Bumi pertiwi ini telah mengalami banyak peristiwa mengerikan hingga bisa merdeka seperti sekarang ini. Sejarah mencatat bahwa puluhan perang pernah digencarkan oleh rakyat Indonesia dalam rangka perjuangan mengusir penjajah dari Indonesia pra-kemerdekaan. Di era tradisional seperti masa itu, rakyat terpaksa menggunakan persenjataan apa adanya dalam berperang. Hal ini tentu kontras dengan para penjajah yang bersenjatakan lebih maju. Maka tidak sedikit peperangan yang terjadi lalu dimenangkan oleh pihak musuh.

Para penjajah bukan hanya mengeksploitasi sumber daya alam negara, tapi juga sumber saya manusianya. Mereka menentang keras rakyat yang hendak menimba ilmu, hanya rakyat dari kalangan elit saja yang dileluasakan untuk sekolah waktu itu. Banyaknya kesenjangan tersebut lantas membuat rakyat geram dan melancarkan berbagai aksi pengusiran. Maka, sungguh ironi jika sekarang rakyat khusunya para pemuda abai begitu saja dalam menjaga persatuan negara.

Rakyat harus banyak membaca kisah perjuangan para pahlawan pra-kemerdekaan lalu sadar bahwa tombah perjuangan menjaga keutuhan negara tidak cukup sampai 1945 saja, tapi harus dilanjutkan sampai kapan pun. Sebab, nyatanya proklamasi kemerdekaan 76 tahun lalu itu tidak serta merta menjadi pertanda bahwa Indonesia tidak lagi dijajah. Penjajah masih saja menggerogoti persatuan negara bahkan hingga kini. Tentu bukan dengan pedang dan meriam, tapi dengan sesuatu yang lebih halus dan rapi, yaitu ideologi.

Kemajuan teknologi informasi menjadi peluang besar bagi mereka untuk semakin gencar menebarkan ideologi nyleneh bagi rakyat. Berbagai konten tentang penyebaran ujaran kebencian bertebaran di berbagai media masa, sehingga menyebabkan masyarakat saling berselisih paham dan saling memusuhi satu sama lain.

Sebut saja kasus Audrey yang booming sekitar tiga tahun lalu. Kasus ini berawal dari sebuah postingan berisi foto dan caption dari seorang remaja bernama Audrey yang mengaku telah menjadi korban bullying oleh teman-temannya sendiri. Audrey mengaku bahwa ia mendapatkan perlakuan kasar seperti ditendang kemaluannya, dipukul, dsb.

Baca Juga  KEKAYAAN YANG HILANG DI TANAH MINANG

Netizen sontak saja beramai-ramai menghujat para pelaku dengan tagar save audrey. Tagar ini langsung trending hanya dalam beberapa waktu saja. Berbagai sumpah serapah mereka lontarkan di media. Namun, setelah diusut ternyata siksaan yang dialami Audrey ternyata hanya rekayasa belaka. Hal itu sontak saja membuat warganet kecewa dan merasa ditipu, mereka lantas menyalahkan satu sama lain karena dengan mudahnya percaya dengan kabar seperti ini.

Kasus ketidak adilan di negeri ini sangat banyak, rentetan kasus kriminal seolah hanya menjadi kabar murahan yang lewat di layar kaca saja. Rakyat dengan mudahnya dialihkan dengan berita tidak penting sehingga mengabaikan berita yang selayaknya penting. Sungguh politik yang halus, bukan? Misalnya berita tentang pembunuhan Marsinah, seorang buruh yang menjadi pimpinan para buruh di Porong, Jawa Timur. Ia ditemukan tewas beberapa hari setelah ia menyuarakan aksi mogok kerja bersama para buruh yang menuntut kenaikan gaji. Sebab, selama ini mereka hanya digaji sebesar Rp. 1.700 perbulan, padahal dalam KepMen 50/1992, telah ditetapkan bahwa UMR Jawa Timur sebesar Rp. 2.250 perbulan.

Namun, lagi-lagi kasus ini hanya lewat di media beberapa saat saja, bahkan hingga kini bekum ada yang mengusut tuntas tentang kasus pembunuhan ini. Tidak menutup kemungkinan bahwa sang pembunuh hingga kini masih berkeliaran bebas. Berita mengenai pembunuhan Marsinah ini nyatanya kalah saing dengan berita perceraian artis, hubungan asmara politikus A dengan B, dan berita-berita murahan lainnya. Berita-berita ini seolah memang segaja dibuat agar membuat rakyat lupa akan ketimpangan yang menimpa Marsinah.

Sesungguhnya Indonesia adalah negara yang sangat kaya raya. Bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia. Dilansir dari laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS), dalam kode data SP2010 tersedia 1331 kategori suku yang tersebar di penjuru Indonesia. Setiap suku memiliki ciri khas tersendiri yang sangat unik satu sama lain. Namun sekali lagi penjajah adalah sosok yang licik, mereka mengambil celah dari perbedaan yang ada dari setiap suku untuk mengadudomba rakyat.

Baca Juga  Dr. Siti Fadhilah, Virus, dan WHO

Sebut saja konflik SARA yang terjadi antara warga Madura dan Suku Sampit yang menyebabkan tewasnya 500 orang korban. Dewasa ini fakta menunjukkan moral multikultural rakyat semakin pudar terutama dalam hal demokrasi. Dalam proses demokrasi kadang jarang ditemukan dalam suatu etnis tertentu terpilih pimpinan etnis lain, bahkan suksesi kepemimpinan, peluang jabatan atau pekerjaan sangat erat dengan diskriminasi etnis, yaitu mengutamakan putra daerah.

Beragamnya agama di Indonesia juga beberapa kali menjadi pokok persiliihan rakyat. Sebagai contoh kasus pembakaran Gereja Baptin Indonesia (GBI) di Bantul, Yogyakarta. Beberapa saat sebelum kejadian juga ditemukan kertas bertuliskan ancaman ‘Bakar gereja se-Indonesia.’. Kejadian ini memantik perselisihan dengan umat islam karna kejadian ini disangka sebagai aksi balas dendam kepada umat kristiani atas pembakaran masjid Baitul Muttaqin.

Belajar dari peristiwa di atas, tentu bisa disimpulkan betapa kuatnya pengaruh media masa dalam perkembangan suatu perkara. Maka, para pemuda harus bisa memanfaatkan media guna menumpas ketidak adilan guna menjaga persatuan dan keutuhan negara. Sungguh disayangkan jika kemerdekaan ini terus menerus dinodai oleh retaknya persatuan rakyat. Perlu disadari juga bahwa musuh persatuan sendiri bukan hanya berasal dari eksternal negara, bisa jadi dari internal sendiri seperti kaum elit negara yang rakus akan kekayaan dan kekuasaan sehingga rela menggadaikan amanah dari rakyat demi pundi-pundi kekayaan.

Konsep persatuan yang tercantum dalam pancasila sila ke tiga haruslah diimplementasikan dengan baik dalam jiwa para pemuda. Sebab, Negara kesatuan bukan hanya perihal suatu kesatuan dari negara bagian (federasi), melainkan kesatuan dalam asrti keseluruhan unsur-unsur negarayang bersifat fundamental. Unsur-unsur yang membentuk negara meskipun berbeda-beda dan beraneka ragam, namun merupakan kesatuan dalam kehidupan bersamayang disebut negara. Kesatuan dalam perbedaan itu bukan berarti melarutkan semua unsur negara, melainkan persatuan dalam kebersamaan untuk mewujudkan tujuan bersama.

Baca Juga  Memberantas Korupsi dengan Upaya Pencegahan

Rakyat kini haru mawas diri untuk menghadapi perang melawan musuh yang berniat memecah belah persatuan negara dengan cara yang mutakhir. Bukan dengan pedang dan meriam, tapi dengan media masa. Tidak harus dengan membuat proposal atau jurnal ilmiah yang tebalnya beribu halaman banyaknya jika memang belum mampu, cukup ikut meramaikan suatu akun atau berita yang membahas ketidak adilan dalam negri saja cukup membantu.

Mahasiswa sebagai insan intelektual harus bisa mempelopori rakyat dalam belajar cerdas mengoptimalkan penggunaan media masa. Seperti yang dilakukan mahasiswa UIN Walisongo Semarang beberapa bulan lalu dalam aksi oenurunan UKT. Dikarenakan pandemi yang masih melanda, mereka mengadakan aksi melalui media twitter dengan tagar ‘UINWS MAHAL.’ Tagar itu sampai menjadi trending atas oleh karena mahasiswa yang saling bersatu padu dalam mencuitkan tagar tersebut.

Sejatinya tugas mahasiswa tidak sesederhana hanya dengan kuliah pulang saja, tapi mereka memiliki lima peran besar: agen perubahan, penjaga nilai, penjaga bangsa, kekuatan moral, dan pengontrol sosial. Dari lima peran itu tentu bisa disimpulkan betapa mahasiswa berperan penting dalam menjaga keutuhan rakyat Indonesia dengan segala fasilitas yang ada. Mahasiswa juga dituntut untuk cerdas dalam mengikuti trend yang ada guna bisa mencari peluang untuk mengamati ketidakberesan yang terjadi dalam negri.

 

 

Naila Aulia
Aku Menulis karena pada dasarnya hidup adalah berbagi; ilmu, inspirasi, cerita, kasih dan cinta

    Pentingnya Membangun Sinergisitas dalam Lembaga

    Previous article

    Mahasiswa KKN Reguler dari Rumah Kelompok 50 UIN Walisongo Gelar Acara Webinar dengan Tema Membangun Sikap Toleransi dalam Beragama

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan