DEMONSTRASI MAHASEWA

Oleh: Robby Alam Raya

Matahari di atas langit Bundaran Hotel Indonesia menyengat tanpa ampun, memantulkan kilau perak di permukaan kolam yang melingkar jernih. Namun, panasnya aspal ibu kota hari itu kalah membara dibandingkan semangat yang meledak-ledak di bawah monumen Selamat Datang. Puluhan anak muda berdiri tegap. Di dada mereka tertempel kebanggaan semu yang dibungkus oleh kain tenun mesin berwarna-warni: merah tua, biru dongker, hijau daun, hingga kuning kunyit. Atribut suci yang biasa disebut jaket almamater.

Di tengah-tengah kerumunan itu, berdiri seorang pria dengan senyum porselen khas televisi yang sangat akrab di mata publik. Wajahnya glowing, secerah masa depan bisnis hiburannya. Dialah Sang Utusan Khusus Istana untuk Urusan Pemuda, ikon selebritas masa kini, magnet algoritma digital: Rafi Ahmadani.

Dengan mikrofon nirkabel berharga puluhan juta di tangan, ia mulai berorasi dengan intonasi yang biasa dipakai saat mempromosikan produk kecantikan atau membagikan hadiah gratis di media sosial.

Bacaan Lainnya

“Anak muda Indonesia! Jangan mau terpecah belah oleh hoaks! Lawan ujaran kebencian! Kita harus bersatu demi kemajuan bangsa!” serunya berapi-api, disambut sorak-sorai membahana dari massa berjaket almamater di sekelilingnya. Kamera ponsel para kreator konten terkenal, termasuk influencer muda Willy Salomo, berputar dinamis menangkap setiap sudut estetis momen bersejarah tersebut. Judul siaran langsungnya sudah disiapkan tim kreatif: “Deklarasi Sumpah Pemuda: Mahasiswa Indonesia Bersatu Melawan Hoaks!”.

Namun, jika jika diamati agak jeli saja, pemandangan itu akan terasa sangat janggal. Kejanggalan pertama bukan pada orasinya yang miskin substansi, melainkan pada aspek sosiologis-tekstil. Jaket-jaket almamater yang dipakai para “mahasiswa” itu tampak memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan tubuh pemakainya. Ada seorang pemuda berbadan kurus kering, namun jaket almamater dari Universitas Bina Semesta Informatika (UBSI) yang melekat di tubuhnya berukuran XXL, menjuntai ke bawah hingga lutut seperti daster komedi. Di sudut lain, seorang pria berotot kekar dipaksa masuk ke dalam jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira) berukuran S yang kancingnya hampir copot akibat menahan tekanan dada.

Lebih parah lagi, atmosfer intelektual yang biasanya memancar dari demonstrasi mahasiswa sejati sama sekali absen. Tidak ada bau buku perpustakaan. Gerakan mereka bukan gerakan demonstran dengan penjiwaan isu yang mereka suarakan. Lonjakan-lonjakan mereka lebih mirip kuda yang menarik delman. Tidak ada pandangan tajam penuh keresahan atas subsidi BBM yang dicabut atau harga beras yang mencekik leher rakyat. Yang ada hanyalah tatapan kosong, sesekali melirik jam tangan, seolah-olah sedang menunggu giliran absen kerja di pabrik.

Seorang jurnalis muda yang jeli, bermodalkan kamera ponsel dan rasa penasaran yang tinggi, menyelinap ke dalam kerumunan. Ia mendekati pemuda berjaket Undira yang kancingnya hampir copot tadi.

“Permisi, Mas. Dari kampus mana?” tanya si jurnalis ramah.

Pemuda itu tergagap. Matanya berputar liar mencari contekan di langit-langit Jakarta. “Eh… saya… dari kampus Partai Sohor, Mas,” jawabnya polos tanpa beban, menyebut nama sebuah partai politik baru yang dipimpin anak mantan presiden.

Jurnalis itu mengernyitkan dahi. “Partai? Ini kan jaketnya tulisan dan logonya Universitas Dian Nusantara, Mas.”
“Oh, iya itu maksudnya! Undira!” jawab si pemuda, buru-buru membetulkan posisi kerah jaketnya.

“Saya… saya angkatan… pokoke angkatan yang masuk pas corona kemarin lah, Mas.”

Tak jauh dari sana, sang jurnalis beralih ke seorang perempuan muda bernama Sari yang mengenakan jas almamater biru berlogo UBSI. “Mbak, menanggapi pidato Mas Rafi Ahmadani tentang Sumpah Pemuda tadi, bagaimana peran mahasiswa dalam mengawal isu agraria saat ini?”

Sari berkedip tiga kali. Senyumnya kaku. “Aduh, Mas, kalau soal agraria-agraria itu saya kurang tahu. Saya di sini cuma diajak temen. Katanya disuruh pakai baju ini, terus nanti siang kelar acara dapet nasi kotak sama uang jalan seratus ribu. Lumayan buat beli kuota TikTok,” bisiknya jujur, tanpa menyadari bahwa mikrofon jurnalis masih dalam posisi menyala.

Bocoran wawancara itu meledak di media sosial dalam hitungan menit. Jagat virtual geger. Istilah baru lahir dari rahim algoritma netizen yang maha kejam: “DEMONSTRASI MAHASEWA”. Istilah yang dengan sangat akurat menggambarkan konversi status dari “Mahasiswa” yang berbasis idealisme menjadi “Mahasewa” yang berbasis tarif harian.

***

Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, di sebuah beranda kayu yang teduh di Pesantren-Sekolah Alam, seorang pria berpeci sedang menatap layar gawainya. Pria itu adalah Ustadz Suud. Di hadapannya, hamparan tunas bawang merah yang makin menghijau menjadi kontras yang benderang dengan kepalsuan yang baru saja dipertontonkan di Bundaran HI.

Beliau menghela napas panjang. Sebagai seorang pendidik, dadanya berdenyut linu. Fenomena “Mahasewa” ini bukan sekadar lelucon tekstil tentang jaket yang kebesaran. Ini adalah sebuah tragedi kebudayaan dan kematian nalar kritis generasi muda.

“Bagaimana mungkin momentum sakral sekelas Sumpah Pemuda, yang dulu dilahirkan dari darah dan air mata kaum pergerakan, kini direduksi menjadi komoditas visual demi konten agensi hiburan?” gumamnya lirih pada angin yang berhembus pelan.

Ustadz Suud sebagaimana mantan aktivis dan nyaris tak pernah absesn dari agenda demonstrasi organisasi ekstra kampusnya dulu, tahu persis ke mana arah permainan ini. Ketika mahasiswa yang asli—yang memiliki KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) sah dan otak yang diasah di ruang kuliah—memilih untuk apatis, maka ruang kosong itu tidak akan dibiarkan menganggur. Hukum fisika politik berlaku: kekuasaan membenci kekosongan.

Saat mahasiswa asli sibuk berburu coffee shop yang estetik untuk pamer laptop, atau terjebak dalam apatisme akut berkedok “menjaga kesehatan mental”, maka panggung jalanan akan diambil alih oleh agensi. Isu-isu rakyat disabotase. Momentum hari besar nasional dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki syahwat politik tersembunyi untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan secara instan dan teatrikal, dengan uang receh dibandingkan dengan uang besar yang mereka dapatkan dengan menyelewengkan kekuasaan.

Keesokan harinya, gelombang badai kritik tak terbendung lagi di dunia nyata. Instansi Keamanan Pusat selaku pihak yang mengundang para tokoh langsung sibuk melakukan investigasi internal dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

“Kami tidak tahu kalau ada mobilisasi massa palsu oleh pihak ketiga. Kami menerima kritik publik dengan lapang dada sebagai bahan evaluasi,” ujar juru bicara lembaga tersebut dalam jumpa pers yang tampak muram.

Rafi Ahmadani pun segera mengunggah video klarifikasi di akun media sosial pribadinya yang memiliki puluhan juta pengikut. Dengan wajah yang dikondisikan se-melancholis mungkin, tanpa senyum porselennya yang biasa, ia berucap, “Saya mohon maaf dari lubuk hati saya yang paling dalam atas kegaduhan yang terjadi. Saya hadir di sana murni memenuhi undangan kepemudaan, dengan niat tulus untuk memaknai Sumpah Pemuda. Saya sama sekali tidak tahu kalau teman-teman di sana ternyata… ah, sudahlah. Saya menghormati aspirasi mahasiswa yang asli.”

Namun, publik sudah makin paham. Netizen kadung menyematkan stempel satire tingkat tinggi. “Besok-besok kalau mau sewa mahasiswa, minimal ukur dulu lingkar dadanya, Bos! Biar estetikanya dapet!” tulis salah satu komentar teratas di platform X yang mendapat ratusan ribu tanda suka.
Puncak dari segala komedi satir ini terjadi dua hari kemudian dalam acara Nusantara Youth Summit di gedung kesenian Jakarta. Rafi Ahmadani tengah berdiri di atas panggung megah bersama pejabat kementerian. Ketika ia baru saja mengucapkan kata “generasi emas”, tiba-tiba seorang pemuda dari bangku penonton berdiri tegak.

Bukan mengenakan jaket almamater sewaan yang kedodoran. Pemuda ini memakai kaos oblong hitam biasa. Ia mengacungkan tiga jari ke udara, menunjuk tepat ke arah panggung dengan tatapan mata yang menghujam tajam.

“Turun! Turun! Jangan rampas panggung kami dengan kepalsuan!” teriak pemuda itu dengan suara bariton yang menggema di seluruh ruang gedung.

Petugas keamanan segera berlari, memiting dan menyeret pemuda itu keluar ruangan agar acara yang dihadiri para pejabat elit tetap terlihat kondusif. Namun, teriakan satu orang mahasiswa asli itu justru menjadi lonceng kematian bagi sandiwara “Mahasewa”. Rekaman video protes spontan itu viral lebih cepat daripada video klarifikasi mana pun.

***

Di sebuah ruang kelas ilmu politik di FISIP, Dr. Husni berdiri di depan papan tulis, menatap puluhan mahasiswanya yang duduk dengan wajah agak tersipu. Kasus mobilisasi massa palsu itu sengaja beliau angkat sebagai studi kasus utama mata kuliah Teori Kekuasaan dan Gerakan Sosial.

“Kalian lihat fenomena kemarin?” tanya Dr. Husni sambil mengetuk layar proyektor yang menampilkan cuplikan berita permintaan maaf para tokoh di media sosial. “Itu adalah tamparan keras. Bukan hanya untuk mereka yang menyewa, tetapi tamparan paling keras justru mendarat di pipi kalian masing-masing sebagai mahasiswa!”

Ruang kelas mendadak hening. Tak ada suara ketukan papan tik laptop atau bisik-bisik di barisan belakang.

“Ketika kalian, mahasiswa yang memiliki akses ilmu pengetahuan, memilih diam menghadapi ketidakadilan hukum, memilih abai terhadap penderitaan petani dan nelayan, maka identitas suci kalian akan dibeli oleh kapitalis untuk dijadikan pajangan estetis di pusat kota!” lanjut Dr. Husni dengan nada suara yang berwibawa namun menembus ulu hati. “Jas almamater kalian, yang dulunya ditakuti oleh para penguasa korup, kemarin diturunkan derajatnya menjadi sekadar kostum figuran film komedi bertarif seratus ribu rupiah plus nasi kotak!”

Beliau berjalan mendekati jendela, memandang keluar ke arah halaman kampus yang luas. “Di negeri yang waras, kejadian manipulasi publik yang memalukan seperti ini mestinya membuat para pejabat yang terlibat, atau mereka yang memfasilitasi gerakan bodong ini, menundukkan kepala sedalam-dalamnya karena malu, lalu meletakkan jabatan mereka dan mengundurkan diri! Pengunduran diri adalah ekspresi tertinggi dari etika politik yang sudah lama mati di republik ini.”

Dr. Husni berbalik kembali menghadap kelas, matanya berbinar penuh harap. “Tetapi ada hikmah besar dari robeknya topeng kepalsuan kemarin. Peristiwa ‘Mahasewa’ ini harus menjadi titik balik. Sebuah momentum kesadaran baru bagi kalian. Jangan lagi mau dinabobokan oleh kenyamanan akademis yang semu. Bangkitlah dari apatisme! Jadilah kembali kekuatan kritis yang independen, yang menyuarakan isu-isu riil rakyat banyak, bukan menjadi ornamen kekuasaan yang bisa disewa dengan ukuran jaket yang kedodoran!”

Kata-kata sang dosen menggantung di udara ruang kuliah, meresap ke dalam benak anak-anak muda yang selama ini terbuai mimpi fana media sosial. Hari itu, di ruang kelas ilmu politik, sebuah kesadaran baru telah lahir dari rahim sebuah satire politik yang memalukan di pusat ibu kota. Panggung pergerakan sejati harus direbut kembali dari tangan para agensi hiburan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *