Beberapa tahun kedepan merupakan kunci menggapai sebuah visi Indoseia emas. Mewujudkan Indonesia Emas adalah sebuah visi mulia. Karena pada saat itu, Indonesia akan berada menjadi negara adidaya yang siap dan mampu bersaing dengan negara adidaya yang ada saat ini. Hal ini digadang-gadang akan tercapai pada tahun 2045.
Namun, hal ini tentu tak ujug-ujug terjadi. Karena sebelum memasuki era Indonesia Emas ada sebuah fase yang menentukan apakah visi Indonesia Emas ini akan terwujud atau tidak. Adapun fase tersebut tersebut adalah fase bonus demografi.
Ledakan usia produktif lebih besar dari pada usia non produktif, kurang lebih seperti itulah pengertian Bonus demografi yang kita pahami. Pada masa itu, diharapkan dengan dominannya masa usia kerja menunjang peradaban bangsa. Karena banyaknya usia kerja, maka pada masa itu manusia akan dituntut untuk menjadi Man of Inovator dan Kreator.
Hal ini disebabkan SDM yang ada pada saat itu harus saling berkompetisi agar tetap bertahan ditengah banyaknya pesaing. Terwujudnya Man of Inovator dan Kreator ini bisa terjadi jika Indonesia bisa mengelola SDM yang ada saat ini. Karena pelajar yang ada pada saat ini adalah pelaku Bonus Demografi di kemudian hari.
Bonus demografi yang diperkirakan bakal menjadi keuntungan bisa saja menjadi bencana demografi jika bonus itu tidak dikelola sebagaimana mestinya. Karena masyarakat usia kerja yang diagadang-gadang akan menambah pemasukan negara malah akan menjadi beban negara ketika mereka tidak mendapat pekerjaan.
Karena sesuai dengan Undang Undang Dasar 1945 pasal 34 bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Tentu, dengan meningkatnya pengangguran saat bonus demografi. Maka, yang akan terjadi adalah ledakan kemiskinan. Oleh karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan generasi yang akan berperan pada masa bonus demografi lewat pendidikan.
Pendidkan Formal adalah sebuah instansi yang membentuk karakter seorang anak yang akan terus dipegang. Hal ini sebagaimana pendapat Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mendefinisikan Pendidikan sebagai tuntunan hidup tumbuhnya anak.
Dijelaskan juga bahwa maksud dari tuntunan adalah menuntun agar seorang anak bisa menjadi manusia dan masyarakat yang sesuai kodrat dan dapat mencapai kebahagiaan setingginya. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan sangat berpengaruh terhadap bagaimana bentuk khususnya karakter generasi bangsa kedepan.
Indonesia yang mendapat julukan sebagai negeri serpihan surga dengan keindahan alam beserta sumber daya alam yang melimpah tentunya harus dikelola dengan semaksimal mungkin. Dengan penduduk yang berjuta-juta seharusnya pemerintah melirik pemberdayaan Sumber daya alam untuk kemudian disinkronisasikan dengan bonus demografi yang akan terjadi.
Jadi, Pendidikan yang ada, seharusnya melihat sebuah visi yang akan digapai agar saling berkesinambungan. Lebih jelasnya pendidikan saat ini seharusnya berbicara bahkan praktek untuk membentuk karakter generasi pekerja dan inovator.
Membentuk Karakter Generasi Kerja
Pembentukan Karakter generasi pekerja ini lebih ditekankan terutama pada pendidikan formal setingkat perguruan tinggi atau minimal SMA. Karena pada usia ini adalah usia siap kerja atau usia produktif. Ali bin abi thalib pernah berpesan bahwa didiklah anakmu sesuai pada masanya. Jadi, hal ini menggambarkan bahwa kita diminta untuk mempersiapkan generasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Kalau kita kontekskan pada masa bonus demografi yang persaingan kerja sangat ketat berarti kita harus mempersiapkan generasi yang siap bersaing dalam dunia kerja. Kalau kita berbicara dalam konteks masyarakat maka yang bisa mempersiapkan adalah pendidikan.
Harapan untuk mewujudkan generasi siap kerja melalui pendikan mempunyai tantangan sendiri yaitu kenyataan bahwa masih banyak anak bangsa yang tidak bisa menikmati indahnya bangku sekolah. Karena berbagai macam faktor semisal, ekonomi, budaya, dan geografis. Jadi, ada beberapa hal yang harus diperbaiki yaitu dari kesejahteraan masyarakat. Karena, manusia tidak akan berbicara hal yang besar ketika ia masih sibuk mencari makan.
Tentang budaya berarti kita dihadapkan pada sosial masyarakat yang terkadang menganggap pendidikan itu kurang bahkan tidak penting. Hal ini membuat generasi bangsa kurang terolah secara maksimal. Terakhir adalah faktor geografis, tak bisa dipungkiri bahwa indonesia masih memiliki banyak daerah-daerah terpencil yang jauh dari peradaban layak.
Akhirnya anak-anak sulit untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Permasalahan inilah yang perlu ditanggulangi sebelum menyiapkan generasi era Indonesia Emas. Pemerintah harus bertindak cepat dalam mengatasi permasalahan fundamentalis tersebut untuk mewujudkan visi Indonesia emas. Jika masalah pendidikan yang belum merata sudah selesai.
Maka, masih ada nilai optimistik generasi emas bisa kita lampaui. Melihat kebijakan pemerintah mengenai adanya kartu pra kerja sebetulnya hal itu penulis rasa adalah salah satu cara dalam menyiapkan generasi siap kerja. Terlepas permasalahan yang ada karena masih banyak hal yang harus diperbaiki. Namun, setidaknya pemerintah sudah peka terhadap pentingnya menyiapkan generasi siap kerja melalui pendidikan.





