Keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh satu orang pimpinan, tapi oleh team work yang saling kolaborasi yang efektif dan efisien. Organisasi terdiri atas pimpinan dan bagian-bagian atau unit-unit di bawahnya. Setiap bagian/unit merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ibarat puzzle kecil, maka harus dirangkai satu dengan lainnya untuk menjadikan bentuk puzzle besar yang diinginkan. Kerja sama kolaboratif antar bagian dalam Lembaga disebut sebagai sinergisitas, dan sinergisitas adalah kunci keberhasilan sebuah Lembaga. 

Harus diakui bahwa Lembaga diisi oleh berbagai orang yang memilik karakter yang berbeda-beda. Namun demikian, bagaimana perbedaaan karakter yang tersebar dalam berbagai bagian/unit satu sama lain dapat bersinergi guna mewujudkan tujuan organisasi. Diperlukan seni membangun sinergisitas.

Seni membangun sinergisitas adalah adanya keberagaman tugas pokok dan fungsi yang memiliki program yang berbeda-beda tetapi untuk mencapai target yang sama, yaitu terlaksananya program kerja secara produktif. Banyak Lembaga yang dari sisi tujuan tercapai, akan tetapi tidak menunjukan performa yang terbaik dalam pencapaiannya, sehingga kerjanya tidak produktif, hasilnya juga biasa-biasa saja. Agar mencapai hasil yang berperforma terbaik ini dituntut mengatur dan menata keberagaman dengan kesatuan persepsi melalui komunikasi antar pimpinan juga jajaran bawahannya. Tidak kalah pentingnya adalah menjelaskan visi dan misi Lembaga secara massif kepada semua unit bawahannya, agar selaras dalam bergerak, kemudian mengingatkan selalu akan tugas pokok dan fungsi masing-masing unit agar selalu on the track melalui pendekatan kepemimpinan yang humanis dan komunikatif.

Baca Juga  Metafora Semut, Laba-laba, dan Lebah

Upaya untuk mewujudkan sinergisitas Lembaga yang maksimal, ditentukan oleh berbagai faktor. Seorang pemimpin harus mengetahui factor-faktor tersebut, karena dengan memahaminya akan membuat organisaisi berjalan maksimal dan berperforma maksimal. Faktor-faktor kekuatan sinergisitas tersebut antara lain: Pertama, tujuan yang berorientasi hasil. Dengan adanya fokus pada tujuan, maka setiap pemimpin dapat mengarahkan seluruh elemen untuk mencapai tujuan sesuai fungsi masing masing.

Kedua, kebersamaan tim. Membangun sinergi diperlukan kebersamaan, keselarasan dan kedekatan yang akan mengikat anggota tim menjadi solid dan kuat. Terbangun adanya chemistry di antara anggota yang memberikan energi positif bagi Lembaga. Ketiga, pemberdayaan tim. Pemberdayaan tim dilaksanakan dengan memberikan kepercayaan kepada anggota tim untuk memikul tanggung jawab dan dan memiliki otoritas untuk menjalankan misi dan tujuan.Pembeerian kepercayaan ini akan mendorong kreatifitas dan inisiatif anggota tim untuk semakin berkembang dan mencapai performa maksimal. Keempat, kolaborasi yang selaras. Anggota tim yang saling melengkapi, saling mendukung dan saling memperkuat dalam melaksanakan misi dan tujuan akan membuat tujuan tercapai dengan cepat. Kelima, penghargaan bagi tim. Menjadikan setiap anggota merasa mendapatkan manfaat dan makna yang lebih dalam keikutsertakan di tim.

Keberhasilan Lembaga dengan dihubungkan pada faktor-faktor di atas akan tercapai bila pemimpin Lembaga mampu mengkolaborasikan dengan manajemen yang baik. Pemimpin yang berhasil mewujudkan keberhasilan Lembaga sangat dipengaruhi juga bagaimana sikap, persepsi dan pelaksanaan profesionalitas para bawahannya. Unit organisasi yang ada di bawahnya harus sadar dengan tugas pokok dan fungsinya untuk bisa menerapkan komitmen kerja yang professional.

Baca Juga  Optimalisasi POLRI dalam Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan di Masa Pandemi Covid 19

Seringkali muncul hambatan-hambatan hubungan antara atasan dan bawahan dalam organisasi. Beberapa hambatan tersebut antara lain: Pertama, komunikasi. Seringkali masalah komunikasi menjadi masalah serius untuk ditangani. Banyak masalah muncul akibat pola komunikasi yang tidak efektif. Komunikasi organisasi merstinya dilakukan secara jelas dan terarah. Visi misi harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua unit kerja, agar tidak terjadi miskomunikasi antar unit.

Kedua, tumpang tindih tupoksi. Tugas pokok dan fungsi yang sudah disepakati dalam aturan anggaran Lembaga, terkadang di dalam pelaksanaannya terjadi tumpeng tindih. Hal ini menyebabakan ada unit satu dengan lainnya tidak sinkron dalam bekerja. Terjadi ego sentris unit, di mana unit satu merasa itu bagian kerjanya, sementara unit lain tidak maksimal. Hal ini menyebabkan saling berbenturan. Pemimpin harus tegas dan disiplin dalam mengawasi tupoksi unit bawahannya terutama dalam proses dan pelaksanaan organisasi.

Ketiga, otoritas kebijakan. Walaupun secara jelas segala kebijakan yang bersifat internal dan eksternal merupakan domain dari pimpinan. Terkadang muncul hambatan akan terjadinya adanya unit bawahan yang berperan dan dominan menjalankan otorisasi kebijakan. Biasanya dilakuakn oleh unit bawahan yang merasa sudah lama dan dianggap seolah menguasai segala hal dan meremehkan pimpinan yang baru. Seyogyanya pimpinan harus tegas menjalankan tugasnya sebagai otoritas tertinggi kebijakan. Diberi mandate pimpinan tentu karena dianggap memiliki kompetensi dan skill di atas rata rata.

Apabila lembaga memahami arti penting sinergisitas dengan segala prasaratnya, maka lembaga akan menjadi sebuah institusi kokoh, produktif dengan performa yang baik. Apabila ini terwujud, akan memberikan manfaat yang banyak khususnya bagi masyarakat lembaga, maupun masyarakat pada umumnya.

Baca Juga  Pandemi, Kriminalitas dan Penegakan Hukumnya

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Dr. Imawan Sugiarto, M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Modus dalam Tindak Pidana Money Laundering

Previous article

Perjuangan Menjaga Persatuan NKRI di Era Digital

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan