Penghargaan bagi Murid
Baladena.ID/Istimewa

Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia, atau mengantarkan anak didik untuk dapat menemukan jati dirinya. Memanusiakan manusia berarti ingin menempatkan manusia sesuai dengan proporsi dan hakikat kemanusiaannya. Sehingga manusia mampu menemukan jati dirinya. Maksudnya agar setiap individu manusia itu menyadari dan memahami ‘siapa dia”, “mengapa dia diadakan di dunia ini” dan “harus ke mana nantinya”.

Namun yang terjadi saat ini adalah masih banyak kalangan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan belum begitu menguasai tujuan pendidikan di atas. Terutama bagaimana pendidik (guru) menghargai anak didiknya (murid), baik dalam hal memeberikan pujian maupun penghargaan.

Bisa kita amati bersama, bahwa pendidikan di Indonesia layaknya pabrik ayam yang memproduksi telur. Pabrik tersebut akan berusaha memproduksi telur dari ayam dengan berbagai cara. Dan setelah ayam bertelur, maka telur akan dijual demi meraih keuntungan.

Memang tidak ada bedanya antara pendidikan di Indonesia dengan pabrik ayam yang memproduksi telur. Terutama ketika dunia pendidikan dihadapkan dengan berbagai ajang kompetisi dan ujian nasional (UN).

Guru-guru dengan menggunakan metode drill seakan memaksakan para murid untuk belajar agar ketika mengikuti kompetisi mendapatkan kemenangan dan ketika ujian nasional mendapatkan kelulusan. Dan ternyata, dibalik kemenangan dan kelulusan tersebut, tak jarang para guru menjadikan peristwa kemenangan itu sebagai jalan untuk meraih kenaikan pangkat dan tunjangan gaji.

Para murid yang memenangkan kompetisi dan mendapatkan kelulusan tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Meskipun mereka telah membawa nama baik lembaga pendidikan dan guru-gurunya. Tak jarang, beberapa guru malah merasa saling membanggakan dirinya sendiri, karena menganggap bahwa hasil tersebut berkat kemampuannya melatih dan mendidik.

Baca Juga  Revitalisasi Peran Guru

Seakan para pendidik tidak menghiraukan bagaimana perasaan para murid yang mengikuti kompetisi dan ujian nasional yang penuh ketegangan dan kecemasan. Tegang dan cemas bila ternyata gagal dan hanya mendapatkan amarah dan mungkin macian dari guru-gurunya yang menganggap bahwa mereka tidak melaksanakan intruksi dengan baik sebagaimana mestinya.

Pentingnya Penghargaan

Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum ad-din berkata: “Jika pada seseorang anak menonjol akhlak baik dan perbuatan terpujinya, maka ia patut dimuliakan, digembirakan dan dipuji di depan orang banyak untuk memberikan semangat berakhlak mulia dan berbuat terpuji”. Memuliakan anak dan memberi semangat dengan hadiah atau dengan ucapan yang manis adalah sesuai dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, yaitu “Saling memberi hadiahlah agar kalian saling mencintai”.

Seperti diketahui bersama bahwa karakter dari setiap manusia terutama anak (peserta didik) pasti lebih menyukai mendapat penghargaan yang sifatnya berwujud maupun tidak berwujud. Dan ia pun akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya merespon apa yang disukai oleh seorang anak. Guru harus bisa memberikan hadiah-hadiah tersebut pada kesempatan yang tepat. Seorang murid yang rajin, berakhlak baik, dan yang dapat menjalankan kewajiban, ia layak memperoleh hadiah dari gurunya. Kala itulah, anak itu akan menemukan jiwanya senang sekali menerima itu di hadapan teman-temannya. Hal ini mengingat bahwa pada usia pelajar, jiwa seorang anak lebih dipenuhi insting suka memiliki (Muhammad Jameel Zeero, Nida’ ilal Murabbiyin wal Murabbiyat, hal: 95).

Baca Juga  Surat Al-Kāfirūn Menolak Toleransi

Pujian sebagai bentuk penghargaan merupakan salah satu alat pendidikan yang diberikan kepada murid sebagai imbalan terhadap prestasi yang dicapainya. Secara didaktis, pujian atau penghargaan beserta segala macamnya, menurut al-Ghazali telah menjadi anutan para pakar pendidikan di zamannya. Menurut istilah didaktik, pujian atau penghargaan merupakan “fungsi reinforcement” atau fungsi penguatan yang lebih mendorong pada anak untuk semakin meningkatkan prestasi yang pernah diraihnya (Zainudin, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1991, hal: 86).

The reward of a thing well done is to have done it” (Emerson). “Penghargaan bagi sesuatu yang dilakukan dengan baik ialah telah melakukannya”. Sehingga dengan adanya penghargaan dalam hal ini pujian merupakan salah satu alat pendidikan kuratif yang mampu membangkitkan motivasi belajar murid.

Maka, tidak salah bila pujian yang merupakan penghargaan menjadi salah satu bentuk dari alat pendidikan yang mampu memberikan motivasi belajar bagi murid. Manakala seorang murid mendapatkan penghargaan karena dia berprestasi, tentunya semangat belajarnya pun akan meningkat, karena keinginan untuk mempertahankan dan menaikkan prestasi belajarnya. Motivasi belajar murid akan mengalami peningkatan ketika prestasi dan kerja keras untuk mencapai kesuksesan belajar itu diiringi dengan penghargaan dan apresiasi yang baik.

Oleh karena itu pemberian penghargaan berupa pujian memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya peningkatan motivasi belajar demi tercapainya keberhasilan pendidikan. Dan hal tersebut akan memberikan  semangat bagi anak terhadap pekerjaan dan prestasi baik yang telah dilakukannya. Dengan demikian murid akan bertambah semangat lagi untuk meningkatkan prestasinya dan termotivasi untuk mempertahankannya.

Baca Juga  FH USM Adakan Sosialisasi Bantuan Hukum di Panti Asuhan

Peran Guru

Dalam pelaksanaan pendidikan tiap anak memiliki motivasi (dorongan/alasan) untuk melaksanakan kegiatan. Dalam pendidikan, motivasi yang kuat memudahkan pencapaian tujuan, karena motivasi yang kuat ini melahirkan usaha aktivitas dan minat yang benar dalam mencapai tujuan itu.

Seperti yang kita ketahui bahwa motivasi adalah dorongan yang sangat menentukan tingkah laku dan perbuatan manusia. Ia menjadi kunci utama dalam menafsirkan dan melahirkan perbuatan manusia. Peranan yang demikian menentukan ini, dalam konsep Islam disebut sebagai niat dan ibadah. Niat merupakan pendorong utama manusia untuk berbuat atau beramal. Sementara ibadah adalah tujuan manusia berbuat atau beramal. Maka perbuatan manusia berada pada lingkaran niat dan ibadah. Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan bahwa perbuatan sangat ditentukan oleh niat.

Guru sangat penting peranannnya dalam bagaimana mengarahkan dan menjelaskan kepada murid tentang fungsi dan tujuan dari adanya penghargaan tersebut.

Jangan sampai para murid dalam menjalankan kewajibannya dalam menuntut ilmu hanya mengharapkan penghargaan, dan ternyata tujuan dari pendidikan untuk mencerdaskan tidak tercapai dengan baik.

Para guru harus mampu memberikan pengarahan yang tepat bagi murid bahwa penghargaan itu seperti jembatan penyebrangan. Jembatan penyebrangan  hanya digunakan untuk menyebrangi saja. Setelah itu tidak digunakan kembali. Akhirnya, murid akan memahami bahwa yang paling penting adalah bagaimana merek bisa belajar dengan lebih baik tanpa adanya pamrih. Wa Allaah A’laam bi ash-Shawwaab.

Muhammad Abu Nadlir
Direktur Monash Institute Semarang

    Berilmu Sebelum Beramal

    Previous article

    Sejenak Menepi

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi