Barangkali aku memang orang yang mudah jatuh cinta. Kenapa? Karena aku mudah mengagumi. Mungkin juga karena aku suka menulis puisi.

Aku telah jatuh cinta dan patah hati berkali-kali. Pada seorang perempuan yang sering melintas di depan jendela kelas. Pada seorang teman semasa sekolah. Pada seorang kakak kelas yang bahkan tidak mengenal namaku. Pada seorang teman dari dunia maya yang senang menulis puisi dan cerita-cerita. Bahkan pada seorang adik kelas yang bahkan baru kutemui kali pertama.

Pada seorang sahabat yang hanya salah paham mengira bahwa apa yang dia rasakan padaku adalah cinta. Pada seseorang yang kuperjuangkan tapi akhirnya ada jarak yang membuat dia tidak lagi mampu bertahan.

Entah mengapa semesta selalu mengatur pertemuanku dengan orang-orang baru ketika aku jatuh dengan hati patah, mencoba mengobati dan memperbaiki diri lagi. Maka aku pun kembali jatuh cinta, kadang bersambut dan kadang tidak, untuk kemudian mengalami siklus yang sama lagi: mengagumi – mencintai – berharap – patah hati.

Aku sadar benar, rasa sakit dan kecewa itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena harapan tinggi yang telah kugantungkan sendiri.

Maka ketika dia pergi, akulah yang jatuh dengan segala luka, kenangan dan sisa-sisa harapan. Aku pernah menangis. Aku pernah meratap. Aku sering menulis puisi-puisi patah hati yang penuh kesakitan. Aku pernah sampai pada suatu titik di mana aku ragu apakah ada orang yang akan benar-benar bisa menerimaku.

Selama ini aku merasa aku sudah berusaha tentang banyak hal: menerima, memahami, berjuang untuk bertahan. Tapi kenapa aku selalu berakhir dengan ditinggalkan? Selama beberapa lama, aku selalu menyalahkan diri sendiri atas kegagalan-kegagalan itu. Aku memang terlalu manja. Aku tidak tampan. Aku cerewet. Aku terlalu banyak menuntut. Aku tidak humoris. Aku bukan laki-laki cerdas. Aku jelek. Aku buruk. Aku memang tidak layak untuk dicintai dan dipertahankan.

Baca Juga  “Pagi Menyapa Jarak”

Jika sudah mulai lelah, aku juga akan mulai menyalahkan orang lain. Dia pergi karena dia jatuh cinta dan memilih laki-laki lain. Dia pergi karena dia memang egois. Dia tidak pernah mempedulikan perasaanku. Dia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dia-lah yang jahat. Dia-lah yang buruk. Dia-lah yang tidak layak untuk diperjuangkan.

Pada akhirnya, aku hanya berkutat dengan kebencianku sendiri. Hingga aku pun tiba pada suatu pemahaman, bahwa memaafkan bukan hanya memberi maaf kepada orang lain, tapi juga berdamai dengan diri sendiri.

Ya, aku telah jatuh cinta dan patah hati berkali-kali. Tapi kini aku tidak takut dengan diriku sendiri ataupun dengan kehidupan. Bukankah waktu tidak akan pernah berhenti hanya demi menungguku menyembuhkan patah hati? Bukankah mencintai dan dicintai adalah hal yang tidak bisa kita atur dengan rumus-rumus matematika? Jika aku tidak percaya pada diriku sendiri, barangkali tidak akan ada lagi orang lain yang percaya padaku, apalagi mempercayakan masa depannya bersamaku.

Kadang aku berpikir hidup ini seperti labirin. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi atau siapa yang akan kita temui di begitu banyak persimpangan. Barangkali benar bahwa Tuhan menyukai kejutan-kejutan. Pada suatu persimpangan itu, takdir mengatur pertemuanku denganmu.

Dan aku pun jatuh cinta lagi.

Kali ini bukan semacam cinta pada pandangan pertama. Bukan juga karena kau perempuan yang suka menulis puisi. Dan sama sekali bukan karena kau cantik. Tidak. Kali ini aku mengerti, cinta bisa tumbuh karena banyaknya pengertian dan pelajaran yang kudapatkan dari seseorang.

Baca Juga  Bencana Alam Tiba, Salah Siapa?

Ada yang bilang bahwa lelaki perlu banyak mencintai dan perempuan perlu banyak memahami. Kurasa sekarang aku setuju dengan pendapat itu. Seorang lelaki butuh dicintai dan perempuan butuh dipahami, bukan hanya dicintai.

Sekarang aku bukan lagi anak kecil yang diam-diam mengirim surat cinta pada teman sekelasnya. Aku bukan lagi anak yang masih pergi ke kampus untuk menatap diam-diam pada kakak tingkat idaman yang melintas di depan. Aku juga bukan lagi anak melankolis yang mengharapkan cinta pada pandangan pertama untuk dijadikan inspirasi menulis puisi-puisi.

Aku seorang laki-laki yang akan terus berusaha memantaskan diri dan memahami bahwa sebuah hubungan tidak hanya memerlukan cinta, tapi juga banyak pemahaman dan pengertian.

Bersamamu-lah aku belajar tentang semua itu.

Kamu bukan perempuan yang hanya akan meminta dikagumi, dicintai dan dipahami, tapi kamu juga akan memberikan cinta dan perhatian yang sebanding – sekali pun sebuah hubungan bukanlah soal perhitungan untung rugi.

Kamu bukan perempuan yang hanya akan diam ketika aku melakukan kesalahan. Kau tidak segan menegur, dengan cara baik-baik, dan memberikan pengertian bahwa apa yang kulakukan bukanlah hal yang bisa dibenarkan.

Kau membuatku merasa dihargai dan dicintai sebagai seorang laki-laki. Kamu memang tidak selalu menuruti permintaanku, tapi kau selalu memiliki alasan untuk setiap perbuatan. Dengan logika dan perhitungan matang, kau melengkapiku yang lebih banyak bertindak menggunakan perasaan.

Dibanding menjauh pergi ketika aku marah dan salah paham, kamu akan mengajakku duduk bersama dan membicarakan masalah kita baik-baik seperti yang seharusnya dilakukan dua orang dewasa. Kau selalu berkata padaku: katakan dan aku akan mendengarkan. Maka dibanding diam memendam kemarahan dan masalah yang sebenarnya tidak kamu pahami, aku belajar untuk berbicara, menyampaikan padaku apa yang telah menjadi ganjalan dalam benakku.

Baca Juga  Romantika Semesta

Kau perempuan pertama yang mengajarkan padaku bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan saling bicara dan mendengarkan.

Maka untuk menjaga agar apa yang telah kutemukan tidak lagi hilang, aku akan terus belajar dan belajar. Bukankah sesungguhnya hidup juga adalah sebuah proses belajar yang tidak akan berakhir hingga nafas kita berhenti? Begitu pun dengan mencintai. Aku belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu ketika aku gagal dan patah hati berkali-kali. Aku juga belajar darimu dan kau belajar dariku. Tentang memahami, menerima, mengerti, memberi, mendengarkan, dan bertahan bersama.

Kita memang baru mulai berjalan beberapa langkah. Bukankah perjalanan yang panjang selalu dimulai dari langkah-langkah kecil? Barangkali kita akan terjatuh, tertatih, tersandung batu-batu, tersesat, bahkan juga terluka.

Satu hal yang penting di antara semua itu, kita harus selalu berjalan bersisian, bukannya saling memunggungi dan menjauh di suatu persimpangan.

Aku mencintaimu. Kau mencintaiku. Kita telah banyak belajar bahwa bukan hanya cinta yang dibutuhkan untuk bertahan. Maka mari saling mengingatkan, saling belajar, dan terus berjalan berdampingan. Jika kau lelah dan diserang keinginan untuk menyerah, ingat lagi perjalanan kita dari awal, semua hal yang pernah kita hadapi bersama, dan kenangan-kenangan kecil yang bisa membuatmu tertawa. Ingat semua kesulitan yang telah kita selesaikan dan kembalilah bertahan. Genggam tanganku. Ingatkan jika aku melakukan kesalahan. Peluk aku jika aku lelah. Dengarkan jika aku berbicara. Dan ingatkan aku tentang tulisan ini jika aku mulai lupa.

Untuk perempuan yang tengah berjuang bersamaku, semoga kita bisa tetap menjadi sepasang sahabat baik yang saling memahami hingga nanti. Dan aku tidak ragu lagi, bahwa sekalipun aku sudah jatuh cinta berkali-kali, jatuh cinta terbaikku adalah kamu.

Pesan dari Kehidupan yang Fana

Previous article

Rapat dengan Tim Usaha Planet Nufo, Mahasiswa IPB Tetapkan Kegiatan Sinergi Satu Bulan

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Zetizen