Belajar dari Kursi Malas

Seminggu sebelum akan diadakan lomba, telah diumumkan bahwa akan ada perlombaan mengolah sampah menjadi suatu kerajinan. Lomba ini diadakan, melihat banyaknya benda tak terpakai berupa; kayu sisa proyek bangunan, bambu, asbes, triplek dll yang terkumpul di seberang Jalan tol. Alangkah lebih baik, ketika itu dibersihkan. Agar pemandangan terlihat lebih rapi dan indah. Maka, barang-barang tersebut bisa dimanfaatkan.

Hari yang ditunggu pun telah tiba. Para santri pondok an-Nida yang berlokasi di dekat Jalan tol pun berbondong-bondong menuju tempat yang sudah diarahkan sebelumnya oleh pengurus pondok. Tidak terlalu jauh lokasi dengan pondok. Para santri berjalan kaki dengan begitu semangat.

Mereka sangat antusias dalam kegiatan ini. Spirit yang tidak menurun, walaupun dalam keadaan berpuasa. Pagi hari mereka habiskan untuk kegiatan bermanfaat. In syaa’a Allah.

Mereka pun mengumpulkan barang-barang yang kiranya dapat disulap menjadi sebuah karya. Para koordinator tiap kelompok berpesan kepada mereka agar bisa dibagi tugas. Tapi sebelum mengambil suatu barang, harus mikir dulu. Mau buat apa dengan barang-barang itu.

Bacaan Lainnya

Satu per satu santri menggotong barang-barang bekas. Ada yang membawa bambu, besi, ada yang sendirian, ada yang mengangkat secara bersama-sama. Meskipun yang dibawa itu berat. Namun, sekali lagi, mereka melakukan semua itu dengan penuh kegembiraan, dengan riang. Tak terlihat beban berarti.

Sungguh indah kebersamaan dalam jamaah

 

****

Barang yang telah mereka ambil tadi pun diletakkan. Mereka mengumpulkannya menjadi satu. Sambil beristirahat, terlihat gerombolan santri yang duduk ria. Leyeh-leyeh. Mungkin karena sedikit memakan stamina aktivitas yang telah mereka lakukan tadi. Masing-masing kelompok berkumpul, membicarakan apa yang kiranya mereka bisa buat. Salah satu motivasi mereka ialah akan dinilai langsung oleh pengasuh pondok. Dia adalah Abah Dul, idola kami. Juga karena mereka yang menginginkan kompetisi untuk bisa se-kreatif mungkin. Berkarya dalam hitungan detik.

Alat dan bahan pun terkumpul, suasana tukang begitu terlihat disini. Benar-benar layaknya proyek pembangunan gedung, namun ini kecil-kecilan. Kuli, tukang, bahkan mandor, semua ada disini. Ada yang aktif, juga ada yang hanya menjadi penonton setia. Yah, itu sudah bisa dalam sebuah kelompok. Ada juga yang karena sudah cukup lama, akhirnya minta diganti, ataupun menawarkan diri. Tetaplah kebersamaan mereka sangat diuji disini. Ide apa saja bermunculan saat itu. Imajinasi luar biasa mereka seketika bermunculan.

Tak tok tak tok… suara palu barsahut-sahutan. Ditengah proyek pembuatan, saling lihat karya sementara (belum selesai) pun tak bisa dicegah. Sungguh lucu, tingkah mereka ketika mengomentari, mengece karya teman lain. Lagi-lagi itu biasa, itu wajar terjadi. Keakraban terlah terjalin sesama mereka. Walaupun berasal dari berbagai daerah yang kemudian berkumpul jadi satu, tidak menjadikan mereka berpecah belah. Mereka sudah berteman melebihi saudara. Sungguh indah. Indahnya kebersamaan.

Waktu pun sudah memasuki zhuhur, suara panggilan shalat dari muadzin telah terdengar. Mengharuskan mereka untuk meninggalkan pekerjaan itu sementara. Para koordinator pun menyampaikan bahwa aktivitas ini distop dulu, imbauan untuk shalat berjamaah disampaikan. Agar setelah siang bisa dilanjut lagi.

“Kita pending dulu ya, kerja ini. Nanti lanjut setelah shalat,” pesan Bang Rodi, salah satu koordinator kelompok.

“Siyap, Pak,” jawab anggota kelompok serentak.

Sebelum shalat, mereka membersihkan diri, cuci kaki tangan yang terkena cat. Ada yang langsung mandi, juga ada yang karena antri, tidak sempat mandi.

“Kir, setelah shalat dzuhur nanti, lanjut lagi gak ya? Tanya Bahrun,

“Ehhm, gimana yaa…nanti kita lihat,” jawab Sukir yang belum yakin akan lanjut lagi.

Setelah zuhur nampaknya hanya sedikit santri yang melanjutkan proyeknya. Mereka lebih memilih beristirahat dari capek mereka. Agar dimalam hari tidak ngantuk, juga agar bisa melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya. Berhubung ini bulan puasa. Ibadah sunnah terutama dimalam hari sebaiknya ditingkatkan.

Panitia pelaksana lomba sebenarnya telah mengumumkan, bahwa pengerjaan akan terus belanjut hingga hari minggu. Maka, masih ada sekitar empat hari untuk menyelesaikan kerajinan. Waktunya pun tidak dibatasi, selama itu tidak diwaktu agenda, maka masing-masing kelompok agar bisa nyicil pengerjaan.

Jangan pernah menunda apa yang bisa dikerjakan hari ini untuk dikerjakan besok. Sebab jika anda menyukainya hari ini, anda bisa melakukannya lagi esok hari.

 

Dihari kedua, suasana tak begitu ramai, layaknya hari pertama, dihari kedua hanya sedikit orang yang melanjutkan karyanya. Entah mengapa. Itupun tidak semua kelompok. Hanya beberapa saja yang terlihat batang hidungnya. Kelompok lain nampaknya sibuk dengan tugas akademis mereka masing-masing. Kebanyakan dari mereka yang kuliah online, mengerjakan tugas yang hampir deadline dll.

Begitupun dengan hari ketiga, tidak jauh berbeda dengan hari kedua. Belum begitu terlihat ghirah para santri untuk menyelesaikan tugas kerajinan mereka.

Malam minggu pun tiba, Ukhti Hellen sebagai ketua panitia pelaksana mengingatkan, bahwa besok adalah hari terakhir untuk pengerjaan.

“Kawan-kawan yang saya cintai, sekadar mengingatkan bahwa besok adalah terahir mengerjakan, mohon untuk bisa diselesaikan. Ciptakan barang se-kreatif mungkin,” ujar panitia pelaksana yang agak menyebalkan.

Dalam menanggapi pengumuman itu, sepertinya para santri tidak satu pemikiran. Sekali lagi, Biasa itu mahh. Ada yang biasa saja, ada yang semangatnya tiba-tiba berkobar, namun ada juga yang seakan tak acuh.

“Sore hari, akan diadakan penilaian langsung oleh pengasuh pondok. Maka, saya harap bagi yang merasa belum selesai, bisa diselesaikan, yang tinggal finishing juga silahkan diselesaikan, keluarkan semua ide kreatif kalian, imanjinasi. Ciptakan benda yang bermanfaat,” ujar Ukhti Hellen, dengan logat cerewetnya yang nyata.

Pemberitahuan tersebut nampaknya cukup menggugah semangat para santri. Biasanya, kepepet menjadi sebuah kebiasaan yang tidak bisa terlepas dari mereka. Bersatu mengamalkan prinsip The Power of Kepepet.

Hari yang dinanti pun telah tiba. Lapangan tempat pembuatan berbagai kerajinan kembali dipenuhi para santrii an-Nida, layaknya dihari pertama berkerja. Sudah terlihat bentuk kerajinan dari masing-masing kelompok. Mereka berusaha untuk menyajikan hasil terbaik. Menurut mereka sih sudah baik, ada yang menganggap sepert itu, namun ada juga yang agak pasrah. Sebab, hasil yang belum maksimal

Sore hari, setelah sholat ashar berjamaah, sebagian santri menuju tempat penilaian. Tidak semua, karena sekali lagi, mereka selain aktivis, juga akademisi, tugas kuliah yang menumpuk membuat mereka tidak bisa berpindah tempat selain menghadap leptop maupun smartphone.

Satu persatu dinilai..

Ukhti Hellen, mengundang pengasuh Pon-pes an-Nida Ust. Abdul Qodir Jaelani untuk melakukan penilaian. Panggilan pengasuh pondok an-Nida ialah Abah Dul, Abah Dul pun dengan antusias melihat-lihat hasil kerajinan tangan dari para santri. Ditemani PJ pelaksana sambil menanyakan beberapa karya yang dinilai.

Salah satu yang menjadi sorotan ialah sebuah kursi yang tidak begitu rapi bentuknya. Kursi tersebut merupakan kerajinan dari salah satu kelompok. Sebut saja kelompok as-sinaiyya. Dikoordinator langsung oleh Alam, kelompok ini dari awal hingga akhir, cukup menikmati dan antusias mengikuti lomba. Di hari peertama pembuatan, mereka begitu bergembira. Banyak kayu dan bambu yang mereka kumpulkan. Rencananya akan membuat furnitute sima’an. Yang akan berguna bagi para santri untuk murojaah, ngaji, sima’an.

Namun, dihari pertama ada tragedi kecil yang terjadi. Salah satu anggota yang bernama Khan kakinya terkena paku hingga menyebabkan berdarah. Tapi, tak masalah. Ia cukup tegar walaupun sebenarnya kesakitan. Segera kakinya diobati. Kemudian beraktivitas seperti biasa lagi.

Mereka sebenarnya bingung, karena yang dinilai oleh Abah Dul ternyata adalah kursinya. Abah tidak menilai kedua meja yang telah dibuat susah payah. Walaupun belum sepenuhnya sempurna dan belum bisa dipakai. Namun, itulah yang menjadi hasil kami yang sebenarnya. Kursi yang Abah nilai sudah berbentuk seperti itu, hanya saja, dari kelompok mereka ada sedikit perbaikan yaitu dibagian belakang kursi yang hampir lepas.

Abah Dul merasa nyaman ketika menjajal kursi dari kelompok itu, duduk dikursi itu dengan cukup lama. Sambil memainkan HP, Abah semakin terbawa oleh kenyamanan kursi itu.

“Kalian itu kalau buat sesuatu selain nyaman, juga harus punya estetika. Kursi ini sudah membuat nyaman, tapi dalam segi estetika kurang. Tidak ada estetikanya sama sekali. Coba diperbaiki lagi. Ini kursi malas. Sangat mengganggu perkaderan ini namanya. Akan lebih baik  ketika digunakan untuk murojaah ataupun simaan,” pesan bijak Abah.

Salah satu anggota kelompok pun meng iya kan, perkataan Abah itu.

“Baik, Bah. Segera kami perbaiki.”

Penilaian pun masih berlanjut. Secara bergantian, tiap kelompok dinilai oleh Abah. Bahkan ada kelompok yang sementara menyelesaikan karyanya. Meskipun sebenarnya waktu untuk pengerjaan sudah ditutup.

Setelah semua kelopok dinilai oleh pengasuh, semua santri pun kembali ke asrama untuk melanjutkan aktivitas. Persiapan berbuka puasa kemuadian dilanjut shalat magrib berjamaah.

 

****

Shalat tarawih pun selesai dilaksanakan, entah lapar atau kekenyangan, diantara santri pondok an-Nida ada beberapa yang ngantuk. Entah apa penyebab utamanya. Apa kata dunia?

Khalif, salah satu santri tidak menyangka bahwa setelah itu ada pengumuman. Para santri pun segera berkumpul di satu tempat.

“Oh setelah ini masih ada kumpul ya?” bisik Khalif pada Rendra yang duduk di sampingnya.

“Iya, ini namanya buang-buang waktu,” jawab Rendra yang tengah ngantuk.

Tim penanggungjawab lomba mengumumkan pemenang perlombaan. Semua dibuat tegang olehnya. Dengan usaha yang telah dikerahkan oleh masing masing peserta. Ia pun membacakan kembali kriteria pemenang lomba. Mulai dari estetika, kegunaan, kenyamanan, keindahan dll. Tiba saatnya dibacakan pemenang mulai dari peringkat ketiga. Pemenang ketiga berhasil diraih oleh “Kursi ban Murojaah”. semua pun tepuk tangan setelah disebutkan bahwa kelompok ini mendapatkan juara.

Perwakilan kelompok pun maju ke depan. Demikian pula setelah dibacakannya pemenang kedua. Ia adalah aneka hiasan dinding. Lagi-lagi tepuk tang meriah terdengar malam itu.

Kini tinggal pemenang nomer satu yang belum dibacakan. Kelompok yang belum disebut namanya sebagai pemenang semakin deg-deg-an. Berharap merekalah pemenang pertama pada lomba ini.

“Dan, juara satu dalam perlombaan menghias barang bekas menjadi kerajinan adalah….”

“Kursi malas!” (nama lainnya ialah kursi murojaah)

Ya, kursi malas. Nama yang baru saja diberikan oleh Abah Dul. Latar suasana seketika menjadi sunyi, senyap, bahkan kalau ada jarum jatuh pun kedengaran. Itulah yang terjadi saat itu. Setelah dibacakan bahwa kursi malas (kursi murojaah) adalah pemenang pertama. Namun suasana tersebut hanya kurang lebih tiga detik. Tik tik tik, sudah. Tak jauh berbeda dari sebelumnya, tepuk tangan meriah kembali terdengar kala itu. Seakan tak percaya. Namun itulah hasil yang ada.

“Ini sudah menjadi keputusan dewan juri yaitu Abah langsung, jadi tidak dapat diganggu gugat,” kata panita pelaksana lomba.

Terlihat berbagai macam raut wajah para santri setelah diumumkannya berita itu. Kurang lebihnya menunjukkan bahwa mereka tak menyangka. Dalam hati mereka kok bisa ya???

Perwakilan dari masing-masing kelompok yang dinyatakan menang pun maju kedepan untuk mengambil hadiah. Kemudian foto bersama.

“Selamat kepada para pemenang, yang lain jangan berkecil hati. Bisa dicoba lain waktu lagi,” sepatah sambutan Ukhti Hellen.

Para santri pondok an-Nida pun melanjutkan kegiatannya. Berhubung waktu sudah malam, dari mereka ada yang sebagian langsung tidur, ada pula yang nugas (hobby santri an-Nida)

Dilain hari setelah perlombaan, masih ada saja sebagian santri yang belum sepenuhnya menerima atas kemenagan kursi malas.

“Mereka kok bisa menang ya?’ Tanya Fira dengan terheran-heran.

“Sudah, biarkan saja, namanya juga permainan. Pasti ada yang menang dan ada yang kalah,” jawab Leni

“Ya…tapi kan….” Fira yang masih belum percaya.

“Sudah, sudah… lupakan.”

“Ya ya…”

“Kalau kamu begitu terus, itu kamu sedang iri. Itulah contoh orang yang iri melihat kesenangan ataupun kelebihan pada orang lain.”

“Bolehkan seperti itu?” Tanya Fira.

“Itu terus-menerus akan membuat pikiranmu jadi tumpul karena selalu memikirkan kenikmatan orang lain. Sebab, dampak besarnya adalah hancurnya tali persaudaraan. Bahkan yang terjadi adalah permusuhan. Na’udzu billah. 

“Juga tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya dan senantiasa merasa cemburu ataupun tidak senang, bila seseorang mendapatkan suatu kebahagiaan,” Tanggap Leni dengan nada bijak.

Oleh sebab itu, marilah kita sama-sama, termasuk saya sendiri sebagai penulis. Untuk menjaga lisan dan perbuatan kita serta dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga, kita terhidar dari penyakit ini.

Begitupun dengan si pemenang, jangan terlalu terbawa suasana. Jangan terlalu memikirkan apa pendapat seseorang. Itu selalu ada. Kenapa komentar masih dipikirkan? Ingatlah, bahwa segala yang kita lakukan di dunia ini akan ada selalu orang yang suka dan ada yang tidak suka. Perkataan negatif tidak akan menghancurkan. Kecuali ketika kita membiarkan kata-kata itu masuk ke dalam pikiran dan hati. Jangan mendasari hidup ini dengan apa yang orang ucapkan.

Tidak semua pujian itu tulus. Tidak semua kritikan itu menjatuhkan

Yakinlah bahwa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar. Sang Maha segalanya lah yang lebih tahu segalanya.

“Lalu, aku harus harus bagaimana, Firoh?”

“Kamu ini gimana? malah nanya aku…”

“Laa…memangnya kenapa?”

“Kamu seharusnya tahu apa yang harus kamu perbuat…”

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *