Perempuan sebagai Representasi Rasa Malu

Berbicara tentang perempuan maka berbicara tentang lambang rasa malu. Perempuan secara hakikat memang  diciptakan sebagai perhiasan dunia dengan ke-shalihah-annya. Salah satu ciri kesalehahan adalah rasa malu yang begitu tinggi. Rasa malu merupakan mahkota kemuliaan bagi seorang muslimah dan rasa malulah yang akan membuat perempuan menjadi seorang yang dihormati dan dimuliakan. Bahkan telah dijelaskan dalam sebuah hadist bahwa rasa malu merupakan identitas akhlaq agama Islam, dan tentu saja tak lepas dari kualitas tingkat keimanan seseorang.

Rasulullah saw. bersabda; “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah)

Malu memiliki nilai tinggi sehingga disebut sebagai identitas akhlaq agama islam. Secara tidak langsung, hadist ini berarti bahwa setiap muslim yang baik pasti memiliki rasa malu yang tinggi baik untuk dirinya sendiri, orang lain dan tentu saja kepada penciptanya. Tidak hanya malu dalam berkata, tetapi dalam bersikap dan berbuat.

Kata “malu” terdengar familiar di kalangan siapapun, bahkan masyarakat sudah terdoktrin bahwa malu adalah rasa sungkan dalam menonjolkan diri di keramaian atau khalayak umum. Padahal definisi rasa malu tidak segamblang itu yang kemudian bisa menyebabkan seorang muslimah terbatas dalam berkarya maupun bekerja. Lalu bagaimana rasa malu yang sebenarnya? Kenapa kemudian bisa dikatakan sebagai salah satu cabang keimananan yang harus dipenuhi dalam sifat seorang muslim?

Dalam buku yang ditulis oleh Mahmud Al-Mishri berjudul Manajemen Akhlak Salaf: Membentuk Akhlak Seroang Muslim dalam Hal Amanah, Tawadhu’, dan Malu menurut Fadhulullah Al-Jailani, malu adalah perubahan yang menyelubungi seseorang lantaran khawatir kepada sesuatu yang tercela, sesuatu yang sejatinya buruk.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , malu diartikan dalam tiga keadaan. Yang pertama, malu merupakan merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya). Kedua, malu diartikan sebagai rasa  segan untuk melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dan sebagainya. Dan yang ketiga, malu adalah rasa kurang senang (rendah, hina, dan sebagainya)

Sedangkan dalam definisi filsafat, Izrd dan Hyson menyatakan bahwa malu merujuk pada berbagai perasaan emosi termasuk ketakutan dan minat, ketegangan fikiran serta ketenangan.

Bisa disimpulkan bahwa malu merupakan gabungan berbagai perasaan emosi yang tidak tentram yang dikawal oleh hati meliputi perasaan bimbang, ketegangan, serba salah, rasa rendah diri dan tidak percaya kepada diri sendiri serta bimbang terhadap penilaian negative daripada orang lain.

Dari definisi tersebut, bisa diambil  pesan bahwa seseorang harus berusaha memuncukan rasa malu dalam dirinya sehingga ia tidak ceroboh dalam melakukan sesuatu. Malu merupakan penghalang dalam melakukan maksiat. Maka dari itu, malu disebut sebagai akhlak islam. Dalam hadist rasulullah  “Sesungguhnya di antara ucapan kenabian pertama yang didahului umat manusia adalah, ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu’.” (HR Bukhari). Ini lah yang menjadi nafas agama islam. Orang tidak berbuat maksiat karena memiliki rasa malu kepada allah dan manusia lainnya.

Rasulullah memberikan tauladan yang sangat jelas tentang rasa malu ini, terkhususkan bagi para perempuan muslimah. Tapi semua itu sudah jarang sekali kita temui di zaman yang penuh dengan kecanggihan. Perempuan  secara fitrah memang diciptakan untuk menyandang gelar perhiasan dunia dengan rasa malunya, kini tidak bermakna lagi. Bahkan, perlu dipertanyakan lagi apakah rasa malu masih ada dalam diri perempuan walaupun hanya sedikit? ada bermacam-macam tingkah laku perempuan yang benar-benar tidak mencerminkan rasa malu sedikit pun. Hal ini tentu sudah terjadi sejak zaman penjajahan dulu dan semakin merajalela pada zaman sekarang. Dengan berbagai peristiwa yang menunjukan lenyapnya rasa malu pada diri Perempuan, kita perlu mengetahui factor apa saja yang menyebabkan hal itu terjadi, sehingga kita bisa menghidari dan tentu bisa menjadi pelajaran bagi anak cucu.

Faktor pertama yang paling mempengaruhi adalah factor keluarga. Keluarga merupakan rumah utama bagi anggota keluarganya. Sikap atau perilaku keluarga merupakan contoh bagi anak-anaknya. Maka tak heran jika  ditemui di berbagai social media anak-anak berjoget ria dengan ibunya. Bagaiamana seorang anak memiliki rasa malu jika sejak kecil sudah diajarkan oleh orang tuanya sendiri untuk mengumbar-umbar aurat di sosoial media dan menjadikan hal itu sebuah kebiasaan.

Faktor yang kedua adalah kurangnya kualitas keagamaan baik dari diri sendiri maupun di lingkungannya. Agama merupakan factor paling penting dalam hal berprilaku. Jika seorang memiliki kualitas agama yang baik, maka perilakunya pun pasti terjamin baik. Karena setiap agama tentu saja mengajarkan kebaikan pada pengikut-pengikutnya. Seperti definisi diatas, rasa malu bahkan dibahas dalam segala aspek, baik dari segi agama, pandangan filsafat dan tentunya norma-norma masyarakat yang tertuang dalam peraturan kenegaraan. Agama islam benar-benar menempatkan posisi rasa malu didalam urutan tertinggi dan disebut sebagai 99 cabang iman.

Faktor yang ketiga adalah ketidakberhasilan pendidikan formal dalam menerapkan norma-norma social yang telah diajarkan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki dua tanggung jawab besar yaitu pengajaran dan pendidikan. Artinya, tidak hanya mengajarkan teori-teori sains kepada anak didiknya tetapi juga sebagai langkah awal dalam pembentukan karakter anak dalam menerapkan norma-norma social seperti sopan santun, memiliki etika yang baik serta memiliki rasa malu dalam berprilaku. Jika dilihat dari tingkah laku remaja zaman sekarang, sekolah bahkan tidak berperan sedikitpun dalam mengajarakan etika kepada para pendidiknya. Apalagi adanya era pandemi yang tidak mengizinkan sekolah tatap muka yang seharusnya sebagai sarana dalam prakter pembentukan kararkter tidak dapat berjalan secara optimal.

Faktor yang keempat adalah lingkungan. Seperti kata pepatah: “Jika kau berteman dengan tukang pandai besi, maka kau akan bau besi. Jika kau berteman dengan penjual parfum, maka kau akan wangi seperti parfum.” Artinya, lingkungan sangat mempengaruhi habits yang terbentuk dalam kehidupan seseorang sebab manusia adalah makhluk social yang  tidak bisa hidup sendiri dan memerlukan pertolongan orang lain. Jika seseorang hidup di lingkungan yang baik, bergaul dengan pergaulan yang baik serta  mendapat support dengan contoh dari orang-orang yang lebih tua dengan perilaku baik, tentu saja akan menghasilkan karakter serta habits yang baik dan memiliki rasa malu yang tinggi. Jika mau melakukan sesuatu yang bersifat negative pun akan merasa bersalah karena contoh yang diberikan merupakan perilaku baik- baik.

Faktor terakhir dan paling mempengaruhi karakter adalah teknologi. Banyak ditemukan remaja, tidak bergaul dengan siapapun, hanya berdiam diri dikamar dengan indikasi bahwa ia tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar tetapi tetap berjoget ria di social media karena mereka memiliki akses yang lebih luas yaitu teknologi. Bahkan bisa mencontoh suatu hal trendy dari belahan dunia lain yang  bertentangan dengan adat dan norma yang ada di nergara kita ini. Tidak dipungkiri lagi, kebudayaan dunia barat sudah menyatu dalam darah pemuda-pemudi Indonesia. Bahkan sekarang sudah dianggap sebagai suatu hal yang melambangkan kegaulan dalam mengikuti trend-trend tersebut baik dalam segi fashion, cara berbicara, cara makan, dan perilaku-perilaku lain yang tidak sepatutnya dtampilkan dipublik dan ditonton leh jutaan manusia lainya.

Rendahnya rasa malu perempuan memang sudah sejak lama terjadi di Indonesia tetapi dengan berkembang pesatnya teknologi, hal itu semakin mencolok terlihat. Jika tahun 90-an kita  hanya menemui biduan dangdut yang berlenggok ria diatas panggung tanpa memperhatikan aurat maupun harga dirinya sebagai perempuan, tapi hari ini hal itu menjadi trendy yang Sebagian orang mengartikannya sebgai suatu hal yang harus diikuti. Jika dulu seorang biduan akan dikecam atau dicampakan oleh masyarakat setempat karena dinilai melakukan ssuatu pekerjaan yang tidak baik, maka hari ini kita mendapati seluruh lapisan masyarakat berlomba-lomba dalam berjoget-joget ria tanpa memperdulikan umur, jenis kelamin bahkan jabatan yang sedang mereka pegang.

Hal ini sebagai tamparan keras bagi kita semua selaku kader penjaga moral bangsa. Kita tidak bisa diam saja dan membiarkan harga diri perempuan ternodai. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, dan kemungkinan besar dapat mempengaruhi perilaku seseorang, bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Ini adalah tantangan tersendri bagi kita terutama kaum perempuan dalam menghadapi perubahan era dari generasi millennial menuju generasi z.

Melihat perempuan berjoget ria di berbagai social media seakan sudah menjadi hal lumrah yang tidak perlu ditegur atau diingatkan. Padahal jelas sekali larangan dalam al-qur’an mengenai lenggak-lenggok memperlihatkan lekuk badan kepada orang lain. Jika masalah besar seperti itu sudah menjadi habits bagi orang-orang di zaman ini, maka apalah arti hal kecil lainnya seperti suara perempuan adalah aurat, perempuan dilarang mer-make up kecuali untuk suaminya, dan hukum-hukum syara’ lainya.

Dengan berbagai factor yang ada, kemungkinan terbesarnya adalah kita akan terpengaruh dan kehilangan rasa malu dengan berbuat sesuatu yang sudah tidak mencerminkan harga diri seorang perempuan. Maka kita perlu mengetahui berbagai cara menanggapi hal tersebutdan meminimalisir kemungkinan untuk mengikuti trend tersebut tanpa harus meninggalkan gadget sebagai sarana mengikuti perkembangan zaman.

Salah satu caranya adalah dengan menyadari bahwa rasa malu merupakan nafas agama islam, dan kita sebagai Muslimah harus senatiasa menjaganya. Rasa malu akan  mengendalikan sikap, tutur kata, dan tindakan kita. Rasa malu menjaga perbuatan baik tetap dalam proses yang benar. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu. Barang siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandung di dalamnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawi).

Dengan menyadari hal ini, tentu kita akan selalu hati-hati dalam melakukan sesuatu sehingga tetap menjaga fitrah sebagai seorang Muslimah yang menjaga harga diri. Karena Rasa malu adalah kekuatan ruhani yang tak terkalahkan oleh nafsu atau kepentingan dunia yang menjurus pada keburukan.

Semoga kita bisa menjadi perempuan-perempuan yang berwibawa dengan terus bisa menjaga malu dalam melakukan apapun. Tidak ada makhluk sempurna di dunia ini, tapi berusaha memperbaiki diri adalah salah satu cara untuk menggapai ridho-Nya.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *