Manusia merupakan makhluk yang ditakdirkan oleh Allah SWT memiliki keberanian yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Salah satu keberanian tersebut adalah keberanian memikul amanah yang ditawarkan oleh Allah SWT. Padahal langit, bumi dan gunung enggan memikulnya. Mengingat terlalu berat risiko yang akan diterima jika mereka bersedia memikulnya. Risiko tersebut adalah mendapat pahala jika melakukan kebaikan dan akan disiksa jika melakukan keburukan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas saat menafsirkan QS. al-Ahzab ayat 72 dalam Tafsir Ibnu Katsir.
Keberanian yang dimiliki oleh manusia tersebut merupakan keberanian yang penuh dengan risiko. Sebab, dibalik keberanian tersebut manusia sesungguhnya adalah makhluk yang dzalim dan bodoh. Di ujung QS. al- Ahzab ayat 72 dengan jelas kebodohan manusia dinyatakan dengan kalimat: ”Innahu Kaana Dzaluuman Jahuulan”. Dengan fitrah yang demikian, maka potensi risiko disiksa akan lebih besar diterima jika manusia mempertahankan kedzaliman dan kebodohannya.
Meskipun demikian, keberanian manusia dalam memikul amanah Allah SWT merupakan bukti bahwa manusia benar-benar merupakan khalifah fi al-Ardh. Yakni, manusia merupakan pengelola di bumi sebagaimana yang dituturkan oleh Qurays Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an. Setatus yang disandang oleh manusia ini terdapat dalam Firman Allah SWT QS. al-Baqarah ayat 30 yang artinya: “…Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi…”.
Menjadi pengelola di bumi bukanlah perkara yang mudah karena jika salah dalam mengelola bumi maka yang timbul bukan perbaikan melainkan kerusakan. Tapi, manusia yang dzalim dan bodoh menyanggupinya dan berani menanggung risiko. Maka wajar jika Allah SWT menyebut manusia sebagai khalifah sebagai pemegang kendali bumi untuk dikelola dengan baik. Meskipun para malaikat sempat meragukannya karena kawatir jika manusia justru akan melakukan kerusakan di bumi. Namun, Allah SWT mematahkan kekhawatiran tersebut dengan Argumen-Nya.
Kedudukan manusia sebagai khalifah selanjutnya menjadi sebuah idealitas bahwa manusia adalah makhluk yang harus selalu melakukan perbaikan di bumi. Manusia harus mampu merawat dan meruwatnya agar tidak timbul banyak kerusakan. Karena khalifah tidak akan pernah merusak apa yang ia jaga. Jika ada manusia di bumi yang memetik bunga sebelum mekar, berarti dia bukan khalifah di bumi karena tindakan tersebut merusak bunga. Begitulah analogi sederhana bahwa manusia diciptakan bukan untuk merusak melainkan mengelola bumi
Akan tetapi, realitas berkata lain. Saat ini seolah-olah manusia telah lupa bahwa ia pernah menyanggupi untuk memikul amanah dari Allah SWT yang salah satunya adalah menjadi seorang khalifah di bumi. Titipan amanah yang begitu sakral telah diabaikan dengan munculnya banyak oknum manusia yang sengaja melakukan kerusakan di bumi. Banyak gunung telah diratakan, pepohonan ditebas dengan tidak bijak, aliran sungai telah berganti menjadi aliran sampah, dan pertikaian antar sesama semakin mewabah. Kerusakan seolah-olah menjadi pembenar terhadap kekhawatiran para malaikat bahwa manusia justru akan melakukan kerusakan.
Memang benar bahwa Allah telah menundukkan segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi bahkan yang ada di antara keduanya. Tapi, bukan berarti setelah Allah menundukkan mereka sebagai wujud penyempurnaan ni’mat bagi manusia dieksploitasi tanpa tanggung jawab. Seharusnya manusia mampu bersyukur atas anugerah yang luar biasa tersebut dengan cara merawat dan meruwatnya dengan baik. Tidak dengan menempatkan kebodohan sebagai dasar melakukan kerusakan sehingga terlihat kerusakan di daratan dan lautan. Jika yang ada demikian maka namanya kufur atas ni’mat Allah SWT.
Maka, sangat wajar jika Allah SWT kini tidak menambah nikmatNya atas anugerah langit, bumi dan yang ada di antara keduanya bagi manusia. Dia justru memberi adzab kepada manusia sebab kekufuran terhadap nikmat Allah SWT tersebut. Maka tidak heran jika hujan yang seharusnya menjadi rahmat menjelma menjadi bencana banjir, gunung yang seharusnya menjadi penenang bumi justru menjadi sebab terombang-ambingnya bumi karena ia telah diratakan, ombak yang seharusnya menggerakkan perahu untuk berlayar kini berubah menjadi penggerak sunami yang mematikan, angin yang menyejukkan menjadi wabah yang menakutkan dan melumpuhkan seperti Covid 19 yang menerpa manusia saat ini.
Seharusnya segala bencana yang menimpa manusia menjadi pengingat bahwa manusia telah menyalahi fitrah sebagai khalifah. Manusia harus segera kembali kepada fitrah dasarnya sebagai pengelola yang memakmurkan bumi bukan melakukan eksploitasi tanpa henti. Menyalahi fitrah berarti manusia telah melakukan kedzaliman karena inti dari kedzaliman adalah menempatkan sesuatu yang tidak sesuai porsinya. Dan merusak bumi bukanlah porsi bagi sang khalifah.
Bukankah manusia melalui moyangnya yakni Nabi Adam AS telah dianugerahi ilmu dari Allah SWT sehingga mampu mematahkan argumen dan menundukkan para malaikat? Maka seharusnya dengan ilmu itu manusia melakukan perbaikan atas kerusakan yang kini semakin menginfeksi bumi. Kembali menghijaukan bumi, mengembalikan aliran sungai dari aliran sampah dan mengurangi bahkan menghilangkan penceraran serta menundukkan bumi dengan bijak adalah contoh tindakan yang harus segera dilakukan oleh manusia. Karena ini bagian dari penegakan amanah. Wallahu a’lam.
Oleh: Shofi Malia Rohmah





