Banyak sekali yang beranggapan bahwa kecerdasan itu diperoleh karena faktor keturunan, akan tetapi banyak juga yang membantah bahwa faktor kecerdasan tidak hanya berasal dari keturunan saja. Banyak hal-hal lain yang memicu seseorang untuk bisa menjadi orang yang cerdas. Kecerdasan seseorang bisa diperoleh dari interaksi antara faktor genetik atau keturunan dan lingkungan sekitar. Secara alamiah, genetik diturunkan dari orang tua kepada anaknya atau keturunan selanjutnya. Menurut hasil penelitian, sumbangsih faktor genetik terhadap kecerdasan seseorang hanya berkisar sekitar 57%. Angka tersebut sebenarnya masih beragam, ada yang mengungkapkan bahwa sumbangsih faktor genetik yang diturunkan dari orang tua terhadap kecerdasan itu sampai 73%, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa faktor genetik ini mencapai 80%.
Melihat beberapa penelitian yang ada, hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sumber acuan yang pasti, karena otak manusia itu bersifat plastis. Artinya, otak manusia semakin hari akan mengalami perubahan selama orang itu masih hidup. Jadi, faktor lingkungan juga bisa mempengaruhi kecerdasan manusia.
Seorang anak yang memiliki kecerdasan karena faktor genetik, bisa jadi, selama berproses mengalami hambatan. Hambatan yang mungkin terjadi yaitu karena kurangnya gizi. Apabila selama hidupnya kekurangan gizi, maka akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Disamping itu, orang yang merasa memiliki kecerdasan turunan, dia akan cenderung tidak mau berusaha untuk memperbaiki diri. Dia menganggap bahwa jika tidak melakukan apapun, dia akan cerdas dengan sendirinya. Dalam dunia islam, hal seperti ini disebut sebagai ilmu laduni. Ilmu laduni adalah ilmu yang diperoleh manusia tanpa melakukan apapun. Sangat mustahil jika cerdas hanya diperoleh secara cuma-cuma tanpa adanya usaha. Misalnya anak seorang dokter. Apabila anak tersebut sama sekali tidak mempelajari ilmu kedokteran, dia tidak akan bisa menguasainya secara otomatis.
Sedangkan seseorang yang mendapat kecerdasan dari faktor lingkungan atau usaha keras untuk mendapatkan ilmu, bisa jadi dia terlahir dari orang tua yang biasa-biasa saja , akan tetapi gizi yang diperoleh sudah cukup untuk memenuhi standar penghidupan. Orang yang cerdas karena faktor lingkungan atau kerja keras, dia akan cenderung untuk selalu memperbaiki diri. Faktor yang mendorong seseorang menjadi cerdas yaitu mendapat pendidikan yang memiliki kualitas tinggi sejak kecil. Apabila otak sering diasah dalam hal-hal positif, maka kemampuannya dalam berlogika akan semakin kuat.
Selain itu, perlu diingat bahwa komponen kecerdasan manusia sangat beragam. Skor IQ yang selama ini kita kenal merupakan hasil akumulasi dari skor berbagai kemampuan kognitif yang lebih spesifik. Menurut teori Raymond Catell dan John L. Horn, kecerdasan manusia dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, fluid intelligence adalah kemampuan seseorang untuk melakukan penalan abstrak, mengenali pola, serta dapat menyelesaikan masalah atau problem solving. Kedua, Crystallized intelligence adalah perkembangan ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Kecerdasan ini lebih cenderung kepada pengalaman hidup seseorang. Jika dilihat berdasarkan usia, maka dapat kita lihat kurvanya seperti ini. Crystallized intelligence akan terus meningkat seiring dengan berjalannya usia. Berbeda dengan fluid intelligence, kecerdasan ini akan terus meningkat hingga kita berada pada dewasa awal sampai titik maksimal tertentu. Menurut Hurlock, dewasa awal manusia dimulai dari usia 18 sampai 40 tahun. Kemudian kemampuan kecerdasan ini akan mengalami penurunan. Penurunan ini dapat dicegah dengan cara olahraga teratur dan selalu menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Faktor lain yang menyebabkan manusia mengalami penurunan yaitu karena anti kritik. Artinya, kemampuan yang dimiliki tidak diasah secara terus-menerus. Ibarat pisau apabila tidak diasah maka akan tumpul.
Kecerdasan sangat menentukan kesuksesan seseorang, karena kecerdasan merupakan power paling kuat untuk menentukan kesuksesan. Orang yang cerdas akan sangat mudah untuk memetakan sesuatu, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang cerdas itu mampu menampilkan performa akademiknya dengan baik. Artinya, tidak semua orang cerdas mampu menampilkan performa akademiknya dengan baik. Hal ini disebabkan karena kepribadian manusia itu sendiri, misalnya dalam hal percaya diri. Sifat percaya diri sangat diperlukan dalam segala hal, asalkan disesuaikan dengan porsinya.
Wallahu A’lam bi al-Shawab





