Oleh: Ahmad Alfan Fauzi, Peserta LK2 HMI Korkom Walisongo Semarang asal Cabang Semarang
Pernahkah anda mendengar mitos bahwa suku Sunda tidak boleh menikah dengan suku Jawa atau sebaliknya? Kebanyakan masyarakat sampai saat ini masih mempercayai larangan menikah antara suku Sunda dengan suku Jawa. Larangan tersebut menjadi tradisi yang kental, bahkan mereka yang mempercayai larangan itu mengklaim bahwa suku Sunda yang menikah dengan suku Jawa tidak akan harmonis dan bahagia.
Tak jarang ketika mereka sudah menjalin hubungan dan menuju ke jenjang pernikahan, malah memilih terpaksa untuk membatalkan pernikahan tersebut. Dikarenakan mereka tidak direstui oleh leluhur atau sepuh dalam keluarga. Konon katanya jika suku sunda dan suku jawa menjalin tali pernikahan, maka kehidupan mereka tidak akan bahagia dan sering ditimpa musibah sehingga menyebabkan KDRT. Mereka percaya lebih baik memilih calon pasangan yang berasal dari bangsa yang sama.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak pemikiran-pemikiran yang sudah tidak percaya akan hal tersebut. Mereka menganggap hal tersebut hanyalah mitos semata dan tidak ada efeknya sama sekali. Hal ini ditandai dengan banyaknya suku Sunda dan suku Jawa yang melakukan pernikahan dan sampai saat ini masih langgeng dan hidup bahagia.
Lalu, apa penyebab yang menjadikan mitos ini berkembang di masyarakat?
Mitos ini terjadi pada saat setelah tragedi perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357 M atau bertepatan pada abad ke-14.
Pada saat itu, Hayam Wuruk berasal dari kerajaan Majapahit hendak memperistri putri dari Prabu Linggabuana dari kerajaan Padjajaran (Sunda) yaitu Dyah Pitaloka Citraresmi. Hubungan antara Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi berawal karena lukisan karya Sungging Prabangkara.
Namun, Gajah Mada mengingatkan kepada Hayam Wuruk bahwa Dyah Pitaloka masih memiliki ikatan darah persaudaraan, sehingga tidak boleh untuk dinikahi. Hanya saja Hayam Wuruk memiliki tekad yang kuat untuk tetap menikahi Dyah Pitaloka.
Tak berpikir panjang, kerajaan Majapahit mengirim seseorang untuk melamar Dyah Pitaloka, kemudian direspon dengan baik. Diceritakan, mereka meyakini bahwa perjodohan ini bisa mengikat persekutuan diantara dua kerajaan besar tersebut.
Tak lama kemudian, rombongan Kerajaan Padjajaran berangkat menuju Kerajaan Majapahit dan diterima dengan baik di Pesanggrahan Bubat.
Sangat disayangkan, Gajah Mada yang saat itu menjabat sebagai mahapatih memiliki niat yang jahat untuk menyerang mereka. Gajah Mada pula memiliki niatan untuk menjadikan putri Raja Sunda itu sebagai selir kerajaan, bukan istri Hayam Wuruk.
Penyerangan ini dilakukan untuk memenuhi Sumpah Palapa dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara. Karena pada saat itu, salah satu kerajaan yang belum dikuasai Majapahit adalah Kerajaan Sunda. Niat buruk Gajah Mada berakibat pada pertempuran antara pasukan Kerajaan Padjajaran dan tentara Majapahit. Karena terjadi di Pesanggrahan Bubat, maka dinamakan perang Bubat. Dalam Perang Bubat ini, hampir semua rombongan dari Kerajaan Padjajaran termasuk petinggi-petingginya meninggal tanpa sisa karena jumlah pasukan yang tak seimbang. Pasukan Majapahit lebih banyak dibandingkan dengan pasukan Padjajaran.
Dikabarkan semua anggota keluarga Dyah Pitaloka meninggal. Karena tidak tahan untuk menahan kesedihan yang terjadi kepada dirinya, Dyah Pitaloka tidak jadi menikah dengan Hayam Wuruk dan justru melakukan tindakan bunuh diri. Dengan tewasnya anggota keluarga Kerajaan Padjajaran, Pangeran Niskalawantu Kancana yang ditinggal di istana kemudian diangkat jadi penerus tahta Kerajaan Padjajaran.
Peristiwa itu menjadi awal rusaknya hubungan kedua kerajaan, antara Kerajaan Padjajaran dengan Kerajaan Majapahit dan menjadi sebuah peristiwa sejarah yang tak terlupakan.
Kerajaan Padjajaran setelah dipimpin Niskalawantu menegaskan untuk melarang penduduknya menikah dengan orang dari luar kerajaan. Konon katanya, inilah yang menjadi alasan kenapa orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda. Selama hampir bertahun-tahun, baik di Jawa atau tanah Sunda juga tidak ada nama jalan “Gajah Mada” atau “Majapahit”.
Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat menyatakan bahwa perempuan Sunda tidak boleh menikah dengan pria Jawa itu hanyalah mitos belaka.
“Itu hanya mitos yang diproduksi dalam menafsirkan peristiwa bersejarah Perang Bubat yang sudah jauh lewat dan memiliki multitafsir sejarah,” kata Ridwan Kamil dalam medsosnya. Bahkan, menurut dia, kini di Yogyakarta sudah terdapat nama jalan Pajajaran dan jalan Siliwangi, sedangkan di Bandung terdapat jalan Majapahit dan jalan Hayam Wuruk.
Sebagai generasi yang lahir di zaman modern dan menjadi anak milenial, banyak diantara yang bertanya kepada para orang tua mengenai ungkapan ini. Namun, orang tua hanya bisa mengatakan “ikuti saja nak, sebab kalo di langgar hidupmu bisa sengsara”. Jawaban tersebut sangat tidak rasional dan sangat membingungkan. Pada dasarnya mitos itu akan sangat kuat melekat pada diri orang tua yang kolot dan masih memegang teguh adat.
Padahal agama Islam atau ajaran pun yang tidak memilih-memilih suku atau golongan dalam mencari pasangan. Dalam ajaran Islam sudah dijelaskan secara rinci terkait mencari pasangan hidup, tetapi tidak ada satupun yang membahas tentang masalah golongan atau suku.
Pada akhirnya, mitos tersebut menjadi penghalang perempuan jawa yang ingin membangun rumah tangga dengan laki-laki sunda atau sebaliknya. Memang pada umumnya mereka bukan takut akan akibat melanggar mitos, melainkan takut tidak mendapat restu dari orang tua jika melanggar mitos tersebut.
Saat ini, sudah banyak orang tua menghiraukan mitos tersebut, sebab itu hanyalah sebuah mitos yang tidak berakibat apa-apa jika dilanggar. Semoga para orang tua menyadari bahwa pernikahan ankanya tidak bisa dibatasi oleh suku atau kasta dalam masyarakat. Suku Sunda, Jawa, Sumatera itu sama saja, yang paling penting adalah pasangan tersebut bisa membangun kehidupan rumah yang sakinah mawadah warahmah.







