Mahasantri Baru

Dari penerimaan mahasantri yang rutin itu
Terintai senyum indah
Pribadi paras indah berhijab merah merona
Senyum indah itu merubah rasa yang tak biasa

Menyelinap dalam jiwa
Segenap ingatan tertuju ingin ketemu dan bicara padanya
Kucari dan telusuri
Siapa dan di mana asalnya
Hingga akhirnya kutemukan jawabnya

Kau Laila Nur Hafidzah
Kita terlibat akrab dalam pembicaraan tanpa rupa di Udara
Kau terkesan sungkan
Paras indahmu dan kata-katamu bertubi-tubi menggoda hatiku

Terekam satu demi satu dengan sendirinya diingatanku
Kau selalu tak pernah percaya
Walau sejujurnya kukatakan aku telah lama tidak pernah jatuh cinta
Bila jatuhnya itu sakit, ‘kan kunikmati sakit itu karena jatuh cinta bersamamu

Sulit bagiku melukiskan apa itu cinta
Mungkin aku telah lupa
Atau telah terbiasa dalam pengab sepi sendiriku
Atau hanya lampu-lampu jalan yang tahu
.
Rasa khawatir menyelinap tiba-tiba saat akrab denganmu
Aku takut pahitnya candu cinta
Pahit yang akan kudapat bila mencintai orang tak mencintai diriku
Perihnya itu laksana memeluk bunga kaktus
Yang bila bertahan akan terasa perih dari pelukan berduri

Ketahuilah Laila Nur Hafidzah
Ketahuilah saat paras indahmu membayang dilangit-langit kamarku
Namamulah yang sering kusebut dalam do’aku
Setelah kusebut nama Ibunda dan Ayahnda tercintaku yang telah tiada itu

Setelah kusampaikan salam rinduku kepada Illahi Robbi penciptaku
Setelah kusampaikan salam rinduku kepada Baginda Rasulullah
Setelah kusampaikan doaku kepada kedua orang tuaku
Kaulah sebagian yang menjadikan air mata penghias sajadahku

Setelah termohonkan dimudahkan Rezekiku
Setelah termohonkan dikuatkannya Imanku hingga akhir hayatku
Saat hadirmu telah menjadi candu
Dalam bicara yang berkhalawat itu

Kaulah yang terlintas ingin kuhalalkan atas restu Allah
Semoga kau jaga dirimu sebelum kujemput nanti atas restu Allah
Jika memang kau juga menginginkanku atas restu Allah
Sebut namaku dalam do’amu

Rayu Illahi agar dimudahkannya aku menjemputmu
Ukirkan namaku dihatimu dan diingatanmu
Biar hanya maut yang menjemput hingga kita dapat saling melupakan
Biarkan Allah saja yang memutuskan
Pantaskah kau untukku
Pantaskah aku untukmu

 

 

Oleh: Senior Muda

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *