Seindah mentari Pagi

Setenang suasana sunyi

Sesenang senyuman para petani

Semua tampak elok, tapi hanya ilusi

 

Saling menghujati

Saling menjatuhkan

Saling menyalahkan

Terkekang banyaknya peraturan

Ibarat konstitusi yang tak dihiraukan

 

Sang nenek moyang pun menangis

Melihat kondisi yang sangat tragis

Yang berpangkat bersifat sadis

Yang biasa serasa merasa sinis

Kepercayaan pun seperti tak ideologis

 

Pemuda terkekang dengan pemikiran yang semerawut

Cinta membuat semua seakan kalang kabut

Seakan perjuangan nenek moyang terkesan luput

 

Mereka tak butuh pujian

Mereka tak butuh juga hinaan

Yang dibutuhkan hanyalah perubahan

Pergerakan adalah perubahan

Agar tak sia sia apa yang mereka telah korbankan

 

Pulihlah negriku

Pulihlah bangsaku

Lupakan masa lalu yang pilu

Sambutlah masa depan dengan haru

Tanpa jatuhan air mata yang menggebu-gebu

 

Buat apa demokrasi ada di negri ini

Dan pancasila hanya diucapan bukan di hati

Seakan jauh dari pangkuan Ibu pertiwi

Darah menetes dan jiwa menghilang demi sesuap nasi

Diskriminasi masih terbayang di benak rakyat pribumi

 

Sulang, 14 April 2020

 

Oleh: Muhammad Mu’tasim Billah, Santri al Barkah Sulang Rembang

Baca Juga  Puitisasi al-Qur’an

Pandemi, Ramadan, dan Eksistensi Tuhan

Previous article

Rangkaian Kata dalam Bentang Jarak (3) Sebuah Pilihan

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Puisi