Santri Indonesia kembali kehilangan ulama panutan. Beliau adalah sosok yang dikenal begitu memperhatikan masalah kedisiplinan dan kesungguhan untuk para penuntut ilmu, terutama yang sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren. Sebagaimana keberadaan pondok pesantern yang saat ini telah mengalami perkembangan pesat. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya jumlah pendaftar di berbagai di Indonesia.
Kabar duka baru saja datang dari KH. Dzi Taufiqillah bin KH. Ma’mun Ahmad, Pengasuh Ponpes TBS Balaitengahan Kudus. Almarhum menghembuskan nafas terahir pada Sabtu (27/3) diusianya yang ke-61. Ulama yang biasa disapa Yai Dzi ini merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ia mengakhiri hidupnya di Pondok Pesantren Tasywiquth Thullab.
Almarhum juga dikenal dengan ketegasannya, ia sangat menekankan kedisiplinan dan diberlakukan kepada santri-santrinya. Karena menurutnya, disiplin dan tanggung jawab merupakan hal yang mestinya dikuasai oleh santri selain adab. Seperti nasehat yang disampaikan oleh Yai Dzi yang cukup mengena bagi kita,
“Kang, Nek tugasmu rene luru ngelmu, yowes kang sinau seng mempeng, gausah mikir manganmu kepiye. Latihan tanggung jawab kang, Koe diamanahi wong tuo kon luru ilmu yo kui kang dilakoni. Seng penting tanggung jawab ngko Insyalloh barokah”.
”Kang, Kalau tugasmu ke sini cari ilmu, carilah ilmu itu yang sungguh-sungguh, masalah makan tidak perlu dipikir. Latihan tanggung jawab. Kalau diamanahi orang tua cari ilmu, ya itu tadi lakukanlah. Yang terpenting itu tanggung jawab nanti Insyaalloh barokah”.
Untuk itu, ada ibrah yang dapat kita ambil dari perkataan KH Dzi Taufiqillah diatas. Yakni pentingnya bagi siapapun yang mencari ilmu agar menanamkan kesungguhan di dalam hatinya. Karena memang tidak mudah. Sebagaimana Syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya, di dalam kitabnya itu berisi syair Ali bin Abi Thalib ra,
“Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 syarat ; yaitu : Kecerdasan, kemauan (rakus dengan ilmu ), sabar, biaya (pengorbanan materi ), bergaul dengan guru, dan waktu yang panjang” Dan itu semua didapatkan dengan ketaqwaan. Maksudnya ialah dengan menjalankan ajaran agama dan tidak melakukan segala yang diharamkan oleh agama.
Hendaklah bagi para pencari ilmu itu bersungguh-sungguh hingga merasakan betapa letihnya keadaan tersebut. Kita harus mengingat tentang keutamaan ilmu dan nantinya akan memperoleh keberkahan dari ilmu tersebut. Itu bisa diraih dengan menjadikan ilmu tidak hanya cukup dengan dipelajari, namun lebih dari itu. Ilmu hendaknya dikembangkan, diamalkan dan diajarkan.
Karena ilmu yang hanya dipendam, tidak diajarkan, bisa jadi, lama-kelamaan akan hilang. Semoga kita bisa terus mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah dimiliki, agar keberkahan senantiasa ada di dalam diri. Jangan sampai, Na’udzubillah, ilmu akan mengantarkan pada keburukan.
“Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan sungguh-sungguh belajar, dan sikap sabar (penyantun) diperoleh dengan membiasakan diri untuk bersabar. Barangsiapa yang berusaha keras mencari kebaikan, maka ia akan memperoleh kebaikan, dan barangsiapa yang menjaga dirinya dari kejelekan (kejahatan) maka ia dilindungi Allah dari kejelekan (kejahatan).” HR Ibnul Jauzi dalam al-‘Ilal Mutanaahiyah (I/85 no 93)
Mempelajari ilmu itu penting, lebih penting lagi ketika kita mendalaminya. Maka, bagi para pencari ilmu diharuskan untuk mendalami berbagai disiplin keilmuan. Prinsip ini biasa disebut oleh kalangan Pesantren NU dengan Tafaqquh fi al-din. Tentu, proses untuk mencapai kedalaman ilmu tersebut tidaklah mudah, maka perlu upaya lebih untuknya. Semoga kita tetap diberi kekuatan untuk senantiasa belajar, sebab, belajar itu tiada batas waktu. Dan agar ilmu yang didapat bisa diamalkan dan diajarkan dalam keseharian. Aamiin







