Tertarik dengan lawan jenis adalah hal yang wajar. Tetapi, cinta bukan hanya tentang ketertarikan tetapi juga pengorbanan. Doni adalah orang yang cukup terkenal di masyarakat Desa Menbulo, mempunyai orang tua yang lugas dan berperan penting di masyarakat membuatnya dia dikenal oleh banyak orang. Selain itu, dia juga sosok yang pintar dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dalam perkemahan jambore ranting, Doni selalu menjadi figur banyak orang, dia menjadi pemimipin upacara yang tegas dengan badannya tinggi dan agak begitu besar membuat orang-orang yang mengikuti upacara tersebut bertanya-tanya. Santi, seorang yang tidak sengaja mendengar bisik-bisikan dari orang-orang yang berada di sebelahnya merasa biasa aja karena pemimpin upacara ya begitu tugasnya, tegap, suara yang tegas, dan lain sebagainya. Perkemahan itupun selesai juga,  dan para peserta meninggalkan bukit perkemahan.

Santi adalah sosok perempuan yang cuek apalagi dengan lawan jenisnya, selain dia bersekolah formal dia juga merupakan salah satu santri di Madrasah Diniyyah Darul Ilmi Kendari, madrasah yang berada di desanya sendiri. Pendaftaran penerimaan santri barupun dibuka, setiap hari jumlah pendaftar santri semakin banyak, bahkan kelas Santipun sudah tak sanggup menampungnya lagi. Beberapa hari kemudian, kelas sudah mulai efektif dengan sistem belajar mengajar. Ternyata, ada beberapa orang dari tetangga Desa Kendari yang datang untuk mendaftarkan diri menjadi santri di Madrasah Diniyyah Darul Ilmi, salah satunya adalah Doni. Sebelum belajar dimulai, Ustadz yang mengajar rupanya sudah mengenali sosok Doni, yang merupakan anak dari figur tetangga desa. Ustadz juga menyapa kepada Doni “Lho.. kamu ikut madrasah disini.. apa alasanmu, Cah Bagus?” Donipun menjawab “Saya disuruh orang tua, Pak. Karena sekolah formal saya juga tidak berbasis agama.” Santi pun tidak kaget dengan jawaban Doni, yang pasalnya sudah sedikit tahu tentangnya sewaktu di bukit perkemahan.

Waktu semakin berjalan, kelas semakin hari semakin tegang dengan hafalan nadhom alfiyah yang membuat pusing para santri. Setiap hari, santri harus menyetorkan tiga nadhom kepada Ustadz. Tidak hanya dihafal, bahkan santri juga harus paham betul apa maksud dari nadhom tersebut. kebanyakan santri hafal tapi sedikit yang paham. Setiap pembelajaran berlangsung, Doni selalu antusias. Bahkan pelajaran yang belum diajarkan dia bisa menjawab pertanyaan dari Ustadz. Sebagian santri yang berada di kelas itupun kebingungan “mengapa Doni bisa menjawab pertanyaan yang pertanyaan itu materinya masih jauh dari pembahasan di kelas?” ya..  pertanyaan itu belum bisa terjawab seketika itu. Dan dari situ, karena Doni sudah keseringan menjawab membuat Ustadz-ustadz menyuakainya serta santriwati-santri pun ada yang terpikat olehnya.

Baca Juga  "Wastana'tuka Linafsi"

Singkat cerita, sudah dijelaskan tadi bahwa Santi mempunyai sifat yang cuek apalagi dengan lawan jenis. Santi memiliki dua teman dekat dan yang pasti perempuan, sebut saja Riska dan Melati. Jika ada mereka berdua, di situlah ada santi. Ooh ya, di kelas Santi banyak temannya yang berkubu-kubu, maksudnya ada genk-genknya sendiri. Jadi, setiap genk tidak begitu berbaur dengan genk lainnya. Karena Doni orang yang sosialis, dia selalu ikut menimbrung dengan semua temannya di kelas maupun di luar kelas, walaupun hanya sekedar ngobrol-ngobrol santai. Tetapi berbeda dengan genk Sinta, setiap kali istirahat mereka pergi dari keluar ataupun tidak mereka tidur di kelas karena sudah lelah sekolah formal. Ya sebelumnya, Madrasah Diniyyah masuk sore, sedangkan formal pagi. Pantas saja, ada beberapa santri yang menggunakan waktu istirahatnya untuk tidur.

Sebab genk Sinta agak kurang akrab dengan teman-temannya, membuat Doni penasaran dengan mereka. Masing-masing dari mereka yaitu Sinta, Riska, dan Melati dichatt oleh Doni dengan alasan belajar bersama memaknai kitab. Mereka bertigapun mengiyakan, sorepun mereka berdiskusi tentang apa yang sudah disepakati sewaktu chattan yaitu berdiskusi membaca kita, doni juga bercerita ternyata Doni selama ini dia privat baca kitab kuning, pantas saja sudah semahir itu. Doni juga mempunyai niat terselubung mengajak belajar bersama, selain mendapatkan ilmu Doni menyimpan perasaan kagum dengan Sinta, tapi Sintapun tidak menyadarinya. Semakin hari mereka saling mengirimkan pesan, sampai Sinta mengetahui apa maksud Doni. Sebab setiap hari mereka selalu bersama untuk berdiskusi, teman-teman yang dari berbagai genk tersebut rupanya sudah mulai curiga dengan kedekatan antara Doni dan Santi. Dari berbagai genk tersebut, kebanyakan mereka juga mengagumi Doni, bahkan Sintapun berbicara dengan teman-teman perempuannya bagaikan angin yang lewat begitu saja, tanpa ada balasan.

Baca Juga  Asmara Dua Asrama, Bag 2: Temu

Ada beberapa perepuan yang mengagumi Doni setiap hari mengajak ngobrol Doni, tapi semakin lama mereka diacuhkan olehnya, Donipun malah berbalik arah mengarah Santi dan teman-temannya. Sebab Santi sudah curiga dengan perasaan Doni dan teman-temannya yang memperlakukan dia begitu, Santipun mulai tidak merespon perkataan Doni, yang menjawab hanyalah Riska dan Melati. Doni merasa bingung, mengapa sikapnya demikian? Tapi, Doni tidak putus asa agar bicaranya direspon oleh Sinta dengan memberikan pertanyaan khusus padanya. Doni berkata ”Sin, udah siap setor belum hari ini?” Sinta menjawab “In syaa Allah. Sudah, Don.” Teman-teman dari genk lain merasa panas atas perbincangan Sinta dan Doni.

Pada keesokan harinya, pukul 03.00 WIB, kelas sudah mulai dimulai oleh Ustadz Rahman. Seperti biasa para santri maju satu persatu untuk menyetorkan hafalannya. Ketika sudah setor, Ustadz Rahman memberi penjelasan dari apa yang dihafalkan tersebut, kemudian memberikan pertanyaan dari penjelasannya. ”Ayo, siapa yang tahu ada berapa isim yang dibaca rafa’ itu?” ujar Ustadz. Salah satu santriwatipun menyahut “Sinta tahu, Pak. Kan dia belajar terus dengan Doni, dia pacarnya, Pak” sontak semua yang berada di kelas itu kaget mendengar jawaban Bunga, santriwati yang menjawab tadi. Ustadzpun menjawab “Lho.. benarkah, Sinta?Doni?” mereka berdua tidak berani menjawab karena sebenarnya mereka saling mencintai. “Ohh,, mungkin mereka hanya cinta monyet saja. Hhhheee.. kalian tidak tahu cerita desa ini bagaimana?” ujar Ustadz, “apa, Ust?” rupanya semua santri di kelas itu penasaran tidak lain dan tidak bukan Sinta dan Doni. “udah.. kalian tidak perlu tahu.” Ujar Ustadz lagi. Tanpa memberi penjelasan yang jelas, belajar mengajar itupun sudah disudahi, dan semua santripun masih penasaran, bagaimana cerita desa ini sebelumnya?

Sinta bimbang dengan perasaannya, begitupun Doni. Di saat Sinta sudah mulai menaruh perasaan kepada Doni, mengapa dia masih harus mencari jawaban dari pertanyaan Ustadz Rahman. Doni ternyata mencari tahu jawaban tentang pertanyaan itu, dia pergi ke Desa Kendari (Desa Sinta) di rumah Ahsan, dia satu kelas dengan Doni dan Sinta. Bagaimanapun dia harus mendapat jawabannya. Ahsan menyarankan kepada Doni untuk menanyakan kepada neneknya bagaimana kejadian di masa lalu desa ini. Kemudian, Doni beserta Ahsan menanyai Nenek Ahsan bagaimana cerita tentang desa Kendari ini. Dan ternyata, atas pengakuan nenek Ahsan, katanya antara Desa Kendari dan Desa Menbulo mempunyai mitos (kepercayaan yang sudah turun temurun) yaitu jika salah satu dari kalangan Kendari bersatu (menikah) dengan kalangan Desa Mendulo maka salah satu dari mereka meninggal dengan cepat. Mendengar jawaban dari nenek Ahsan, Donipun kaget dan Ahsan mencoba menenangkannya. Donipun pulang dengan rasa lemas dan tak berdaya.

Baca Juga  Elegi Sang Perwira

Malam telah tiba, bagaimanapun dia harus bercerita kepada Sinta tentang jawaban nenek Ahsan. Singkat cerita, Doni cerita kepada Sinta dan Doni menyatakan bahwa dia apapun yang terjadi dia akan bersama Sinta. Apa jawaban Sinta? Ternyata Sintapun berani membersamai Doni walaupun bumi menolaknya. Setengah tahun sudah berlanjut bersama, bertentangan dengan apa yang dibicarakan orang-orang. Sinta mulai berfikir apakah ini sudah menjadi jalannya atau bagaimana. Bukan hanya Sinta, Donipun juga. Namun, bagaimana lagi semua karena cinta. Pengorbanan untuk bersama sangatlah berat, di kelas dia mulai diasingkan, dan sebagian Ustadz juga sudah mengetahuinya.

Hati mereka sedang dilema, sedangkan mereka juga harus melanjutakan pendidikannya, yaitu perguruan tinggi. Tepat, simulasi ujian nasional dimulai Sinta sudah tidak konsen dengan simulasinya, dia mulai memikirkan yang tidak-tidak, bahkan nilaipun merosot jauuh dari dugaan. Apa yang harus dilakukan, dia benar-benar dilema memilih orang yang dicintai atau mendengarkan apa kata orang-orang. Dan bagaimana jika orang tua Sinta dan Doni tahu kalau mereka ada rasa? Akhirnya, keputusan Sinta sudah bulat dia memlilih untuk fokus dalam pendidikannya dan Donipun juga mengiyakan walaupun berat di dalam hatinya.

Mamluatur Rohmah
Mahasiswi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Walisongo Semarang

    Pandemi, Ramadan, dan Eksistensi Tuhan

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Cerpen