Menelaah Kunci Sukses

Dalam proses menuntut ilmu, seorang pelajar atau santri tidak akan memahami suatu pelajaran hanya dengan mendengar dalam waktu sekali atau dua kali saja, untuk itu pelajaran yang telah disampaikan seorang guru hendaknya dicatat, karena dengan mencatat apa sudah disampaikan seorang guru sama seperti melakukan 3 hal, mendengar, membaca, sekaligus menulis.

Seorang pelajar harus mengkaji ulang suatu pejalaran sampai benar-benar paham. Jika hal itu tidak dilakukan seorang peajar, maka yang didapatkan hanya waktu yang terbuang sia, kejenuhan, dan bahkan akan kehilangan kecerdasan. Sebab, pada dasarnya manusia itu cerdas karena memiliki akal sehat untuk berpikir. Jika akal tidak digunakan untuk berpikir, kecerdasan yang ia miliki akan dicabut Allah SWT.

Dengan demikian, Sudah seharusnya seorang pelajar tidak meremehkan untuk memahami serta mengkaji ulang pelajaran dan terus berusaha sambil berdoa kepada Allah SWT. Karena Allah SWT akan mengabulkan siapapun yang memohon kepada-Nya dan tidak akan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya.
Seorang pelajar harus sering mendiskusikan tentang ilmu yang ia dapatkan.

Dalam hal ini, seorang pelajar harus bersikap menerima, banyak belajar dan menjauhi kemaharan, karena mendiskusikan ilmu itu seperti musyawarah yang akan menghasilkan keputusan/kebenaran. Hal itu dapat diperoleh dengan pengamatan, kesabaran, dan mau menerima masukan. Kebenaran tidak akan diperoleh dengan amarah dan ambisi. Sebelum berbicara pun harus mengamati dulu agar pembicaraannya benar, karena tutur kata itu ibarat anak panah yang harus diluruskan dengan pengamatan yang jitu sebelum melepasnya agar tepat sasaran.

Bacaan Lainnya

Manfaat diskusi lebih kuat daripada belajar sendiri, karena dengan diskusi seseorang dapat mengkaji kembali pelajarannya bahkan mendapat tambahan ilmu. Dalam setiap waktu, seorang santri hendaknya membiasakan diri mengamati ilmu yang sukar, karena ilmu yang sukar itu akan dapat dipahami melalui pengamatan.

Mengkaji Pelajaran
Dalam belajar, sebagai seorang penuntut ilmu harus membiasakan diri untuk mengulang pelajaran. Mengkaji ulang harus dilakukan dengan upaya yang keras, penuh semangat, dan konsisten. Seseorang tidak boleh patah semangat dalam belajar karena hal tersebut akan dapat menjadi musibah baginya. Suatu diskusi baru dapat berjalan dengan baik bila dilakukan dengan persiapan serta bahan-bahannya cukup jelas. Pembicaraan harus berlangsung secara rasional (aqliyah), tidak didasarkan atas luapan emosi, dan harus lebih mementingkan simpulan yang rasional daripada kepentingan egioistis pribadi.

Jika diskusi ini diarahkan untuk tidak mengambil suatu simpulan, maka terjadi hanya sebuah dialog antar peserta diskusi saja. Yaitu hanya sekadar memberitahukan tentang pendirian atas sikap masing-masing tentang suatu masalah yang telah lama dirasakan sebagai suatu permasalahan. Dalam dialog tidak ada yang mengaku kalah, masing-masing tetap berada pada pendiriannya, setuju tentang adanya perbedaan. Sebagaimana halnya dialog Nabi Muhammad saw sendiri dengan pendeta Kristen Najran yang tidak bersifat saling menekan atau mengalahkan kepercayaan masing-masing.

Metode soal-jawab juga sering dipakai oleh para nabi dan rasul Allah dalam mengajarkan agama. Bahkan para ahli pikir atau filosof pun banyak mempergunakan metode soal-jawab ini. Oleh karena itu, dengan metode soal-jawab pengertian dan pengetahuan bisa lebih dimantapkan, sehingga segala bentuk kesalahpahaman, kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari. Santri juga perlu didorong untuk berani bertanya agar tidak sesat di jalan. Hal demikian berkali-kali dilakukan oleh Nabi saw dalam mengajarkan suatu pengertian atau pengetahuan tentang keimanan, keislaman ataupun keikhlasan serta masalah hukum syara’dan lain sebagainya. Orang-orang yang berilmu bila ditanya tentang masalah ilmu pengetahuan ataupun pelajaran wajib memberikan jawaban. Bila tidak maka diancam dengan siksaan yang pedih dari api neraka, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw berikut ini.

”Barang siapa ditanya tentang ini, lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekangan api neraka.”

Memberikan pelajaran harus disertai dengan dorongan (motivasi) untuk memperoleh kegembiraan bila mendapatkan kesuksesan dalam kebaikan, sedangkan bila tidak sukses karena tidak mau mengikuti petunjuk yang benar akan mendapatkan kesusahan. Untuk itu, kunci sukses bagi seorang penuntut ilmu dimulai dari bagaimana dia memperlakukan ilmu itu. Bila ilmu itu sering dikaji, maka ilmu itupun akan senang berada dalam diri seorang penuntut ilmu. wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Wahyuningsih
Mahasiswi Fakultas Hukum dan Syariah UIN Walisongo Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *