Jangan alihkan perhatianmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya padamu. Esok atau lusa nanti kamu tidak akan berada di sini lagi. Dia akan segera memanggilmu untuk suatu perjalanan, perjalanan panjang yang akan melewati tempat-tempat yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya. Suatu perjalanan yang akan memberikan setiap arti ke dalam jiwamu. Perjalanan yang akan membuatmu bangga, membuatmu merasa lebih unggul dari apapun, dan sebuah takdir bagimu untuk mewakili diriNya dihadapan setiap makhluk dalam setiap tempat perjalananmu.

Ada gunung yang angkuh berdiri dengan tingginya, ada lautan yang ganas dengan ombaknya, ada tumbuh-tumbuhan pasrah ketika dimakan dan ada juga binatang-binatang buas dengan cakar dan taringnya. Mereka semua adalah milikmu, sampai nantinya salah satu dari mereka akan bertanya-tanya padamu “siapakah dirimu?.” Namun dirimu terlalu sombong untuk mengakui bahwa kamu hanyalah seorang wakil-Nya.

Semesta raya akan menyaksikan perjanjianmu dengan dirinya, suatu perjanjian yang hanya diketahui olehmu dan diriNya. Sebelum perjalanan panjang ini dimulai, semesta raya akan menyaksikan perjanjianmu dengan dirinya, suatu perjanjian yang hanya diketahui olehmu dan diriNya. Namun saat semuanya dimulai, lupalah dirimu akan perjanjian itu, dan segala apa yang telah aku sampaikan padamu.

Celakalah dirimu, gunung-gunung akan mentertawai dirimu yang tak lebih tinggi darinya, lautan akan menenggelamkanmu dalam-dalam, tumbuh-tumbuhan diam tak peduli dan para serigala serta binatang buas lainnya siap untuk menerkammu, mencabik-cabik tubuh yang lemah tak berdaya.

Tenanglah, sudah aku katakan bahwa ini adalah perjalanan panjang. Lalu bagaimana caranya dirimu bertahan? Adalah Dia yang akan melindungimu dan mengajarkanmu secara perlahan. Pesan-pesan akan dikirim untukmu, petunjuk di setiap persimpangan telah siap memperingatkanmu, dan jelas itu untukmu. Namun seiring waktu, jalanmu akan semakin sempit dan berliku, menyusuri lorong-lorong kotor sampai semuanya mulai terlihat samar.

Baca Juga  Kesunyianmu dan Rinduku

Kadang-kadang dirimu tidak dapat menemui jalan yang telah digariskan, tempatmu akan menawarkan segala kenikmatan semu yang menggiringmu untuk menyimpang atau bahkan menghentikan langkahmu dan terlarut dalam-dalam. Saat dirimu terpukul dan tersadarkan, kamu akan menangis sepanjang malam. Isak-isak lirih menggemakan semesta alam. Ketika dirimu ingin melanjutkan perjalanan, semua sudah berakhir.

Batas akhir telah terinjak namun hati kecilmu berkata “ini bukanlah tujuanku!”. Matamu masih dapat melihat secercah cahaya, itu tepat berada di tujuanmu, namun tubuhmu tak mau lagi bergerak, tak mau lagi mengikuti kehendak bebasmu. Bumi telah menyelimutimu dalam-dalam. Langit menangis sendu untukmu dan murka telah menantimu. Celakahlah dirimu.

Perjalanan panjang yang terhampar sejauh mata memandang, sesunyi telinga mendengar, sekasar tubuhku merasa, sepahit lidah mengecap, sebusuk hidung mencium dan setinggi akalku menalar hingga mencapai batasnya. Suatu perjalanan panjang yang ku sebut dengan… Kehidupan.

Sampai akhirnya dirimu dipanggil kembali olehNya, mungkin saat itu kita akan bertemu lagi, bercerita tentang perjalanan yang telah dilalui. Dan saat itu tiba, aku akan menceritakan padamu tentang perjalananku. Perjalanan panjang yang terhampar sejauh mata memandang, sesunyi telinga mendengar, sekasar tubuhku merasa, sepahit lidah mengecap, sebusuk hidung mencium dan setinggi akalku menalar hingga mencapai batasnya. Suatu perjalanan panjang yang kusebut dengan kehidupan.

 

Oleh: Bayu Franky

Soroti Masalah Gender di Lingkungan Kampus, Kelompok 5 KKN RDR 77 UIN Walisongo Adakan Webinar Bersama Dekan FISIP

Previous article

Jatuh Cinta Terbaikku

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Zetizen