total. Kemampuan mengartikan dengan daya ingat standar, memungkinkan seorang penghafal menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu kurang dari tiga, bahkan dua tahun. Namun, tanpa kemampuan mengartikan teks itu, membuat penghafal mengalami kesulitan karena tidak memiliki pemahaman dan asosiasi ketika membacanya. Dan lebih dari itu, al-Qur’an dihafalkan memang agar bisa mengoptimalkan tanggung jawab berikutnya, yaitu: merenungkannya. Merenungkan al-Qur’an ini akan menjadi lebih sempurna apabila keseluruhan ayatnya ada di dalam dada (baca: ingatan).
Perenungan mendalam dengan melibatkan keseluruhan ayat yang berkorelasi, juga dengan konteks sosio historisnya, akan mengantarkan kepada pemahaman yang benar. Pemahaman yang benar ini akan menjadi panduan hidup yang bisa dikerjakan atau diamalkan. Dengan kualitas ini, santri akan memiliki kualitas yang lengkap untuk mengajarkan al-Qur’an kepada sesama santri atau kepada individu atau komunitas lain. Pemahaman yang tidak diikuti dengan pengamalan, akan menjadi beban ketika mengajarkan. Sebaliknya, mengajarkan sesuatu yang sudah dipahami dan bahkan sudah dijalankan dalam kehidupan keseharian, akan melahirkan kebahagiaan. Setelah panduan al-Qur’an itu dijalankan secara pribadi, juga dalam komunitas kecil, kewajiban berikutnya adalah memperjuangkannya dengan cara di antaranya mentransformasikannya dalam kebijakan publik.
Dengan memahami al-Qur’an secara komprehensif ini, para murid diharapkan menjadi pribadi yang memiliki pemahaman secara utuh. Ilmu pengetahuan tidak akan didikotomi sebagai ilmu agama dengan ilmu non-agama.
Sebab, al-Qur’an adalah kumpulan ayat-ayat (tanda-tanda) qawliyah (firman). Sedangkan alam semesta juga adalah ayat-ayat kawniyah (segala yang ada). Dan kata alam sendiri diserap dari Bahasa Arab yang artinya juga tanda. Jadi, baik al-Qur’an maupun alam semesta, keduanya merupakan tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan keduanya harus direnungkan, dipelajari, dikaji, dan diteliti, sampai mendapatkan pemahaman yang membuat iman kepada Allah menjadi makin kokoh. Sebab, hasil dari mempelajari seluruh tanda Allah itu akan mengantarkan kepada simpulan bahwa yang firmankan oleh Allah adalah kebenaran belaka. Dengan keyakinan ini, pemahaman yang dihasilkan dari tanda-tanda Allah, baik dengan mengkaji al-Qur’an maupun alam semesta, akan mengantarkan murid menjadi pribadi yang mandiri secara intelektual. Mereka tidak akan gagap menghadapi segala persoalan baru sekalipun dalam kehidupan. Mereka tidak akan mengulang pertanyaan-pertanyaan remeh yang seharusnya sudah selesai sejak 1000 tahun lebih, atau lebih ekstremnya 14 abad yang lalu jika benar-benar memahami semangat moral al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad. Di antara penyebab ketertinggalan umat Islam adalah mayoritas mereka tidak memahami dua sumber ajarannya, bahkan menjadi persoalan qunut dan tidak qunut, atau masalah tangan atau lutuh terlebih dahulu saat turun akan sujud. Persoalan furu’iyah sudah selesai, dan pemahaman akidah sudah kokoh. Dengan demikian, yang perlu didiskusikan oleh generasi yang memiliki kemandirian intelektual adalah pengembangan sains dan teknologi untuk mengoptimalkan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Tentu saja, untuk menjalankan tujuh kewajiban kepada al-Qur’an itu membutuhkan dukungan logistik yang tidak sedikit. Untuk belajar secara terus-menerus dibutuhkan waktu luang. Untuk melakukan riset dibutuhkan dan yang tidak kecil. Apalagi untuk memperjuangkannya sampai tertransformasi ke dalam produk kebijakan politik, itu adalah perjuangan panjang. Dan yang bisa melakukannya hanyalah orang-orang dengan independensi kuat. Karena itu, ketrampilan hidup harus dikuasai oleh santri, agar mereka memiliki kemampuan untuk memperjuangkan al-Qur’an, minimal dalam konteks kehidupan bermasyarakat secara kultural. Atau jika tidak mampu pada level itu, bisa mengajarkannya tanpa meminta imbalan. Mengajar tanpa imbalan inilah yang akan membuat para pengajar memiliki harga diri yang tinggi dan layak dicontoh oleh semua murid yang mempelajari ajaran Islam.
Pada dasarnya, setiap murid memiliki potensi besar masing-masing dalam hal pengembangan keterampilan hidup ini. Karena itulah, yang diperlukan hanyalah mengeksplorasi bakat dan minat mereka dalam usaha di bidang-bidang tertentu. Persis sama dengan mengeksplorasi bakat dan minat mereka dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Di Planet NUFO, ada cukup banyak pilihan, dari pertanian, peternakan, sampai perikanan. Mereka diberi kesempatan untuk “menghabiskan jatah kegagalan” sampai benar-benar sukses dalam sebuah bidang usaha yang cocok dengan bakat, minat, dan bahkan keberuntungan mereka. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren Planet NUFO, Rembang dan Guru Utama di Rumah Perkaderan-Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI, Jakarta.






