Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Qur’anic Habits Camp Planet NUFO Mlagen, Pamotan, Rembang; Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI

Suatu siang, setelah shalat dhuhur, saya mengajak Molka, anak ketiga saya, yang saat itu baru berusia tiga tahun, berjalan dari Planet NUFO ke rumah ibu saya yang jaraknya tidak sampai 100 meter. Pesantren dan Sekolah Alam ini memang sengaja saya bangun di dekat rumah ibu saya, agar saya bisa menyelam dan sekaligus minum air. Datang ke Planet NUFO dan sekaligus sowan ibu kandung saya yang sudah berusia hampir kepala tujuh. Di tengah perjalanan kami, ada seorang perempuan setengah baya, warga kampung saya, sedang menggiring tiga ekor dombanya ke arah luar kampung untuk digembala. “Abah, kenapa kambing ibu itu cuma sedikit?”, kata Molka bertanya. Saya kaget dan dengan cepat mencerna arah pertanyaan anak belia saya itu. Tentu, saya harus segera menjawab pertanyaan anak saya dengan tepat. Saya kemudian benar-benar dibuat lebih kaget lagi ketika menangkap dugaan tentang latar belakang pertanyaan Molka itu.

Dugaan saya, Molka sering melihat banyak domba-kambing di kandang Planet NUFO. Jumlahnya tak kurang dari 300 ekor. Karena setiap ke Planet NUFO selalu bermain di kandang, mungkin dia berpikir bahwa seharusnya memelihara domba atau kambing itu banyak. Tidak beberapa ekor saja seperti yang baru saja dilihat oleh Molka. Karena setiap hari itulah yang dia lihat, maka itulah yang masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Kemungkinan besar karena itulah, dia merasa ganjil atau aneh ketika melihat ada orang yang memelihara kambing dengan jumlah hanya beberapa ekor saja. Sementara yang ada di alam bawah sadar orang awam, justru berkebalikan dengan apa yang ada di alam bawah sadar anak saya; bahwa memelihara kambing jangan banyak-banyak. Sebab, memelihara kambing dengan jumlah besar akan menimbulkan berbagai masalah. Tidak pernah mau berpikir bagaimana menyelesaikan masalah itu.

Baca Juga  Pentingnya Mengingat Peristiwa G30S/PKI

Kejadian ini membuat saya menjadi semakin yakin bahwa mindset sangatlah penting. Dari pikiran yang besar, akan muncul kegairahan yang besar. Dari kegairahan, akan muncul tenaga yang juga besar. Jika mindset yang terbangun dalam diri anak besar, lalu dibimbing untuk mewujudkannya dalam dunia nyata, maka akan lahir suatu karya yang besar. Bimbingan sangatlah penting, karena pikiran hanyalah awal. Cita-cita ibarat setitik bara api yang harus selalu diberi angin agar terus membesar, lalu membakar semuanya. Ibarat api yang tadinya hanya bara yang sangat kecil, jika terus dihembus angin, maka bara ini akan membesar lalu bisa berubah menjadi kobaran api yang sangat besar dan bergerak cepat ke mana-mana.

Dalam pikiran saya kemudian jadi bergulat antara perkataan Plato bahwa semua berawal dari ide dengan Karl Marx bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh keadaan sosialnya. Pemikiran keduanya terasa sangat bertolak belakang. Berdasarkan kerangka berpikir keduanya itu, saya menduga, anak saya berpikir bahwa memelihara kambing dalam jumlah yang sedikit sebagai sesuatu yang aneh, karena kesadaran yang terbangun dalam dirinya adalah kesadaran manusia yang segala kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kalau menggunakan cara berpikir Karl Marx ini, anak-anak dari keluarga yang kebutuhan materialnya tercukupilah yang memiliki potensi lebih besar untuk berpikir besar.

Sementara anak-anak dari keluarga dengan keadaan sosial yang sebaliknya, akan menjadi anak-anak dengan pikiran kecil alias kerdil. Kecuali ada langkah khusus untuk mengurus anak-anak yang keadaan sosial orang tuanya tidak mendukung agar bisa merasa dalam keadaan sosial yang lebih baik. Tujuannya adalah untuk menjaga kesadaran itu. Sebab, anak yang memiliki ide atau pikiran yang besar, tetapi tidak didukung oleh keterpenuhan material, maka akan mengalami perubahan. Pikiran besar dan positif yang biasanya disebut dengan idealisme akan berhadapan dengan realitas yang menjadi tembok kokoh tak tertembus. Lama kelamaan idealisme yang membara pun akan mengecil, bahkan bisa saja menjadi mati.
Saya kemudian teringat Nabi Muhammad Saw.. Ini adalah sosok yang lengkap. Tidak hanya berteori, tetapi mempraktekkannya dalam kehidupan, sehingga tidak menjadi sekedar utopia. Untuk mewujudkan itu, dua pilar yang sangat berpengaruh adalah harta dan kuasa.

Baca Juga  Jamu Pulas Tahun Baru

Walaupun terlahir sebagai seorang yatim, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih dalam kandungan, tetapi kemudian mampu tampil sebagai seorang yang memiliki ide besar untuk melakukan perubahan. Pikiran-pikiran Muhammad belia sampai muda mendapat topangan material yang kuat. Di samping Muhammad belia adalah anak yang memiliki profesionalitas di atas rata-rata, saat beranjak dewasa juga tampil sebagai orang yang bisa dipercaya, hingga mendapat gelar al-Amin. Banyak yang mempercayakan modal kepadanya, sehingga menjadi fund manager andal. Inilah yang membuat ia, walaupun dalam kultur masyarakat sangat patriarkhi, diinginkan oleh seorang perempuan kaya raya dengan kekayaan Makkan konon sampai 2/3 kekayaan Makkah.

Ditopang juga oleh para sahabat yang kaya raya, di antaranya Abu Bakar, Nabi Muhammad berdakwah. Dalam ikhtiar dakwah itu, harta kekayaan Khadijah habis. Abu Bakar memerdekakan Bilal dengan harga jauh di atas rata-rata. Bisa dipastikan bahwa inilah yang menyebabkan para pengikut Nabi, dan sesungguhnya yang menentangnya sekalipun, berpandangan bahwa Nabi menyampaikan ajaran baru bukan untuk merebut pengaruh tokoh-tokoh Arab yang telah ada.

Dari kisah Nabi Muhammad dan para sahabat mulia itu, terbukti bahwa materi atau harta memang elemen fundamental untuk melakukan ikhtiar perubahan. Ide tanpa topangan harta kekayaan, maka tidak akan mewujud dalam gerakan dan akan menjadi sekedar utopia. Sebaliknya, harta kekayaan tanpa ide mulia untuk membangun masyarakat yang baik di bawah supremati ide Tuhan, justru akan menyebabkan eksplotasi dan penindasan. Namun, ada yang lebih signifikan lagi fungsinya untuk mempercepat perubahan, yaitu kekuasaan. Kekuasaanlah yang akan membuat kebaikan yang sudah terbentuk bisa dimassifkan. Jika harta bisa digunakan untuk menolong banyak orang, kekuasaan bisa digunakan untuk menolong semua orang. Dan itu semua akan benar-benar terwujud jika ada ide dan pikiran besar.

Baca Juga  Saat Tengah Pandemi, Masih Bisa Ngaji

Anak-anak harus selalu dilatih untuk berpikir besar dan sejak belia harus sudah dilatih dengan ketrampilan hidup untuk menjadi profesional. Dengan begitu, pikiran-pikiran besar yang lahir dari mereka akan bisa ditopang dengan material yang cukup. Sebab, logika tanpa logistik bisa macet dan bahkan benar-benar mati. Wallahu a’alm bi al-shawab.

Di Kala Itu

Previous article

Digital Banking dan Bank Digital dalam Tinjauan Hukum Perbankang

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan