Kisah Penyair Jahili yang Hendak Menandingi al-Qur’an, Apakah Bisa?

Banyak orang yang heran dan terpana ketika mendengar dan membaca ayat al-Qur’an. Di
dalam al-Qur’an terdapat keunikan yang tidak didapatkan pada kitab2 lain yang diturunkan
kepada nabi nabi terdahulu. Hal tersebut membuat daya Tarik al-Qur’an mengalahkan bacaan
bacaan yang lain. Keunikan inilah didapat dari keindahan susunan Bahasa dan rima setiap
ayat yang terdapat pada 114 surat di dalam al-Qur’an. Sudah 14 abad pula al-Qur’an
diturunkan kepada umat manusia, dan keberadaannya tidak ada yang bisa menandingi. Dan
itu akan berlangsung hingga selamanya.
Keindahan rimanya membuat setiap orang beranggapan bahwa bacaan itu merupakan sebuah
syair yang dibuat oleh para penyair yang handal, terlebih pada zaman Jahili. Banyak
anggapan bahwa al-qur’an merupakan buatan penyair. Bahkan mereka menuduh kalau al-
Qur’an merupakan perkataan Nabi. Hal tersebut justru salah kaprah, maka dari itu Nabi diberi
kemukjizatan daya ingat yang baik dan kecerdasan yang sangat luar biasa.
Demikian supaya para Jahili tau kalau sosok Nabi Muhammad adalah seorang yang Ummiy ,
yang tidak kenal baca tulis. Sebelum itu, sedikit meluruskan bahwasannya sosok Ummiy pada
Nabi ini tidak membuat karisma beliau turun, dan bahkan merendahkan beliau. Justru ini
merupakan suatu kemukjizatan tersendiri supaya orang Jahili pada saat itu tidak
mengganggap bahwa al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi merupakan perkataan beliau,
melainkan Firman Allah, yang di dalamnya mengandung peringatan dan kabar gembira serta
wahyu yang berupa susunan ayatnya yang berima dan diturunkan kepada Nabi Muhammad
sebagai wahyu melalui malaikat Jibril.
Selain itu, tidak ada penyair yang dapat mengalahkan dan menandingi bahasa al-Qur’an.
Sebab, dalam al-Qur’an terdapat I’jaz atau kemukjizatan yang terletak pada aspek
kebahasaannya. Dan dari itulah istilah yang digunakan yaitu berbentuk puisi. Saking tidak
ada yang bisa menandinginya, al-Qur’an dipakai senjata untuk mengalahkan para penyair
Jahili yang cerdas, saampai disebut majnun.
Nah, majun disini biasa diartikan sebagai orang yang gila. Padahal, jika dikaitkan dengan
konteks pada saat itu, penyair Jahili ini merupakan orang yang jinius yang mampu
mengeluarkan syair syair yang mereka dapatkan dari khadam jin. Maka lebih tepatnya jika
majnun di sini diartikan sebagai kerasukan jin.
Keindahan ayat ayat al-Qur’an dapat dilihat dan diteliti dalam setiap penulisannya. Salah satu
contohnya yaitu terdapat pada surah an nas.di dalam surah an nas tersebut dapat dilihat dan
dibaca bahwa akhiran setiap surahnya membentu rima yang sama, yaitu berakhiran dengan
huruf sin.
Inilah yang membuat daya Tarik tersendiri, bahkan ada Nabi palsu yang hendak menandingi
salah satu surah al Fiil, yaitu Musailamah al Khaddzab. Tapi, meskipun dia seorang penyair
dalam penggunaan kata katanya sangat jorok dan tidak menarik gaya bahasanya sehingga
ketika mendengarkannya tidak menarik.
Jika dilihat dari sejarah, Musailamah ini merupakan orang yang hidup di masa Nabi yang dia
mengaku bahwa dia adalah utusan Allah dan mendapat wahyu sebagaimana yang diturunkan

kepada Nabi Muhammad. Sehingga dia mencoba untuk membuat rima sebagaimana surah
dalam al-Qur’an. Tapi sayangnya keindahan al-Qur’an tidak dapat ditandingi dan bahkan
tidak akan ada gaya bahasa dan penggunaan rimanya yang seperti al-Qur’an hingga sepanjang masa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *