Berjuanglah di 10 Terakhir Bulan Ramadhan
Istimewa

Ramadan merupakan bulan yang dinanti-nanti umat Islam di seluruh dunia, yang di dalamnya terdapat kewajiban menunaikan ibadah puasa. Pada bulan ini, manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. Manusia mulai menyibukkan diri dengan melakukan amalan-amalan, mulai ibadah yang bersifat individu maupun sosial. Saat bulan Ramadan, masjid-masjid yang semula sepi -hanya didatangi untuk singgah sejenak atau mampir- menjadi begitu ramai untuk sholat tarawih dan I’tikaf  (berdiam diri di masjid dengan terus berdzikir). Selain itu, tampak di serambi masjid makanan-makanan, baik makanan ringan –ta’jil- maupun makanan berat, yang disediakan untuk berbuka puasa.

Dalam kitab hadis shahih muslim, Kata Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramiḍa atau ar-ramaḍ, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Dari akar kata tersebut kata Ramadan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana Matahari membakar tanah. Namun kata Ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan Ramadan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang yang sakit mata hendak buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual, dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi. Kendatipun demikian, panas yang menyengat tubuh saat bulan Ramadan seolah tidak dirasa oleh umat Islam dan tidak mengurangi semangat mereka untuk meraih gelar taqwa.

Ironisnya, Ramadan kali ini akan menjadi momentum yang berbeda, sebab tahun ini umat Islam akan menjalankan ibadah puasa di tengah menyebarnya virus covid-19. Penyebaran virus ini menyebabkan munculnya aturan social/physical distancing, WFH (work from home), dan Lockdown. Aturan-aturan tersebut kemudian mengakibatkan berbagai aturan turunan muncul, termasuk pelarangan sholat berjama’ah di masjid. Sholat jama’ah merupakan aktivitas yang menyebabkan banyak orang berkumpul, dalam kondisi mewabahnya virus covid-19, sholat jama’ah tidak diperkenankan. Tentunya pelarangan ini menimbulkan banyak reaksi public, namun untuk memutus mata rantai penyebaran virus, pemerintah tetap mengambil kebijakan tersebut. Sosialisasi dan edukasi mulai dilakukan dengan massif, tidak hanya pemerintah, para ahli medis, artis, selebgram, dan masyarakat turus berpartisipasi, hingga muncul #dirumahaja. Ramadan kali ini, semua kegiatan di luar rumah akan dialihkan ke rumah masing-masing, termasuk sholat tarawih.

Baca Juga  Beladiri (Bukan) untuk Berkelahi

Virus covid-19 merupakan pandemic yang menggegerkan seluruh penghuni bumi. Banyak korban yang berjatuhan gegara virus yang ukurannya sangat kecil, bahkan tidak kasat mata. Ramadan yang biasanya disambut dengan suka cita, kini seolah menjadi kerinduan yang entah sampai kapan bisa ditunaikan, rindu akan keramaian sholat tarawih di masjid, rindu akan panggilan sahur keliling dengan bedug dan alat-alat seadanya, rindu akan membagikan makanan di jalan, rindu akan riuhnya kaliman “aamiin” dilantunkan, dan kerinduan lainnya yang biasanya dinikmati saat bulan penuh berkah ini (Ramadan). Covid-19 seoalah menjadi penghapus suka cita Ramadan.

Tidak hanya itu, kini baitullah pun yang biasanya sangat berjejal berubah menjadi lapangan yang sangat lega, tidak ada lagi yang mengelilingi ka’bah untuk berthawaf, yang shalat di masjid al-haram, masjid al-Nabawi, masjid Quba, -yang disampaikan dalam hadis bahwa beribadah di tempat-tempat tersebut di lipat gandakan pahalanya- yang berziarah di makan nabi, sholat di raudhah, jabal rahmah tidak lagi putih ditutup oleh jamaah haji yang mengenakan pakaian ihram, tidak lagi ada jama’ah yang berbondong-bondong lari kecil atau sa’i dari bukit shafa ke bukit marwa (tempat mengingat sosok perempuan mulia yang bernama Siti Hajar, yang dengan kesabaran dan ketangguhannya, melalui dia Allah memberikan mu’jizat air zam-zam yang muncul dari kaki putranya, Ismail). Ramadan yang biasanya menjadi pilihan umat Islam menunaikan ibadah umrah, kini menjadi sesuatu yang tidak bisa dilakukan. Sebab, Rumah Allah kini di tutup, tempat-tempat ibadah lainnya pun demikian.

Baca Juga  Perbedaan Hukum Sholat dan Puasa Bagi Orang Sakit

Di manakah Eksistensi Tuhan?

Pandemic seolah menjadi ketakutan yang sangat mengerikan. Manusia seolah tak mampu berbuat apa-apa selain menaati aturan-aturan pencegahan. Berada di luar rumah seakan penuh dengan ketakutan, seorang menjadi buronan. Namun sepertinya lebih parah dari itu, sebab jika musuh berupa manusia manusia bisa menyiapkan tameng, sedang dalam kasus ini manusia tidak melihat di mana posisi yang mebahayakan dan di mana posisi aman. Dampak covid-19 ini juga mengakibatkan hal-hal yang semula diwajibkan seperti Sholat Jum’at, kini tidak lagi bisa ditunaikan. Sebenarkan apa maksud Tuhan dengan semua ini? Benarekah Tuhan tidak lagi ingin didatangi? Benarkah Tuhan benar-benar mengusir hamba-Nya dari rumah-Nya? Tidakkah Tuhan iba pada tangis hamba-Nya yang rindu beribadah di rumah-Nya?

Kini, Tuhan mengosongkan rumahnya. Peristiwa Corona ini mestinya menjadi relfleksi mendalam bagi orang yang beriman. Barangkali Tuhan tengah menunjukkan kekuasaannya dan mengembalikan manusia pada fitrahnya. Jika masjid hanya dijadikan symbol dalam Islam dan memasukinya hanya untuk menggugurkan kewajiban tanpa dibareng dengan substansi beribadah dan kerendahan hati sebagai hamba yang datang untuk bertemu Tu(h)annya. Bahwa agama bukanlah hanya sekadar symbol dan tradisi. Esensi keberimanan adalah keniscayaan. Manusia mestinya menyadari kebutuhannya atas Tuhan, untuk memberikan ketenangan dalam hati, menjadi satu-satunya tempat bernaung dan meminta pertolongan. Sehingga mungkin dengan kerinduan itulah manusia menyadari keberadaannya sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya.

Tuhan berfirman dalam kitab yang diwahyukannya kepada Muhammad, fa aina maa tuwallu fa tsamma wajhu Allah. Eksistensi Tuhan selalu hadir dalam setiap derap langkah hamba-Nya, di manapun dan kapanpun. Peristiwa Corona ini semoga membuat manusia sadar untuk melakukan kebaikan dan perbaikan di bumi, bukan kerusakan yang tak henti. Dengan di rumah saja, mestinya manusia memiliki cukup waktu untuk intropeksi dan kembali menemukan Tuhan serta menghadirkannya dalam setiap peristiwa. Jika berangkat ke masjid itu adalah syi’ar agama, maka saat ini substansi si’ar itu harus benar-benar diresapi dan diruningi secara mandalam agar agama ini bukan hanya menjadi tameng atas kepentingan pribadi, tetapi dengan beragama, manusia menjadi lebih ramah terhadap semesta dan memikul tanggung jawab untuk memakmurkannya. Semoga virus yang tengah mewabah ini dihilangkan Tuhan, sehingga bumi kembali tersenyum berserta penghuninya dan memulai kehidupan dengan lebih baik dan tertata. Wallahu a’lamu bi al-shawaab.

Dewi Robiah
Mahasiswa Magister Ilmu al-Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang. Mentor I’rab al-Qur’an di Monash Institute. Ketua Bidang Kajian Islam dan Keperempuanan PW Corps GPII Putri Jawa Tengah

    Perjuangan Cinta Terlarang

    Previous article

    Merdeka yang Ilusi

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan