Hei kamu. Apa kabar? Sudah lama kita berpisah. Sudah lama juga ruang menjadi sekat di antara kita. Aku sekadar ingin bercerita bahwa takdir pernah menuntun kita bertemu pada satu waktu dan memberi kita kesempatan untuk menghabiskan beberapa cerita di dua tempat yang berbeda. Kisah yang sempat membuatku ingin membumbung asa terhadapmu.
Di Kota Seribu Masjid tempat kita melukis kisah-kisah indah telah terangkai rapi di hati. Tapi karena suatu hal, aku harus melumat paksa kepergianmu untuk mencari dan merangkai kisah baru. Terkadang rindu tiba-tiba hadir dan membuka tabir penutup kenangan lama. Kini, kusempatkan menghadirkan rasa dalam bentuk prosa dengan harapan tabir kenangan itu tidak lagi terbuka.

Sekarang aku tahu bahwa hidup ini hanyalah sebuah rangakaian perjalanan yang saling bersilangan. Langkahlah yang menuntun kita pada sebuah pertemuan yang sangat mengesankan dan begitu indah. Pertemuan itu seakan-akan sebuah ketidaksengajaan meskipun pada hakikatnya telah terencana apik oleh Sang Maha Kuasa. Langkah kita semakin jauh dan entah ke mana arahnya; melangkah bersama atau bermuara di sebuah perpisahan tanpa jeda.
Tapi aku senang. Meskipun langkah kaki kita hanya sekadar bersilangan, tapi setidaknya kita pernah melangkahkan kaki bersisian. Padahal aku tahu, telah ada pepatah yang mengatakan bahwa kita bertemu untuk berpisah sebelum aku memulai menulis kisah.
Namun, aku masih saja keras kepala untuk membumbung asa, yang sebenarnya aku tahu bahwa rasamu sudah lebur dilumat masa. Sebab, terlalu banyak kenangan yang terjerembab di sana, di saat kita bersama-sama bertukar tawa di kursi peserta. Bahkan hal-hal sepele pun tak luput dari kerinduanku; ketika aku dan kamu masih berdua.
Aku bersyukur, celengan rinduku yang telah penuh dan sesak bisa kupecahkan di desa Puguh saat itu. Puji syukur kupanjatkan kehadirat Tuhan yang telah memberikanku kesempatan untuk berjumpa denganmu, sehingga kita kembali bersua kata, foto dan tawa. Saat ini, kuisi kembali celengan rindu ini. Menunggu saat itu tiba; ketika kita berjumpa dalam satu doa bahagia.
Apakah aku terlalu angkuh dan bersikukuh untuk mengecap bahagia tanpa peduli pahitnya luka? Yang aku tahu hanyalah bahwa aku nyaman bersamamu, dan aku yakin Tuhan mendengar semua doa-doaku.
Waktu terus berputar, tak peduli seberapa dalam perasaan itu mengakar. Waktu terlalu perkasa, memaksaku yang terus memelas mempertahankan rasa. Aku tidak ingin pindah. Aku masih ingin kamu dan aku bisa berubah menjadi kita. Tidak peduli berapa lama waktu yang harus ku tempuh untuk memujudkan asa.
Oleh: Ahmad Muntaha







